Kriiiiiiinggggg....!!!
Jam weker yang terletak diatas meja nakas disamping kanan tempat tidurku berbunyi nyaring, aku terlonjak dari atas tempat tidurku dan buru-buru mematikan bunyi lengkingan jam weker itu sebelum sempat menulikan kedua telingaku. Aku beranjak dari spring bed-ku, keringat dingin membasahi hampir seluruh tubuhku. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, suatu kekhawatiran dan ketakutan menghinggapi pikiranku.
“Mimpi apa gue semalam ?” tanyaku lebih kepada diriku sendiri sembari mengingat-ingat mimpi aneh yang kualami semalam. Great ! aku tak ingat sama sekali tentang mimpi itu, rupanya otakku seperti mati saat ini. kosong melompong, tak berisi sama sekali.
15 menit kubiarkan berlalu dengan sia-sia. Aku masih enggan beranjak dari atas spring bed merah marunku ini. sinar matahari mulai masuk melalui celah-celah jendela kamarku menandakan bahwa hari sudah semakin siang. Ini sudah yang ke lima kalinya aku mendengar bunyi gedoran pintu dari luar kamar lalu disusul oleh suara mama, papa, bahkan Lita saudara kembarku yang memang memilih untuk tidak sekamar denganku turut andil untuk membangunkanku. Aku tak peduli. Otakku masih sibuk mengingat mimpi itu. semenit, dua menit, lima menit aku sama sekali tak mampu mengingatnya. Oh sial ! ingatanku memang payah, gerutuku. Setelah itu baru kuputuskan untuk segera mandi dan bersiap-siap pergi ke sekolah karena waktu sudah menunjukkan pukul 05.30 pagi.
“Let, kok melamun ? kamu kenapa, sayang, lagi gak enak badan ?” tanya mama ketika melihatku melamun sambil menatap kosong pada piring yang sudah terisi makanan di hadapanku. Aku menggeleng lemah, saat ini pikiranku memang sedang kacau balau, kalut dan seperti tak berfungsi. Oh entahlah.
“Aneh tau gak sikapnya kak Leta pagi ini. Tadi pagi aja dibangunin sampai 5 kali juga gak digubris. Mana yang bangunin pada heboh tuh kak, gue, mama sama papa, tapi tetep aja lo gak bangun-bangun.” celoteh Lita. Beda kelahiranku dengan Lita hanya berkisar setengah jam dan yang pasti akulah yang lebih dulu terlahir ke dunia ini. Aku menatapnya sekilas kemudian menoleh pada mama yang duduk tepat disamping kiri Lita.
“Ma, Leta berangkat dulu ya,” kemudian aku beralih kepada papa yang seperti biasa sedang sibuk dengan koran paginya. “Pa, Leta berangkat sekolah dulu. Yuk, Lit, kita berangkat.” Ajakku sambil menoleh kearah Lita. Lita menatapku bingung, mata kecilnya melirik jam tangannya.
“Mavhiih jhamm seghine jughak, kak, lo mavu bhantvuin pakh Sam beresh-beresh ?!” tanya Lita dengan mulut penuh. Aku tak peduli, segera kulangkahkan kakiku menuju pintu rumah saat kudengar teriakkan nyaring Lita. “Kakakkk, tungguin gue. Ma-pa, Lita sama kak Leta berangkat dulu. Assalamu’alaikummm !!!”
“Wa’alaikum salam,” Jawab papa-mama serentak. “Hati-hati di jalan, sayang.” Kali ini yang terdengar hanya suara mama.
“Iya, Maaa !!!” balas Lita cepat.
###
Saat ini aku dan Lita sedang menunggu bus di halte depan kompleks perumahan kami. Lagi-lagi rasa penasaran akan mimpi itu muncul kembali. Aku berusaha sebisa mungkin untuk mengingat setiap kejadian aneh di mimpi itu, mimpi itu menjelma bak potongan puzzle yang tercerai berantakan kesana kemari dan aku yang masih sibuk merangkainya dengan sabar hingga membentuk potongan siluet kejadian yang utuh. Aku menghembuskan nafas lelah. Lita melirikku, kulihat bibirnya terbuka mungkin ia hendak mengatakan sesuatu tetapi akhirnya tertutup kembali. Aku memejamkan mataku serapat mungkin. Suatu kejadian tiba-tiba melayang-layang di kepalaku...
Udara disekitar sini sangat panas, kulitku terasa seperti terbakar. Butir-butir keringat mengaliri dahiku. Aku mengkibas-kibaskan kedua tangan kehadapan wajahku, berharap dapat membantu mengurangi rasa panas ini. Hari ini aku duduk-duduk di bangku taman kota seorang diri. Aku memang sengaja menghabiskan waktu senjaku seperti ini, memandang beberapa orang yang berlalu lalang dihadapanku dan mendengar suara bising kendaraan yang terdengar dari kejauhan.
Aku menyapukan pandangan hampir keseluruh sudut taman. Mataku tertuju pada seorang penjual ice cream di seberang jalan. Aku menghampiri penjual itu karena merasa tak kuat lagi menahan setiap godaan kelezatan ice cream yang menari-nari di mataku. Aku menyebrang jalan tanpa melihat kekanan dan kekiri terlebih dahulu, seseorang mendorongku dengan keras hingga aku terjungkal diatas aspal. Terdengar bunyi decitan ban mobil yang memekakan telinga. Perlahan-lahan aku bangkit berdiri dan menoleh menatap mobil yang hampir saja menabrak tubuhku. Tuhan kali ini aku masih dapat bernafas lega, nyawaku masih terselamatkan.
“Makanya hati-hati kalau mau nyebrang jalan. Tengok kanan dan kiri dulu.” Kudengar suara dengan nada sinis disebelah kananku. Aku mengalihkan pandangan menatap cowok itu dengan ekspresi bingung. ‘nih cowok sinis amat. Kenal juga enggak.’ Dumelku.
“Kali ini nyawa lo masih terselamatkan, esok, lusa atau kapan jika lo mengulangi kebodohan seperti ini lagi sudah dipastikan nyawa lo gak akan bisa selamat,” cowok itu berhenti sejenak memandangku dengan pandangan menyelidik. “karena lo, Avioletta Andriana, sudah terpilih.” Lanjutnya. Aku memandanganya tak percaya, mulutku sudah terbuka tetapi tertutup kembali karena sampai detik ini pun aku masih tak mengerti apa yang sedang dibicarakannya.
“Pakilah kalung ini.” ucapnya seraya menyodorkan sebuah kalung perak berbandul bintang yang bertuliskan ‘wish’ ditengah-tengahnya. Aku menaikkan sebelah alisku, ‘Apa sih maksud cowok ini !!?’
“Emm, ini maksudnya apa ya ?” akhirnya aku memberanikan diri untuk buka suara.
“Jangan banyak tanya !” hardiknya kasar. “Pakailah kalung ini jika lo gak mau nyesel nantinya.” Ia segera berlalu dari hadapanku bahkan sebelum aku mengucapkan terima kasih kepadanya karena telah menyelamatkanku hari ini. Aku memandangi kalung cantik yang kini sudah berpindah kepemilikannya padaku. Aku hendak memakainya, tetapi hatiku menolaknya seakan takut jika akan terjadi sesuatu pada diriku setelah memakainya, apalagi jika mengingat bahwa kalung itu adalah pemberian dari seseorang yang belum kukenal. Aku segera memasukkan kalung itu kedalam saku seragam putih-abuku, iseng aku menoleh kearah cowok itu pergi, tetapi siluet tubuhnya sudah tak terlihat. Aneh.
“Kak Leta ??” ujar Lita sambil mengibaskan tangan kanannya didepan mukaku. “Woooo kakak, lo ngelamunin apa sih ?” aku terperanjat dari tempat dudukku. Jantungku berdetak 2 kali lebih cepat dari yang sebelumnya. “Yeah ! aku ingat semuanya.” Girangku.
“Gue gak ngelamunin apa-apa kok.”
“Bo’ong. Dari tadi gue ngomong tapi gak ada respon dari kakak.”
Aku terdiam, percuma saja berdebat dengan Lita pagi-pagi begini yang ada malah menghabiskan tenagaku. Aku merogoh saku seragamku untuk mengambil handphoneku yang ada disana. Tanganku meraih sesuatu, sesuatu itu sangat dingin dengan ujungnya lebih lebar dan runcing. Aku mengeluarkan benda itu dari sakuku, mataku terbelalak melihatnya. Kalung putih berbandul bintang dengan tulisan’wish’ tercetak jelas dibagian tengahnya, sama persis seperti mimpiku.
“Wiiih, bagus banget. Dari pacar lo ya, kak ?” pekik Lita dengan mata berbinar. Aku mendelik kearahnya.
“Apaan sih ! eh iya tolong bantu pasangin kalung ini ya, Lit.” Aku berbalik, mengikat rambut panjangku dengan tali rambut. Dapat kurasakan logam dinginnya terasa berat di leherku. “Makasih. Cantik gak ?” Lita mengangguk samar. Aku tersenyum, tetapi hanya sesaat setelah itu ada reaksi aneh didalam tubuku. Aku memejamkan mata sejenak, kemudian membukanya lagi ketika kudengar suara klakson dan teriakkan kenek bus yang keras.
###
Seharian ini aku merasa aneh. Aku seperti tak mengenali diriku sendiri, aku juga merasa adanya suatu keanehan dengan kedua mataku. Seperti waktu istirahat saat ini, ketika aku duduk seorang diri dibawah pohon waru tua yang tumbuh di halaman sekolahku, tanpa sengaja aku menangkap bayangan seorang wanita cantik didepan pintu aula yang letaknya paling terpencil dari bangunan sekolahku, yaitu pojok kiri atas samping koridor tepatnya di lantai 3.
Aku terus memandangi wanita cantik bergaun putih dengan mahkota kecil yang tersemat diatas rambut cokelatnya yang tergerai panjang ala ratu-ratu zaman dahulu. Pandangan mata wanita itu tajam tetapi kosong, tak fokus, dan terpencar aura kesedihan disepasang matanya. Tiba-tiba angin berhembus disekitarku membuat bulu romaku berdiri ngeri. Aku dapat merasakan hawa negatif disekitarku, kulirik aula yang gelap tempat wanita itu berdiri, kosong, wanita muda itu rupanya sudah meghilang. Tanpa basa-basi lagi aku segera melangkahkan kakiku menuju ke ruang kelasku di lantai 2 yang letaknya sama sekali tidak strategis karena dekat dengan ruang guru II.
###
Tidak ada komentar:
Posting Komentar