“Ma...” ujarku tanpa kusadari ketika kami sedang makan malam bersama di ruang makan.
“Ada apa, Let ?” tanya mama bingung. Aku ingin jujur kepada mama, tetapi aku juga takut merusak suasana makan malam hari ini. Aku menggeleng sambil menunduk menatap mangkuk soupku yang tinggal setengah.
Sejujurnya aku takut melihatnya, melihat bayangan yang sedari tadi menggangguku. Berseliweran diantara kami semua, tetapi sayangnya hanya aku saja yang menyadari hadirnya sosok menyeramkan itu. Bulu romaku berdiri, hawa dingin menyergap tubuhku dengan telak. Kedua mata besar dan lebar itu masih memandangku tajam, ada bara kebencian didalamnya.
“Avioletta Andriana, Avioletta Andriana...” suara nyaring itu kembali memanggil-manggil namaku. Refleks ku tutup kedua telingaku dan memejamkan mata sekuat-kuatnya.
“TIDAAAAKK-TIIIDAAKK... JANGAN GANGGU AKUU. PERGIII !” mama, papa, dan Lita memandangku heran, terkejut dan ekspresi-ekspresi lain bermain-main di wajah mereka semua.
“Kamu kenapa, sayang ? siapa yang pergi ?” suara berat papa sarat kekhawatiran. Aku menggeleng, tangisku pecah ketika mama memelukku dan membelai kepalaku dengan lembut.
“Maammaa...” aku menangis dalam pelukan mama. “Maamaa, suruh dia pergiii.” Aduku masih dengan menangis sambil menunjuk sesosok bayangan hitam yang berdri tepat dibelakang mama. Semua orang yang ada disana seketika membisu, menatapku penuh tanda tanya.
“Dia siapa, sayang ? disini gak ada siapa-siapa selain kita.” Ujar mama lembut.
“Diaaa !!” pekikku, setelah itu hanya kegelapan yang kurasakan.
###
“Lo siapa ? kenapa lo selalu gangguin gue ? apa yang lo mau dari gue, hah ?” tanyaku dengan suara parau. Sosok yang berdiri didepanku itu menatapku acuh senyum sinisnya masih tersungging di wajahnya yang kaku.
“Gara-gara lo hidup gue jadi tersiksa !! shit. Apa yang lo mau dari gue ? cepat katakan !!!” suaraku sedikit bergetar.
“Lo gak perlu tau siapa gue yang sebenernya dan perlu lo inget gue gak mengharapkan apa-apa dari lo. Dan asal lo tau inilah hidup lo, ini takdir lo, siap gak siap lo harus hadepin ini. Avioletta Andriana, lo...” lelaki itu sengaja menggantung kalimatnya membuatku semakin penasaran. “UDAH TERPILIH !!” tandasnya tegas.
Aku membuka mataku perlahan, mengerjapkannya lambat berusaha menghalau sinar mentari pagi yang menyilaukan. Aku melirik jam yang tergantung di dinding. Hah ! jam 9 !!! aku mengamati sekitarku. “Rasanya ada yang berbeda, asing. Dimana aku saat ini ?”
“Lit, gue sekarang ada dimana ?” tanyaku pada Lita yang terlihat sibuk dengan novelnya. Lita menutup novelnya dan menghampiri ranjangku.
“Kakak sekarang ada di rumah sakit. Kakak baik-baik kan ?” tanyanya begitu khawatir. Aku hanya tersenyum.
“Mama sama papa dimana ?”
“Masih ada urusan sama dokter yang nanganin kakak. Kak, sebenernya ada...” aku memotong ucapan adikku dengan cepat karena aku sudah tau apa yang akan Lita tanyakan kepadaku.
“Kakak capek, kakak mau istirahat dulu.” ujarku lemas. Lita memandangku sejenak, mata indahnya yang begitu mirip dengan mataku sedang menatapku tajam, lalu cewek mungil itu mengangguk pengertian.
Tuhan, bukannya aku mau mengelak dari semua kenyataan. Jujur aku masih bingung dengan ini semua, aku sendiri belum mengerti ‘apa yang sebenarnya terjadi ?’ pada diriku...
###
Malam ini merupakan malam terakhirku berada di rumah sakit ini. Hahh... rasanya lega sekali bisa keluar dari tempat yang membosankan seperti ini. Aku, Lita dan mama sedang sibuk mengemasi semua barang-barang ‘kami’, sebenarnya kebanyakan sih terdiri dari barang-barangku selama menjalani rawat inap di RS Bina Sehat selama 4 hari ini. Kami disini hanya bertiga sedangkan papa sedang membayar semua andministrasi di loket pembayaran yang letaknya di lantai utama bagian depan rumah sakit.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.45 malam. Semua keluargaku sudah tertidur, terkecuali aku. Aku turun dari ranjangku untuk mematikan TV yang masih menyala. Sebenarnya aku tak perlu bersusah payah untuk menuju meja TV karena semua alat yang tadinya menempel di tubuhku sudah dicabut oleh perawat sore tadi, tetapi yang membuatku harus bersusah payah adalah kepalaku yang sesekali pening sehingga masih harus terseok-seok saat menghampiri meja TV. Klik. Layar TV yang semula bergambar itu kini terlihat kosong. Setelah itu kesunyianlah yang kurasakan.
Aku menghampiri kaca jendela besar yang terletak di pojok ruanganku tepat disamping kamar mandi. Pandanganku tertuju pada kesenyapan lorong-lorong rumah sakit diseberang ruanganku yang terletak di lantai 5. Dari sini aku bisa melihat lebih leluasa dan jelas suasana rumah sakit saat malam menjelang. Satu kata yang hanya bisa kulontarkan untuk kondisi seperti ini. Seram.
Berbagai pikiran buruk melayang-layang dibenakku. Aku merasa ngeri sendiri membayangkan hal-hal seram dan menakutkan yang tiba-tiba bersarang di otakku. Aku berusaha menepisnya, tetapi bayangan itu tetap tak mau pergi. Sampai-sampai ada seseorang yang menepuk pundakku pelan dari arah belakangku, seketika aku terlonjak, dan lebih terkejut lagi saat melihat sosok yang tadi menepuk pundakku.
“Zett-iii ?” ujarku nyaris memekik saking terkejutnya. Aku menutup mulutku dan menggelengkan kepala kuat-kuat. “Ini tidak mungkin... tidak mungkin !!! Zeti kan sudah ??” Batinku berusaha menyangkalnya tetapi ini nyata. Ini Zeti, sahabatku yang sudah meninggal 3 tahun yang lalu karena kecelakaan yang juga nyaris melibatkan nyawaku.
“Lo gak usah takut sama gue, Ta. Ini gue Zeti, sahabat lo.” Ujarnya kalem sambil menyeringai. Aku semakin takut dibuatnya. Meskipun penerangan disekitarku sangat terbatas, tetapi aku masih bisa melihatnya yang berdiri disampingku dalam balutan seragam SMP-nya yang penuh dengan noda darah yang sudah kering.
“Lo ? Zeti ? tidak mungkin.” Kilahku.
“Ta, ini beneran gue,” ujarnya sembari meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Dingin merambati kedua tanganku yang dipegangnya. “Ini gue Zeti. Lo harus percaya sama sahabat lo sendiri.”
“Tapi lo kan udah meninggal ? ahhh... gue bener-bener kacau.”
“Leta, dengerin gue. Gue emang udah meninggal, udah lama malah, tapi nyawa gue masih belum tenang, Ta, gue masih berhutang penjelasan sama elo.”
“Maksud lo ?”
“Oke gue akan buka semuanya ke elo, tapi gue mohon lo jangan motong omongan gue sebelum gue selesai nyeritain semuanya. Setuju ?” tanyanya, aku mengangguk meskipun aku sendiri belum yakin sepenuhnya. “Dengerin gue, lo pernah mikir gak kenapa akhir-akhir ini selalu ada kejadian aneh yang menimpa elo ?”
Aku mengangguk dan menghembuskan nafas pelan. “So ?”
“Itu karena lo indigo.”
“Ha ? gak mungkin, ngarang lo. Lagian gue bisa ngelihat ‘mereka’ juga baru-baru ini kok.” Bantahku.
“Buktinya sekarang cuman elo kan yang bisa liat gue, cuman elo yang bisa berkomunikasi sama gue dan gue tau, lo pernah didatangi cowok di mimpi lo. Terus tuh cowok ngasih lo kalung berbandul bintang.”
“Kok lo tau, Zet ? ada apa sih sebenernya ini ? cowok aneh-kalung-indigo-elo... arggghhh !!! bisa gila gue.” Aku terduduk lesu disebuah sofa panjang berwarna putih didekat jendela. Zeti menghampiriku dan ikut duduk bersamaku.
“Ini takdir lo, Ta, ini...”
“Stop-stop !!” potongku cepat. “Asal lo tau cowok aneh di mimpi gue juga bilang kayak gitu. Apa coba maksudnya ?” tanyaku sedikit gusar. Zeti memandangku prihatin.
“Karena lo adalah yang terpilih, Ta, karena lo yang nantinya bisa menyelamatkan mereka semua...”
“Menyelamatkan mereka ? siapa ?” tanyaku lagi.
“Nanti lo juga tau.” Ujar Zeti, lalu segera berbalik dan menghilang begitu saja tanpa bisa kucegah.
###
Tidak ada komentar:
Posting Komentar