Langit Jingga
Beberapa bulan yang lalu...
“Kenalin, namaku Jingga. Nama kamu siapa ?” sapa suara lembut itu seakan menggelitik telingaku saat aku baru saja menghempaskan tubuhku diatas kursi berwarna coklat tua itu. Ia tersenyum ramah ke arahku. Aku balas tersenyum ke arahnya, kemudian menjabat tangannya.
“Aku Langit,” Setelah menyebutkan namaku, aku terdiam sejenak sambil mengamati wajah manis didepanku.
“Eh Langit, nama kita serasi banget ya. Aku Jingga dan kamu Langit, kalo disatuin jadi Langit Jingga. Keren ya ?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri, tetapi mampu mengundangku untuk menjawabnya.
“Ya,” kataku sambil mengangguk pelan.
◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄
Langit dan Jingga. ‘Langit Jingga’, seperti sebuah perpaduan yang sangat kontras. Dengan semburat warna kuning kemerahan yang menampakkan kehangatan diseluruh penjuru langit yang sedang bertransformasi menuju titik kepekatan dunia. Langit yang bertaburan warna jingga. Seperti sesuatu yang tak terpisahkan. Sesuatu yang sangat indah, hasil goresan tangan Sang Pencipta alam raya. Takdir. Tuhan mempertemukan Langit dan Jingga karena takdir, begitu juga dengan Tuhan mempertemukan kita. Aku dan dia. Langit dan JinggaNya yang lain.
Waktu bergulir begitu cepat, menyisakan latar yang tak dapat terulang kembali. Semuanya berjalan, mengendap perlahan-lahan tanpa kita sadari. Kita tak pernah mengerti, ada rahasia apa dibalik waktu, ada rahasia apa dibalik hari esok, kita tak pernah tahu. Tahu-tahu kita sudah menjadi tokoh utamanya. Memerankan semua adegan disetiap episodenya.
“Langit, kamu mau pulang bareng aku ?” tanya Jingga. Aku mendongak ke arahnya sebentar, kemudian menggeleng sambil melanjutkan kegiatanku memasukkan buku-buku pelajaran yang masih berserakan diatas meja. Ruang kelas XI IPA 2 sudah mulai sepi. Satu-persatu murid beranjak dari kelas, kini yang tersisa hanya lima orang termasuk aku dan Jingga.
“Lho katanya mau pulang ?” tanyaku sambil melirik ke arah Jingga yang masih bergeming di tempatnya.
“Nggak. Aku mau nungguin kamu saja,” jawabnya. “Aku bantu deh biar nggak kelamaan.” Pintanya sambil mengambil alih benda-benda yang ada diatas mejaku. Aku menghentikan kegiatanku begitu juga dengan Jingga.
“Kalo mau pulang duluan saja nggak pa-pa kok,”
“Aku nggak mau ninggalin teman aku sendirian,” selanya. Aku menghembuskan napas pelan, lalu beranjak dari tempat dudukku.
“Makasih ya, Jingga.” Dia tersenyum ke arahku, lalu mengangguk.
“Demi persahabatan apapun kulakukan,” ujarnya tegas. Kedua tangan mungilnya menggenggam kedua tanganku. Untuk sesaat kita hanya terdiam, memandangi satu sama lain.
Aku sempat tertegun dengan ucapannya barusan. Persahabatan ? dia menganggapku sahabat ? benarkah ? ya Tuhan, jujur aku masih belum percaya. Setelah sekian lama aku mendambakan sebuah persahabatan dan sekarang Kau mengabulkan keinginanku untuk memilikinya. Terima kasih Tuhan...
“Kamu kenapa, Langit ?” tanyanya membuyarkan lamunanku, aku menggeleng cepat-cepat dan berusaha memasang senyum supaya dapat meyakinkannya kalau memang tak terjadi apa-apa dengan diriku. “Yaudah kalo nggak ada apa-apa, ayo kita pulang ntar keburu sore !” serunya. Aku pun beranjak dari tempat dudukku dan segera mengimbangi langkah kakinya yang sudah mendahuluiku.
◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄
Tak mudah untuk kita hadapi perbedaan yang berarti...Tak mudah untuk kita lewati rintangan silih berganti...Kau masih berdiri...Kita masih disini...Tunjukkan pada dunia arti sahabat...
Persahabatan itu indah, seindah bias warna pelangi di angkasa ruang. Persahabatan itu bagaikan permadani yang terhampar hijau di kaki langit yang dapat menyejukkan setiap mata yang memandang. Persahabatan itu juga seperti birunya langit yang belum ternodai polusi jiwa. Persahabatan adalah makna abadi yang sangat indah artinya jika dirasakan dalam hati sanubari.
Ia meremas kedua bahuku dengan lembut. Kutatap wajahnya yang manis melalui celah-celah mataku yang basah. Ia tersenyum saat menghapus air mata yang menentes di pipiku.
“Langit kamu nggak boleh kayak gini terus, kamu harus bangkit, kamu harus kuat. Tunjukkan bahwa kamu anak yang tegar, Langit yang kukenal nggak cengeng seperti ini, Langit yang kukenal selalu ceria, selalu tersenyum, selalu cerah dan nggak akan ngebiarin dirinya berlarut-larut dalam kesedihan. Langit nggak selamanya mendung, aku yakin dibalik awan hitam yang menyelimuti langit, disana terhampar awan cerah yang dapat kapan saja menghapus mendung dan membentangkan pelangi keceriaan diatasnya.”
“Tapi aku nggak setegar itu, Jingga, aku manusia lemah. Aku benci mereka. Aku benci keputusan sepihak ini !!!” Ucapku dengan suara bergetar hebat. Tangisku semakin pecah, tetapi Jingga tetap berusaha menghapus jejak-jejak air mata yang keluar dari mataku.
“Nggak ada manusia yang sempurna, yang ada hanyalah manusia yang mencoba sebisa mungkin untuk melakukan yang terbaik. Ingat Langit, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan, kita sebagai makhlukNya nggak bisa berbuat apa-apa untuk menghindar apalagi melawanNya, yang kita bisa adalah berusaha. Itu juga yang dialami kedua orang tua kamu, mungkin bagi mereka perpisahan adalah jalan terbaik meskipun menurutmu itu sangat egois.” ujar Jingga bijak. Aku terdiam setelah mendengar ucapannya itu. Aku berusaha mencerna setiap kata-perkata yang keluar dari mulutnya.
Tuhan sudah menggariskan hidup makhlukNya. Semua yang terjadi selanjutnya merupakan bagian dari takdirNya. Kita hanya boneka yang digerakkan lewat seutas tali oleh tangan-tangan Tuhan. Kita tak bisa bergerak sendiri tanpaNya.
“Langit yang mendung akan tergantikan oleh Langit yang cerah, would you ?” tanyanya sambil mengerling ke arahku. Aku tersenyum malu sambil menghapus sisa-sisa air mata yang masih menggantung di kedua pelupuk mataku.
“Aku akan berusaha, Jingga, terima kasih.” Ujarku tulus sambil memeluknya erat-erat seolah-olah takut kehilangannya.
Tuhan kau boleh mengambil semuanya dariku. SEMUANYA. Aku ikhlas saat Kau mengambil kebahagiaan keluargaku, tetapi aku tak akan membiarkanMu mengambilnya dariku karena dia adalah harta yang paling berharga bagiku. Dia sahabatku dan aku akan melakukan apa saja demi mempertahankannya agar selalu berada di sisiku.
◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄
Orang kuat adalah orang yang mampu berdiri sendiri dan menanggung beban hidupnya sendiri. Ia adalah orang yang tak menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Namun, ada yang lebih kuat daripada orang kuat. Mereka adalah orang-orang yang dapat menanggung beban hidup orang lain.
Mungkin disinilah letak kesalahanku. Aku terlalu menempatkan diri sebagai sang tokoh utama—menurut versiku—padahal sebenarnya tidak. Disini masih ada Jingga. Sebenarnya dia juga tokoh utama dalam kisah ini, tetapi ia lebih senang menjadi figuran atau sebisa mungkin menjadi tokoh yang tak tersorot. Seperti pengertian katalis dari suatu proses kimia, zat yang ditambahkan untuk mempercepat proses laju reaksi, tetapi tidak ikut bereaksi atau tidak melibatkan zatnya di hasil akhirnya—dia berperan dalam pembentukan cerita ini, tetapi dia tak mau menampakkan dirinya.
Aku terkadang merasa tak enak dengannya. Aku selalu menceritakan apa saja tentang diriku, aku selalu menumpahkan semua air mataku kepadanya, aku selalu menumpahkan semua yang kupikirkan kepadanya sampai-sampai ia tak punya cukup celah untuk menceritakan tentang dirinya sendiri atau menceritakan apa saja yang sedang dipikirkannya. Aku egois ? ya aku memang egois, sangat egois.
Aku memonopoli semuanya dan tak memberikan kesempatan baginya untuk menumpahkan semua keluh kesahnya. Dia memang tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa, apakah itu dapat dipercaya ? TIDAK. Aku tahu dia tidak baik-baik saja. Aku tahu sebenarnya dia juga sedang mempunyai masalah. Aku memang jahat karena tak memberikan dia kesempatan untuk bercerita lebih banyak lagi. Kita memang sahabat, kita tak terpisahkan, tetapi aku merasa ada sebuah tembok pemisah yang menghalangi kita. Tembok itu memang transparan, tetapi aku dapat merasakannya.
“Kamu betah banget sih, Lang, temenan sama si perek satu itu.” celetuk Dinda sambil merangkul bahuku dari belakang. Aku menghentikan langkahku sejenak, kemudian berbalik ke arahnya sambil menaikkan sebelah alisku.
“Siapa yang perek ?”
“Oh, jadi kamu belum tahu kelakuan bejat sohib kamu itu ? ckck sahabat macam apa dia itu, udah perek, sekarang berani-beraninya ngebohongi sahabatnya sendiri.” Tukasnya lagi, kali ini dengan nada yang dibuat seolah-olah ia ikut prihatin dengan ‘musibah’ yang sedang menimpaku.
“Aku nggak tahu apa maksud kamu.” Jawabku cepat, kemudian segera berlalu dari hadapannya. Baru beberapa langkah, aku kembali berhenti saat satu tangan mencekal pergelangan tanganku dengan kuat. “Apa sih maumu ?!!” bentakku begitu aku menghadap ke arahnya. Dinda sangat terkejut saat mendengar bentakkanku yang teramat keras tadi, tetapi aku tidak peduli.
“Ayo ikut denganku, akan kutunjukkan siapa Jingga yang sebenarnya,” Ia menyeret tanganku dan dengan terpaksa aku menurutinya meskipun dengan langkah yang tidak ikhlas. Kita berdua berhenti didepan mading sekolah yang saat itu dipenuhi murid-murid dari berbagai penjuru kelas. Berpasang-pasang mata yang tadinya asik dengan berita di mading tersebut, kini beralih menatapku, sebagian ada yang memandangku dengan pandangan prihatin, sebagian lagi ada yang melirikku dengan pandangan sinis. “Tuh liat.” Tunjuk Dinda pada salah satu mading yang terlihat sangat diminati hampir seluruh murid. Aku tertegun saat membaca sebuah tulisan bercetak tebal yang diatasnya juga terdapat sebuah foto yang menampilkan wajah seorang gadis remaja yang begitu kukenal sedang berpelukan mesra dengan pria yang sudah berumur.
Artikel Terbaru : Seorang siswi SMU 35 yang bernama Galina Jingga Qaisara, terlihat sedang bermesraan dengan seorang pria di sebuah diskotik di daerah Jakarta Barat.
Setelah membaca artikel itu, kepalaku menjadi sangat pening. Aku mengucek kedua mataku, berusaha meyakinkan penglihatanku sekali lagi siapa tahu ada yang terlewat disana atau mungkin itu hanya ilusi dan ya Tuhan betapa menyesal dan marahnya aku saat mengetahui itu memang benar-benar nyata. Aku segera berlari sekuat tenaga, langkah kakiku membawaku tanpa arah yang jelas, entah kemana yang penting aku harus segera meninggalkan tempat ini. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi ? kenapa harus Jingga ? aku tahu Jingga nggak mungkin seperti itu, ia anak yang baik. Pasti ada yang menjebaknya.
(BRUK) langkahku terhuyung saat menabrak sesuatu dengan keras. Hampir saja aku terjatuh, jika sosok itu tak segera menangkap tanganku. Aku mendongak untuk menatap sosok itu dan seketika mataku terbelalak saat mengenalinya.
“Langit...” ujarnya dengan suara serak. Kedua matanya sembab, mungkin ia baru saja menangis. Aku menggeleng kuat-kuat sambil menggigit bibir bawahku, ‘Ayo Jingga cepat katakan kalo ini tidak benar. Ayo katakan kalo malam itu kamu sedang dijebak !!!’ Teriakku dalam hati.
“Jingga,”
“Langit, kamu udah tahu semuanya sekarang, aku tahu saat ini kamu pasti berusaha meyakinkan dirimu bahwa ini tidak nyata, ini ilusi dan ini hanya hoax. Tetapi asal kamu tahu, semua yang tertulis disana memang benar, aku melakukannya karena aku mempunyai alasan... aku,”
“Cukup Jingga !!! aku nggak butuh penjelasanmu. Aku menyesal mempunyai teman sepertimu. Dasar cewek perek !!! persahabatan kita berhenti sampai disini saja.” Setelah itu aku segera meninggalkannya seorang diri meskipun dengan berat hati.
Ada apa dengan diriku ini, Tuhan ? Tuhan, kenapa jadi serumit ini ? saat itu juga aku merasa bersalah karena telah meninggalkannya tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Aku menghentikan langkahku dan berbalik memandangnya yang sedang sesenggukan disudut lorong yang masih lenggang ini sehingga dapat terdengar jelas olehku suara isak tangisnya. Ya Tuhan, jujur saat ini aku ingin menghambur lagi ke arahnya dan memeluknya erat-erat, menenangkannya, menghiburnya dan mendengar semua penjelasannya mengapa ia sampai jatuh kedalam jurang kenistaan seperti ini. Tetapi lagi-lagi rasa egoku yang memenangkan semuanya. Meskipun egoku tak sesuai dengan kehendak hatiku yang menyuruhku untuk tetap tinggal, toh dengan bodohnya dan tanpa pikir panjang lagi aku tetap menurutinya.
Sejak saat itu, Langit dan Jingga tak sehangat sebelumnya. Kini yang ada hanyalah Langit dan Jingga yang tak saling mengenal satu sama lain. Langit Jingga yang tak lagi berwarna kuning kemerahan yang dulunya dapat menghangatkan berpasang-pasang mata yang memandangnya, Langit Jingga kini sudah bertransformasi menjadi Langit Mendung, yaitu sebuah perpaduan yang tidak serasi, penuh dengan kepekatan yang manjamah menjadi kekosongan yang menyiksa, melanggar kehendak takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan.
Alasanku untuk terus hidup dan bertahan di dunia ini adalah karena ada bayangmu yang selalu menemaniku disetiap harinya, jadi jika alasan itu hilang karena aku yang tak lagi menemukan bayangmu disetiap harinya, buat apa aku terus bertahan...? (Jingga)
◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄
Aku termenung didepan pusara yang masih basah itu. Tak ada satu tetes air matapun yang keluar dari mataku. Aku masih tak percaya bahwa sosok itu kini telah tiada. Ini semua gara-gara aku, keegoisankulah yang menjadi penyebabnya. Tanpa sadar aku meremas sebuah kertas yang berada dalam genggamanku. Aku masih belum berani untuk membacanya, aku takut jika aku membacanya pertahananku akan runtuh. Aku takut menangis lagi. Aku tak mau mengingkari janji yang sudah kubuat dengan diriku sendiri bahwa apapun yang terjadi aku nggak akan menangis lagi. ‘Langit mendung akan segera tergantikan dengan langit cerah, masih ada pelangi yang indah di keesokan harinya.’ Batinku.
Aku menyerah. Perlahan kubuka lipatan kertas yang mulai lecek tersebut dan mulai membacanya dalam diam. Sedetik, dua detik, tiga puluh delapan detik, satu menit, kucoba meresapi setiap kata yang tertulis disana. Tanpa kuperintah, setetes air mata jatuh membasahi kertas tersebut, semakin lama tetesan tersebut semakin banyak hingga tak terhitung lagi jumlahnya.
Dear Langit,
Aku tak pernah menyesal karena telah mengenalmu. Aku malah bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengenalmu, dan pada akhirnya menjadi sahabatmu. Aku sadar, aku hanya manusia kotor yang tak pantas menjadi sahabatmu, bahkan kau sendiri sampai jijik saat melihatku. Tetapi aku mohon sama kamu, jangan pernah kamu sesali semua yang pernah terjadi diantara kita. Persahabatan itu, biarlah menjadi kenangan diantara kita. Aku tak menginginkan lebih darimu, cukup hanya itu saja. Langit, maafkan aku karena selama ini telah membohongimu, mengecewakanmu, ini sudah menjadi jalanku dan aku telah memilihnya, seberat apapun itu aku tetap harus menjalaninya demi hidupku dan keluargaku. Biarlah aku yang berkorban demi mereka, aku rela meskipun harus menjual diriku sendiri.
Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada disampingmu lagi, tetapi percayalah aku masih selalu ada di hatimu untuk selamanya. Kamu tetap sahabat terbaikku, meskipun sekarang kita tidak bisa bersama-sama lagi. Selamat tinggal Langit, mulai saat ini aku nggak akan mengganggumu walaupun hanya lewat mimpi sekalipun.
Friend,
Jingga
Semua penyesalanku luruh begitu saja bersama air mata ini. Aku bodoh. Ya Tuhan aku sangat menyesal. Aku terlalu egois sampai-sampai tak mempedulikan orang-orang disekitarku yang sedang membutuhkan pertolonganku.
“Kamu bodoh, Jingga, kenapa kamu nggak mau bilang dari awal ? kenapa kamu diam saja ? kenapa kamu hanya tersenyum saat aku bertanya ‘Apakah kamu baik-baik saja ?’ kenapa kamu memilih bunuh diri untuk mengakhiri semuanya ? sebegitu sakit hatinya dirimu kepadaku sehingga kamu memilih jalan pintas seperti ini ? kamu selalu membantuku saat aku berada dalam kesulitan, sedangkan aku ? aku malah ikut mencacimu, menghindarimu saat kamu terpuruk. Sahabat macam apa aku ini ?! kamu memang bodoh Jingga, tetapi aku lebih bodoh lagi. Aku lebih kotor dan hina darimu. Seharusnya kamu nggak memilih aku sebagai sahabatmu, aku memang bukan sahabat yang baik untukmu. Maafkan aku.” sesalku.
“Teman yang baik nggak akan ninggalin temannya yang sedang berada dalam ketidakberdayaan, oleh sebab itu aku akan hadir disaat kamu sedang berada dalam kesulitan, Langit.”
Terinspirasi dari lagu berjudul Arti Sahabat yang dipopulerkan oleh grup band Nidji.