Banyak yang bilang kalo gue orangnya unik dan aneh. Gue orang yang nggak bisa ditebak apa maunya. Gue hanya manusia biasa, dari keluarga biasa, yang hidupnya sampai sekarang ya biasa-biasa aja. Gue pribadi yang tertutup, yang nggak suka keramaian, nggak suka ribet pokoknya intinya tuh simple is my style.
Gue nggak peduli sama orang lain dalam artian gue nggak suka ikut campur urusan orang lain. Inilah hidup gue, gue yang jadi pemeran utamanya, gue yang jadi sorotan, gue jalanai semua scene hidup gue yang udah digarisin Tuhan buat gue. Scene hidup ada 2 macam, hitam dan putih. Putih, disaat manusia baru lahir, kecil, masih nggak tau apa-apa. Namun akhirnya putih itu terkontaminasi sama hitam. Hitam memang simbol keburukan tapi lagi-lagi inilah scene kehidupan. Nggak ada manusia yang dari lahir sampai mati nanti berwarna putih, pasti ada kalanya manusia itu berbuat keburukan. Udah akui aja, nggak usah ngelak, nggak usah jadi orang munafik.
Ngurusi hidup gue sendiri aja susahnya minta ampun ngapain pakek sok-sokkan ngatur dan ngusik kehidupan orang lain. Gue paling benci lihat orang yang didepan kayak angel tapi dibelakang busuk. Bullshit banget tuh. Ngomongnya aja kayak merasa dia yang paling benar.
Teman ?
Apalah mereka itu betrayer semua. Suka manfaatin doang. Didepan senyum dibelakang ngehujat. Kalo lo berani ya langsung aja sini berdiri didepan gue, jangan kayak chicken yang selalu buntutin emaknya. Lo punya hidup sendiri, ya seenggaknya lo jalani hidup lo, nggak usah jelek-jelekin orang.
Gue kasih tau ya, lo lebih dihargai kalo lo bisa jujur tentang apa yang lo rasain saat ini. Orang-orang akan lebih seneng sama orang yang bagus depan dan belakangnya. Sekarang, kalo lo benci dia cepetan ngomong ke dia kalo LO BENCI ! kalo lo suka ya tinggal ngomong aja, WOI GUE SUKA SAMA ELO !
Gampang kan ? udahlah jangan terusin sandiwara elo. Lo manusia bukan robot. Kalo robot sih pantes secara dia geraknya karena batre karena remote control, tapi ini elo. Elo MANUSIA, kan ? lo makhluk yang diciptain Tuhan sedemikian rupa. Lo punya mulut ya lo manfaatin dong buat ngomong jangan diempet di hati aja. Bakal stress lo. Lo punya 2 mata, ya lo manfaatin mata lo buat mandang dunia ini. Jangan merem aja, gue jamin kalo lo merem aja suatu saat lo bakal jatuh. Lo punya 2 telinga, gunanya buat dengerin sesuatu yang ada disekitar elo. Jangan pura-pura budek. Lo bisa jalan karena lo punya kaki. Lo punya tangan. Apa lagi yang kurang ???
Manusia emang selalu merasa nggak puas dengan apa yang udah mereka punya. Liat orang-orang disekitar lo yang hidupnya nggak senormal lo. Pandangi mereka. Lo seharusnya bisa NGACA dari mereka. Lo seharusnya bisa lebih bersyukur pada Tuhan karena hidup lo masih lebih mending daripada mereka...
Kamis, 19 April 2012
Kamis, 12 April 2012
Bulan, Bintang dan Matahari
Tanpa bulan malam akan menjelma menjadi malam pekat yang lebih menyeramkan daripada seribu malam yang sering lo temui di malam-malam lo selama ini. Bulan itu benda langit yang paling anggun, yang selalu tampak lebih rendah hati dibandingkan yang lain. Ia seperti sosok yang penuh kelembutan. Terkadang ia bersinar seorang diri tanpa ditemani oleh bintang, tapi nyatanya ia tetap baik-baik saja. Bulan itu tegar.
Berbeda dengan bulan, bintang selalu tampak paling menonjol diantara semua ciptaan Tuhan yang ada di alam semesta ini. Bintang memang kecil. Tapi asal lo tau, manusia itu makhluk yang kecil seperti bintang. Ada yang bersinar redup, ada juga yang sinarnya paling terang. Meskipun lo dianggap rendah oleh orang-orang disekitar lo, tetapi alangkah baiknya kalo lo menanggapinya dengan senyum yang bersinar di kedua mata lo layaknya bintang. Ia selalu kuat.
Matahari ? enggak ada yang perlu gue jelasin lagi tentang matahari. Bahkan semua orang udah tau kalo dia itu seperti penguasa. Penguasa yang menguasai siang. Raja alam semesta. Ia menawarkan kehangatan bagi siapa saja. Matahari itu teman yang paling setia.
◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄
Hari ini adalah hari pertama Irish menjadi siswi baru disebuah SMA favorit di Jakarta. Tentu saja di momen yang istimewa ini, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan sekali seumur hidupnya berstatus sebagai siswi SMA. Ia akan menjadi pribadi baru yang lebih baik dari yang sebelumnya. Irish berputar-putar didepan cermin kamarnya, mematut-matutkan tubuhnya yang mungil. Memperhatikan secara detail perubahan besar yang terjadi pada dirinya yang kini sudah menjelma menjadi gadis belia yang sangat cantik. Tak terasa tiga tahun lalu ia masih merupakan siswi berseragam putih-biru yang masih suka bermanja-manja kepada orangtua. Berbeda dengan Irish yang sedang berdiri didepan cermin sambil menggunakan seragam putih-abu ini.
Cewek berdarah arab itu tersenyum puas saat menatapi bayangannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia menghembuskan napas lega. Matanya yang lebar melirik sebuah jam bergambar matahari yang tergantung pada dinding kamarnya yang berwarna biru muda. Pukul 06.15. Irish segera mengambil tas, kemudian meninggalkan kamarnya untuk sarapan pagi bersama keluarganya. Mereka semua tersenyum lebar ketika melihat Irish yang baru saja turun dari tangga. Mama menghampiri putri kesayangannya, lalu mengecup keningnya dengan lembut.
“Selamat pagi sayang,”
“Selamat pagi, ma.” Balasnya sembari berjalan dibelakang mama menuju meja makan.
“Anak papa sekarang sudah dewasa ya. Ingat, Rish, mulai sekarang kamu udah nggak boleh manja-manjaan lagi.” Ujar papa menggoda Irish. Cewek itu pura-pura manyun.
“Ah papa, kayak nggak kenal Irish aja. Dewasanya paling cuman semenit, setelah itu mulai deh kayak anak kecil lagi. Weekkk...” Irish mencubit lengan kakaknya dengan kesal. Adam, kakak Irish, mengadu sambil melotot galak ke arahnya.
Adam adalah kakak Irish satu-satunya. Ia saat ini duduk dibangku kelas 3 SMA disebuah sekolahan favorit di Jakarta yang merupakan sekolah Irish juga. Alasan kedua orangtua mereka menyekolahkan Adam dan Irish di tempat yang sama adalah supaya Adam lebih mudah mengawasi Irish, menjaganya disaat kedua orangtua mereka tak bisa berdiri siaga disamping Irish selama dia berada di luar rumah. Irish sama sekali tak keberatan dengan keputusan orangtuanya, ia justru senang diperlakukan seperti itu. Ia merasa sangat diperhatikan oleh keluarganya. Memang sih sedikit risih apalagi jika menghabiskan waktu hampir setengah hari berada didekat kakaknya yang terkadang rese’ dan suka berbuat seenaknya itu.
Setelah selesai makan pagi, Irish dan Adam bersiap-siap berangkat ke sekolah. Jarak antara rumah dan sekolah mereka sangat dekat. Mereka memutuskan untuk berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki dan itu hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit.
“Itung-itung olahraga pagi, Rish, biar badan sehat, nggak loyo.” Omel Adam saat Irish mulai mengeluh kecapekan. Irish hanya tersenyum kecut mendengar ocehan kakaknya.
“Gue nggak nyangka, tiga tahun berturut-turut ini kakak jalan kaki kalo berangkat sekolah.” Itu adalah pernyataan bukan pertannyaan, tetapi Adam tetap menjawabnya.
“Lo kira lengan berotot ini bukan hasil olahraga ? nggak kayak lo. Ih apaan tuh perutnya banyak lemaknya.”
“Kurang ajar ya kakak,” dengus Irish. “Gue bilangin mama nanti.”
“Bwahahaha... tuh kan bener kata gue tadi. Palingan dewasanya cuman semenit, setelah itu sifat aslinya keliatan lagi deh. Dasar anak kecil.” Ejeknya sambil mengacak-acak rambut panjang Irish yang di kepang dua. Sebelum rambutnya semakin berantakan, ia dengan sigap menangkis tangan kakaknya agar tak sampai menyentuh rambutnya.
PYUUUURRR...
Sebuah Escudo hitam melaju kencang, genangan sisa-sisa air hujan di jalan terciprat kemana-mana. Seragam sekolah mereka menjadi kotor, bekas cipratan lumpur tercetak jelas disana. Irish mendengus kesal. Dengan spontan, ia mengambil sebuah kerikil kecil lalu melemparkannya hingga mengenai kaca belakang mobil tersebut. Adam mendelik ke arahnya, tetapi Irish tampak tak peduli.
“Rish, lo gila ya ? untung tuh kaca nggak pecah.” Semprotnya galak.
“Halah kak, mana bisa tuh kaca pecah ? orang yang kulempar tadi kerikil kecil kok, bukan paving atau bom atom.” Sanggah Irish tenang.
“Eh kalian berdua, pagi-pagi udah nyari masalah !!!” bentak pemilik mobil tersebut. Adam maju selangkah kedepan Irish.
“Lo duluan kali yang mulai. Lo nggak liat apa, seragam kita jadi kotor kayak gini ?!”
“Itu urusan elo berdua, bukan urusan gue. Lagian seragam dekil kayak gitu nggak ada apa-apanya dibandingin sama mobil gue. Emangnya kalian berdua bisa ganti rugi, huh ?” tantangnya. Telinga Irish mulai memanas. Ia melangkah maju, menyejajarkan tubuhnya disamping tubuh Adam.
“Eh lo belagu banget sih jadi orang. Buang-buang waktu tau nggak, ngeladeni cowok songong kayak lo,” Irish melirik menatap wajah kakaknya yang sepertinya takjub melihat reaksinya yang mungkin sedikit berlebihan, tetapi ia tetap tak peduli. Dengan cepat, ia meraih lengan kakaknya dan buru-buru menyeretnya pergi. “Ayo kak, keburu masuk nih.” Irish dan Adam berjalan santai melewati cowok itu tanpa memperdulikan tatapan tajam matanya.
◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄
Suasana didalam kelas sangat riuh. Para siswa dan siswi baru rupanya sedang sibuk berkenalan sana-sini atau hanya sekedar tebar pesona untuk mencari gebetan baru. Aih, sudah menjadi tradisi turun-menurun ya rupanya. Irish duduk di deretan meja kedua baris ketiga dari depan. Sedari tadi ia sudah berkenalan kesana-kemari dengan hampir selusin murid, jadi saat ini waktunya untuk beristirahat sejenak. Irish melongokkan kepalanya, memandangi satu-persatu teman-teman barunya yang sepertinya sudah mulai akrab satu sama lain.
Hah... berarti cuman gue aja yang sendirian, batinnya sambil melirik bangku kosong disebelahnya.
Tak berapa lama kemudian, pintu kelasnya terbuka lebar. Kelas yang tadinya riuh mendadak menjadi hening. Seluruh penghuni kelas seakan terhipnotis oleh sosok yang baru saja masuk kedalam kelas itu. Kakak OSIS yang sedang kebagian menjaga kelasnya, segera menghampiri sosok berjenis kelamin laki-laki itu sambil tersenyum ramah.
“Permisi kak,” Ujarnya lirih. Kakak OSIS cewek itu tersenyum tipis. Ia mengangguk- maklum. Benar-benar tipe kakak OSIS idaman nih. Udah cantik, baik, tidak suka menindas adik kelasnya pula.
“Mengapa kamu baru masuk kelas jam segini ?” tanya kakak OSIS itu dengan nada ramah.
“Tadi saya ada keperluan sebentar dengan bagian administrasi sekolah, jadi saya masuk ke kelasnya terlambat.” Jelasnya.
“Baiklah. Sebelum saya persilahkan kamu duduk, bagaimana kalo kamu memperkenalkan diri dulu ?” semua penghuni kelas langsung menyetujuinya, terutama dari pihak cewek. Kecuali Irish yang sedari tadi hanya berdiam diri.
Cowok berambut sedikit gondrong—meskipun tidak sampai melewati kerah seragamnya, paling tidak hampir menyentuh sedikit kerah kemeja putihnya— dan berwarna kecoklatan itu mengangguk sekilas. “Nama gue Nathanael Marshall Arsavhino, gue biasa dipanggil Nathan. Gue dari SMP Tunas Hijau, Bogor.”
“Nathan, sekarang kamu boleh duduk disamping cewek berkepang dua itu.” Nathan mengangguk patuh, kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya. Sesaat setelah dia mendudukkan pantatnya diatas kursi coklat tepat disamping kursi Irish, pandangan mata mereka bertemu. Irish merasa seperti ada sesuatu yang familier dari pandangan mata itu. Tiba-tiba saja jantung Irish bergemuruh, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia melirik ragu melalui sudut matanya, cowok itu sedang tersenyum geli ketika melihat seorang cewek yang duduk disampinya itu salah tingkah.
“Elo cewek yang nyemprot gue tadi pagi, kan ? oya kenalin gue Nathan,” ia mengulurkan tangannya kehadapan Irish. Mau tak mau Irish segera menjabat tangan putih tersebut. “Nama panggilan lo pasti Irish, ya ? Hmm... Clairisha nama yang cukup bagus dan simpel.” Komentarnya singkat.
Irish mengernyitkan dahi saking bingungnya, “Hah !? kok lo bisa tau nama gue sih ?” Nathan menunjuk sesuatu di seragam yang sedang Irish kenakan. Irish mengikuti arah pandang cowok itu yang ternyata tertuju pada beadge nama Irish. Clairisha. Tercetak jelas-jelas disana. Oh sial ! rutuk Irish dalam hati.
◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄
“Rish, aku pengen banget pacaran, tapi katanya mama kalo masih kecil nggak boleh pacaran, ntar aja kalo udah gede.” Ujar seorang anak lelaki berusia sekitar 6 tahun dengan polosnya. Teman perempuan yang duduk disebelah kirinya mengernyitkan dahinya tampak kebingungan.
“Hah !? pacalan ? apa itu ? sejenis makanan ya ? hmm... enak nggak lasanya ?” tanya gadis kecil itu. Anak lelaki itu tampak kesulitan ketika akan menjelaskannya pada temannya, tetapi tiba-tiba seulas senyum lembut mampir ke wajahnya.
“Huh ! Irish,” rajuknya. Kedua mata coklatnya tak bosan-bosan memandangi wajah teman sebayanya itu. “Kamu yang dipikirin makanan mulu. Pacaran itu seperti dua orang yang selalu bersama-sama. Seperti kita ini.”
“Belalti kita ini pacalan ya ?”
“Iya, asal kamu mau jadi pacar aku dulu.” Anak perempuan itu tampak sedang berpikir keras, lalu ia mengangguk membuat teman lelakinya tersenyum semakin lebar.
“Holeee !!! aku pacalan sama Niko.” Teriak gadis bernama Irish kegirangan. Anak laki-laki yang bernama Niko itu segera membekap mulut Irish dengan kuat. Niko menempelkan jari telunjuknya ke bibir.
“Sssttt... Irish jangan teriak-teriak kayak gitu dong, nanti kalo ketauan sama mama aku gimana hayo ? nanti kita nggak boleh pacaran lagi.”
“Eh. Maafin Ilish ya, Nik,” ujar Irish lirih. Ia merasa bersalah kepada Niko. Irish bangkit meninggalkan Niko menuju semak-semak liar dipinggir pohon besar yang tumbuh di sebuah taman bunga dekat rumah mereka. Taman bunga itu merupakan satu-satunya tempat favorit mereka berdua untuk menghabiskan waktu bersama hingga matahari tak terlihat lagi. Irish kembali lagi kehadapan Niko sambil tersenyum tipis. Kedua tangan kecilnya tertekuk kebelakang. Tak perlu bantuan Sherlock Holmes untuk menebak adanya sesuatu yang sedang disembunyikan Irish dibalik tubuhnya.
“Tadaaa !!! ini buat Niko, tadi kan Ilish sempat buat Niko kesal, jadi Ilish kasih Niko ini sebagai pelmohonan maaf Ilish.” Irish menyodorkan setangkai bunga matahari segar kehadapan Niko. Niko menerimanya dengan senang hati.
“Niko nggak kesal kok sama kamu. Lagian ya, Rish, yang wajib ngasih bunga itu cowok bukan cewek. Kok kita malah kebalikannya sih ?!”
“Hahaha...” Irish tergelak melihat tampang Niko. Niko menggenggam kedua tangan kecil Irish membuat tawa gadis itu terhenti.
“Kita itu seperti matahari yang bersinar di setiap pagi harinya. Matahari akan terus menghangatkan dunia, seperti seorang teman yang selalu menawarkan kehangatan dan kenyamanan bagi temannya yang lain. Rish, mulai sekarang kamu adalah teman sekaligus matahari yang selalu menemaniku di setiap harinya.”
“Kok teman sih, katanya pacal ?” protes Irish.
“Iya deh, mulai sekarang dan selamanya Irish adalah teman sekaligus pacar Niko yang paling manis.”
◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄
Malam harinya, Irish terpekur diatas balkon kamarnya. Kedua matanya tak henti-hentinya menatap sebuah rumah besar yang berdiri tepat didepan rumahnya. Rumah itu dulu milik Niko, sahabat sekaligus pacar masa kecilnya. Sekarang rumah itu terlihat sepi dan mati tanpa ocehan Niko di setiap harinya.
Mereka bersahabat sejak umur mereka menginjak 4 tahun. Umur mereka berdua hanya selisih 5 bulan. Ketika Niko duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar, ia beserta papanya terpaksa pindah ke luar kota karena sebuah tugas yang mengharuskan Niko dan papanya untuk pindah ke sebuah kota kecil yang terletak di provinsi Jawa Timur. Niko memang hanya tinggal berdua bersama papanya, setelah mamanya resmi bercerai dengan papanya ketika Niko masih berumur 9 tahun. Awalnya papa Niko yang notabene adalah sahabat papa Irish sempat saling mengirimkan kabar masing-masing, hal itu hanya bertahan sekitar tiga bulan, hingga pada akhirnya mereka benar-benar kehilangan kontak sampai saat ini.
Irish memandangi sebuah pigura cantik bergambar matahari yang didalamnya terdapat foto dirinya yang sedang tertawa lebar menampilkan deretan giginya yang kebanyakan masih ompong bersama dengan Niko yang sedang tersenyum tipis sambil membawa setangkai bunga matahari. Dibalik pigura tersebut terdapat tulisan cakar ayam Irish, yang berbunyi : Clairisha pacar Nicholas selamanya J. Dan siluet wajah keduanya yang masih membekas didalam ingatan Irish sampai sekarang adalah bahwa saat itu mereka benar-benar terlihat bahagia.
“Kamu sekarang ada dimana, Nik ? kabar kamu gimana ? hmm... aku kangen banget sama kamu.” Kedua mata Irish menerawang menatap langit diatasnya.
“Bulan dan Bintang, Irish dan Niko. Jangan pernah tinggalin aku ya, Rish, ntar aku nggak ada temannya lagi...”
Irish tersenyum miris mengingat ucapan Niko tersebut. Setetes air mata membasahi pipinya. “Bukan Irish yang ninggalin kamu, Nik. Irish nggak pernah ninggalin kamu, tapi kamu yang ninggalin Irish sendirian disini.” Raungnya semakin menjadi-jadi.
“Nangisin siapa lo ? Niko ?” tanya Adam yang tiba-tiba muncul dibelakang Irish. Irish menganggukkan kepala sekilas. “Duileee... yang lagi keinget sama cinta pertamanya.”
“Kak, Irish sekarang lagi sedih. Sebagai kakak yang baik itu seharusnya ngehibur adiknya yang lagi sedih nggak malah ngetawain kayak gitu.” Dumel Irish kesal. Adam menghembuskan napasnya lirih. Ia menghempaskan tubuhnya disamping tubuh Irish, lalu menyandarkan kepala Irish ke pundaknya.
“Lo tau kan, Rish, seberapapun menyebalkannya gue, gue itu tetap kakak lo yang selalu jagain lo. Gue nggak akan segan-segan nonjok siapa aja yang udah bikin lo nangis. Lo bisa panggil gue kalo lo butuh a shoulder to cry on. Gue siap berdiri dibarisan terdepan buat ngelindungi lo.”
“Makasih, kak...” ujar Irish lirih. Kepalanya masih bersandar pada bahu kakaknya.
“Rish, cinta pertama itu emang sulit dilupain. Apalagi lo sama si Niko ingusan yang waktu itu masih bau kencur. Kalian masih belum tau artinya mencintai seseorang yang sesungguhnya,” Adam menarik napas dalam-dalam, ia mendesah saat melihat adik kesayangannya masih sesenggukan disampingnya. “Gue minta lo buka mata sekarang juga. Liat dunia ini, jangan menghindar terus dari kenyataan. Setiap manusia selalu mempunyai kenangan dan masa lalu, kedua unsur tersebut emang nggak bisa dilupain. Bagaimanapun juga lo bisa berdiri sampai saat ini karena kenangan dan masa lalu itu sendiri. Tuhan selalu menciptakan hari esok sebagai sebuah kejutan besar untuk umatNya. Tuhan selalu punya rencana yang lain dari biasanya untuk kehidupan elo, Rish. Lo sekarang menempuh perjalanan seorang diri tanpa ada seseorang yang nemenin elo, tetapi percayalah di tengah-tengah perjalanan nanti akan ada seseorang yang udah nungguin kedatangan elo.” Irish menghapus semua air matanya. Ia tersenyum tulus sambil menggenggam kedua tangan milik kakaknya.
“Lo kakak gue yang paling hebat. Gue bangga punya kakak sehebat elo, meskipun terkadang nyebelin sih. Hehehe...”
“Apa lo bilang ? dasar nggak tau terima kasih lo ya. Huh ! jadi nyesel gue udah nasehati elo sampai mulut gue berbusa kayak tadi.” Sungut Adam sembari menjitak kepala Irish.
◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄
Irish mengatur napasnya yang terasa satu-satu di tenggorokan. Keringat mulai membasahi sekujur tubuhnya. Bajunya yang basah oleh keringat terasa melekat di tubuhnya. Untuk mengisi kekosongan di hari minggu pagi, Irish memutuskan untuk jogging memutari beberapa blok di kompleks perumahannya. Awalnya ia jogging bersama Adam, namun di tengah-tengah perjalanan Adam bertemu dengan temannya dan menyuruh Irish untuk pulang terlebih dahulu. Tadinya Irish sempat memberengut karena janji Adam mentraktir dirinya dengan susu sapi dan bubur ayam didepan kompleks yang terkenal enak itu terpaksa harus dibatalkan. Irish terpaksa menelan bulat-bulat rasa dongkol yang menggelayuti hatinya.
Ia berhenti sejenak di bawah pohon jeruk yang tumbuh subur di pekarangan depan rumah besar yang dulunya milik Niko. Ia menengadah memandangi satu-persatu buah jeruk yang berwarna orange-kekuningan yang menggantung di cabang-cabang pohon tersebut. Irish menelan ludahnya.
“Lumayan nih ada jeruk, itung-itung buat ngeganjel perut gue yang udah mulai keroncongan ini,” gumam Irish. Ia menoleh kekanan dan kekiri sebelum memutuskan untuk memanjat pohon tersebut. “Aman !” pekiknya kegirangan. Setelah sampai diatas, Irish segera menebas jeruk-jeruk yang sudah matang. Jeruk-jeruk tersebut ia masukkan kedalam saku celana pendeknya.
“Udah lumayan banyak yang gue ambil, sekarang waktunya turun.” Ia turun dengan perlahan-lahan sambil berpegangan kuat-kuat pada dahan pohon.
“Ada maling !!!” teriak seseorang dari bawah. Irish yang terkejut tak sempat mengimbangi gerakannya yang tinggal beberapa meter dari atas tanah. Ia terjatuh dengan posisi non-mulus, terjerembap persis seperti posisi senam lilin. Ia meringis kesakitan sambil memegangi punggungnya yang mungkin terancam encok.
“Hah ketauan lo ya lagi ngambil jeruk-jeruk gue !” ujar suara sinis tersebut. Irish mendongakkan kepala. Pandangannya berubah kesal saat mengenali cowok yang menciprati seragamnya dengan air berlumpur di hari pertamanya tercatat sebagai siswi SMA. “Masih kecil udah belajar jadi maling...”
“Gue bukan maling !!!” tukas Irish cepat masih dalam posisi terduduk diatas tanah. Nathan mengerlingkan matanya.
“Oya ? terus kenapa lo tadi ada diatas pohon gue ? jangan bilang kalo lo jatuh dari pesawat terus nyangkut diatas sana,” wajah Irish bersemu merah. Nathan semakin bersemangat menggodanya. “Emm... lantas apa yang ada didalam saku celana pendek lo itu ? batu ?”
“Jeruk, bego !” sahut Irish kesal. “Kenapa lo ngatain gue maling ? secara pohon jeruk ini bukan milik lo. Pohon ini milik sahabat gue.”
“Hahaha... sahabat lo ? siapa ? pohon ini milik siapa kek, gue nggak peduli. Yang perlu lo ketahui sekarang, rumah ini sudah menjadi milik gue, jadi apapun yang ada disekitar rumah ini, entah itu barang yang berharga ataupun nggak berharga seperti kerikil ini,” tangan kanannya menyodorkan sebuah kerikil kecil kehadapan Irish. Wajah Irish memerah lagi ketika mengingat insiden pelemparan kerikil kecil pada kaca mobil Nathan beberapa hari yang lalu. “Secara nggak langsung udah sah berganti kepemilikan atas nama Nathanael Marshall Arsavhino. Ngerti ?”
“Ya gue ngerti.” Jawab Irish dengan berat hati. Cengiran di bibir Nathan semakin lebar.
“Bagus. Kalo gitu sekarang kasih semua jeruk-jeruk yang ada di saku lo itu ke gue,” perintahnya. Irish mendelikkan kedua matanya ke arah cowok tengil itu. Saat ia ingin protes, Nathan buru-buru memotong kalimat yang baru akan terlontar dari mulutnya. “Jangan protes ! pokoknya kasih semua jeruknya, jangan sampai ada yang tersisa.”
◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄
“Bulan itu ada berapa, Rish ?” tanya Niko saat mereka berdua sedang tidur-tiduran diatas rerumputan hijau di taman bunga favorit mereka.
“Satu,” jawab Irish cepat. Niko menggeleng. Irish mengernyitkan dahi. “Terus ada berapa dong ?”
“Dua.”
“Lho kok...?”
“Bulan yang satu kan miliknya langit, tapi bulan yang satunya lagi milik bintang jatuh.”
“Bintang jatuh ? Maksud kamu ?”
“Di langit ada bintang, tapi ada satu bintang lain yang jatuh di bumi ini dan sekarang dia ada disini,” tunjuknya pada dirinya sendiri. Irish mencubit lengan Niko dengan kesal. “Dan satu bintang yang jatuh itu sekarang lagi ditemani sama bulan lho, tapi sayang bulannya lagi sedih soalnya habis dimarahi sama papanya gara-gara dapet nilai merah.”
“Nyindir nih...”
“Enggak kok. Kenyataan, kan ? Makanya jangan sedih terus dong, bulan, ntar bintangnya juga ikutan sedih lho. Kalo bulan sama bintangnya sedih langitnya jadi gelap, mendung terus nangis deh,” Bujuk Niko. Perasaan Irish sedikit lebih tenang setelah mendengar ucapan Niko barusan. “Bulan dan Bintang, Irish dan Niko. Jangan pernah tinggalin aku ya, Rish, ntar aku nggak ada temannya lagi. Bintang juga pernah merasa kesepian saat ditinggal sama bulan. Jika bulan pergi lebih baik bintang juga ikut pergi, bagaimanapun juga mereka adalah pasangan yang diciptain Tuhan untuk saling menemani satu sama lain. Seperti kita.”
◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄
Nathan menatap tepat ke kedua bola mata Irish tanpa berkedip. “Niko udah meninggal, Rish, 4 tahun yang lalu.”
“Apa lo bilang ? huh, nggak usah ngarang-ngarang cerita deh !” gerutu Irish.
“Gue nggak pernah ngarang-ngarang cerita tentang kematian Niko. Gue adalah sodara kembar Niko. Gue adik Niko, Rish.”
“Gue tetap nggak percaya sama semua omongan lo, Nat !” Irish menangis. Kedua bahu mungilnya bergetar. “Kalo lo sodara kembar Niko, kenapa gue nggak pernah ngelihat elo ada di rumah itu ?!”
“Sejak kecil gue lebih senang tinggal sama nenek dan kakek di Bogor. Lo tau, Rish, gue nggak tahan tinggal di rumah itu. Gue nggak tahan kalo setiap hari selalu dengar bokap marah-marah atau nyokap yang nangis di kamarnya. Gue nggak tahan ! gue nggak sekuat Niko. Lo inget waktu pertama kali gue nyebut nama lo di kelas ? sebenarnya bukan gara-gara gue tau dari nametag lo. Gue udah kenal lo secara nggak langsung dari Niko, dia selalu ceritain tentang pacarnya ke gue yang ternyata sahabatnya sendiri sejak kecil.
“Lo sebenernya udah pernah ketemu sama gue. Mungkin lo nggak inget gue, tapi lo masih inget kan tentang janji Niko dan kejadian bunga matahari 3 tahun yang lalu ?” Irish memutar kembali memori-memori otaknya, berusaha mengingat setiap kejadian yang pernah terjadi di masa lalunya.
“Niko, jangan pergi ! jangan tinggalin Irish !” isak Irish semakin kencang. Kedua tangannya menggamit lengan Niko erat-erat.
“Aku nggak bisa, Rish, aku harus pergi,” Niko menghapus air mata yang menggantung di kedua mata Irish. “Aku janji, Rish, saat kamu ulang tahun yang ke-13 nanti, aku akan nemuin kamu lagi.” Ucap Niko dengan penuh keyakinan. Perlahan-lahan senyum Irish mengembang. Hatinya luluh ketika mendengar ucapan Niko.
“Aku akan menunggumu, Nik.”
***
Ulang Tahun Irish ke-13...
“Selamat ulang tahun. Ini hadiah buat kamu.”
“Bunga matahari ?” cowok yang berdiri didepannya itu menganggukkan kepala. “Makasih Niko, aku senang sekali ternyata kamu benar-benar menepati janji kamu. Aku sangat menyukai hadiahmu.” Irish tersenyum lebar sambil memeluk tubuh lelaki itu.
“Ng... iya sama-sama, Risha.”
“Kok kamu manggil aku Risha ? biasanya kan kamu manggil Irish,”
“Eh. Emm... maksudku; iya sama-sama, Irish. Kalo gitu aku pergi dulu ya. Bye.”
“Niko kamu mau kemana lagi ? jangan tinggalin Irish lagi, Nik !!!” Irish mengejar lelaki itu. Tetapi tenaga laki-laki lebih besar dibanding perempuan. Bayangan lelaki itu sudah tak terlihat lagi. Irish jatuh terduduk sambil menangis tanpa suara.
“Jadi itu bukan Niko ? itu elo, Nat ?”
“Iya, itu gue. Dua hari sebelum kecelakaan yang merenggut nyawa Niko, dia nelpon gue dan nyuruh gue untuk nemuin elo tepat di hari ulang tahun elo yang ke-13 dan ngasih lo bunga matahari itu. Awalnya gue nggak mau karena gue merasa nggak pernah kenal sama lo dan bagi gue berpura-pura menjadi orang lain walaupun cuman sehari adalah sesuatu yang sangat sulit meskipun itu kepribadian sodara kembar gue sendiri. Tapi dengan bodohnya gue nurutin keinginan terakhirnya itu.”
“Niko...” ucap Irish lirih. Isak tangisnya semakin keras. Nathan yang sudah tak tahan melihat itu semua segera memeluk Irish erat-erat.
“Kenyataan ini emang pahit, tapi lo harus bisa menerimanya. Lo nggak perlu nungguin Niko lagi, Rish, dia...dia udah nitipin elo ke gue.”
“Gue sekarang udah tau maksud dari ucapannya waktu itu; bulan, bintang dan matahari adalah benda langit yang sama-sama penting bagi kehidupan. Tuhan udah nakdirin bulan selalu muncul bersama bintang dan sangat mustahil jika bulan atau bintang muncul bersama matahari. Gue nggak akan nunggu dia lagi, Nat. Dia emang pacar masa kecil gue, tapi tidak untuk masa depan gue. Bagaimanapun juga gue dan Niko sangat mustahil untuk bersama. Kita seperti bulan dan matahari yang nggak akan pernah bisa bersatu. Gue akan nemuin bintang yang baru pengganti bintang lama gue yang udah lama hilang.” Ujarnya sambil membalas pelukan Nathan.
S.E.C.R.E.T
Tak ada yang tahu dari mana datangnya cinta. Tak ada yang bisa menduga siapakah pasangan sejati kita. Tak ada yang mengira bahwa cinta itu tiba-tiba menyergap dua hati yang saling mengisi satu sama lain. Tuhan telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Tuhan tak akan membiarkan ciptaan-Nya hidup dalam kesendirian yang panjang dan membosankan. Coba lihatlah, ada laki-laki dan perempuan, siang dan malam, langit dan bumi, hujan dan teduh, bulan dan bintang, gelap dan terang, semuanya saling mengisi kekurangan dan melengkapi kelebihan dari pasangannya masing-masing.
Seperti saat ini. Tak ada yang bisa memprediksi pertemuan singkat yang dapat merubah segalanya. Semuanya mengalir begitu saja. Aku melirik arloji berwarna perak yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Pukul 06.27. Aku berdecak kesal. Puluhan peluh yang menetes sudah tak kuhiraukan lagi. Cukup aneh, padahal pagi ini langit sedang mendung dan tetesan air langit jatuh membasahi bumi, tetapi yang kurasakan justru sebaliknya. Panas.
Dalam hati aku terus berdoa supaya bus yang membawaku ke sekolah kali ini dapat segera muncul sehingga aku tak perlu berurusan dengan guru BP yang terkenal paling kejam dan sadis. Sedikit berlebihan memang, tetapi itu menurut desas-desus yang pernah kudengar dari para senior-senior SMA Gemilang yang mungkin pernah berurusan dengan pak Musa, guru BP di sekolahku.
Sudah lewat 5 menit aku menunggu, tetapi tak ada tanda-tanda bus kota yang biasanya rajin mangkal di halte pinggiran jalan menampakkan asap kenalpotnya. “Sial !” umpatku berkali-kali. Aku dongkol setengah mati. Bayangan tentang hukuman-hukuman kreatif yang akan diberikan pak Musa segera memenuhi kepalaku membuatku semakin bergidik ngeri. Belum lagi jika mengingat ulangan matematika yang diadakan di jam pertama, membuat kakiku bertambah lemas.
“Apa aku bolos saja ya ? tapi alasannya apa ? masa’ iya alasannya sakit ? ah... nggak-nggak, bisa-bisa aku kena karma terus sakit beneran. Tuhannn, please...” aku menengadah sambil mencoba untuk lebih sabar lagi.
Tahukah kamu, Tuhan selalu mendengar doa hamba-Nya yang sedang teraniaya [pengecualian untukku, tentu saja, Tuhan akan mendengar doa hamba-Nya yang sedang kesulitan terdengar lebih baik daripada teraniaya, bukan ?] Tuhan selalu mendengarkan doa-doa kita, karena Tuhan juga mempunyai hati. Dia nggak akan membiarkan hamba-Nya terpuruk untuk waktu yang lama.
Sebuah Juke berwarna putih menepi ke pinggiran jalan dan berhenti tepat didepan halte. Kaca hitam mobil tersebut terbuka, menampakkan siapa saja yang sedang duduk di belakang kemudi kuda besi tersebut. Dan dia tersenyum. Aku tertegun sejenak menatap senyum lembutnya. Ya Tuhan... itu dia. Ya dia, seseorang yang diam-diam aku kagumi sejak pertama kali aku resmi tercatat sebagai siswi baru di SMA Gemilang sekitar 3 bulan yang lalu. Dan selama itu pula aku menyembunyikan perasaan suka kepadanya. Sebenarnya ini tidak wajar. Aku tahu dan sadar itu, tetapi perasaan memang tak bisa disalahkan. Kita tanpa sadar menaruh hati kepada seseorang yang mungkin belum tepat untuk kita, tetapi sesungguhnya kita tak pernah salah, cinta itu tak pernah salah. Hanya waktu dan keadannya yang tidak tepat. Itu saja.
Aku masih tak percaya dengan kedua indera penglihatanku. Benarkah ini bukan sekedar ilusi ? ah, yang benar saja, mana mungkin itu dia. Mataku memang bermasalah. Tanpa kuperintah tiba-tiba jantungku mulai berulah lagi. Aku menundukkan kepala dalam-dalam, sesekali melirik sosok sempurna yang masih menyunggingkan senyum rupawannya itu untukku [koreksi, sosok sempurna itu selalu tersenyum kepada semua orang yang ia temui dan kebetulan hari ini cuman aku yang berdiri seorang diri di halte bus ditengah-tengah guyuran hujan seperti ini. Jadi kemungkinan besar senyum rupawan itu memang ia berikan untukku] ah senangnya, batinku bersorak gembira.
“Ara,” sapanya sambil masih tersenyum. Dari semua siswa-siswi yang kukenal di SMA Gemilang, hanya dia yang memanggilku dengan sebutan ‘Ara’—kepanjangan dari Tiara. “Nungguin bus ya ?” aku menganggukkan kepala sekilas.
“Bareng aku saja sekalian,”
“Ah, nggak usah repot-repot, Lian, paling sebentar lagi busnya datang.” Ujarku sedikit ragu. Kemudian kedua mataku sibuk memandangi jalan raya, berharap bus kota yang sudah kutunggu sejak tadi segera menampakkan diri. Aku meliriknya sekilas dan entah mataku yang error atau memang benar saat kudapati air muka Lian berubah menjadi kecewa setelah mendengar penolakkanku tadi. Bodoh-bodoh. Aaarrghh ! yang benar saja, masa’ aku menyia-nyiakan kesempatanku berduan bersama Lian didalam mobilnya ? Tiara memang bodoh, Rutukku kesal.
“Udah jam setengah 7 lewat lho, Ra, 15 menit lagi pintu gerbang bakalan ditutup sama pak Jarwo.” Bujuk Lian semakin membuatku cemas. Aku berpikir-pikir sejenak, tetapi belum sempat aku memutuskan, Lian sudah menekan tombol di mobilnya sehingga membuat pintu sebelah kirinya terbuka lebar.
“Ayo buruan masuk, Ra, mikirnya nanti saja. Udah mepet nih.” Desak Lian seakan mampu membaca pikiran-pikiran yang berkecamuk didalam kepalaku. Aku segera mengangguk dan masuk kedalam mobil Lian.
Tahukah kamu, apa yang sedang kurasakan saat aku duduk berdua dengan Lian didalam mobilnya ? ya bagi kalian yang pernah jatuh cinta mungkin tahu jawabannya.
V.E.N.D.A.I.N.T.A.N.P.R.A.T.A.M.A
Sejak saat itu aku semakin suka padanya. Dia sangat baik dan perhatian padaku. Yang satu ini aku masih ragu, entah aku yang ke-geeran atau dia memang menaruh perhatian padaku. Setiap kali bertemu di koridor sekolah, dia selalu menyapaku dan tersenyum kepadaku. Tahukah kamu rasanya jatuh cinta ? memang benar kata orang, disaat kita jatuh cinta, kita tak pernah bisa lepas dari bayangan orang tersebut. Dimanapun kita berada, yang kita ingat selalu orang tersebut.
BERLEBIHAN ?
Tidak. Ini merupakan hal yang sangat wajar. Tidak ada yang bisa menyalahkan orang yang sedang jatuh cinta karena apa yang kita lakukan sering diluar kendali diri kita. Yeah, cinta memang membutakan. Dan seperti itulah jatuh cinta yang aku rasakan saat ini. Jatuh cinta memang mengasyikkan.
“Tiara Renata ?” panggil suara menggelegar dari depan kelas. Aku tetap tak bereaksi.
“Tiar,” Felis, teman sebangkuku, mengguncang tubuhku dengan tidak sabar. “Woy Tiar, kamu kenapa sih ? tuh dipanggil bu Devi juga.” Aku menatap Felis kesal karena telah merusak imajinasiku bersama Lian.
“Apaan sih, Fel ?” aku menggerutu dan bersiap-siap melanjutkan imajinasi yang sempat terputus. Felis geleng-geleng kepala. Telunjuk tangannya menunjuk sesuatu, aku segera mengikuti arah pandangnya dan ASTAGA...!!! didepan kelas, bu Devi sudah memandangku dengan pandangan yang mirip dengan predator yang sudah siap memangsa korbannya.
“TIARAAA !!!” teriak bu Devi semakin menggelegar. “Ibu perhatikan sedari tadi kamu senyum-senyum sendiri, ibu panggil berkali-kali juga tidak dengar. Kamu anggap ibu patung, huh ? sudah merasa pintar kamu ?!”
“Maaf, bu, saya...” aku menundukkan kepala tidak berani beradu pandang dengan guru muda itu.
“Kalau sudah merasa pintar, coba kamu kerjakan soal fisika nomor 3.” Perintah bu Devi semakin membuatku mati kutu.
“Maaf, bu, nomor 3 saya belum selesai mengerjakan.”
“Bagaimana bisa selesai orang kerjaannya dari tadi ngelamun terus. Apa tugas kamu bakalan selesai kalau cuman kamu senyum-senyumin seperti itu ?! ibu tidak mau tahu, pokoknya sekarang juga kamu maju kedepan, kerjakan sebisa kamu. Kalau benar-benar tidak bisa, kamu berdiri didepan. Saya tidak mengijinkan kamu duduk. Nanti setelah selesai pelajaran saya, kamu ikut saya ke ruangannya pak Musa. Mengerti ?!”
“Iya bu, saya mengerti.” Ujarku pasrah. Tuhan, kenapa aku harus berurusan dengan guru BP ? tidak adakah hal yang lebih menarik daripada harus mengunjungi ruang BP ? mungkin inilah efek jatuh cinta...
V.E.N.D.A.I.N.T.A.N.P.R.A.T.A.M.A
Surat peringatan itu masih teronggok dengan manis diatas meja nakas samping tempat tidurku. Siang tadi aku sukses digiring masuk kedalam ruangan pak Musa. Setelah diceramahi hampir 2 jam mengenai... entahlah, aku tidak seberapa memperhatikan perkataan beliau, bahkan sempat tertidur disela-sela ceramahannya tadi. Dan dari sini sudah bisa ditebak, kan ? ceramahan itu berakhir dengan pengurangan point, pengisisan buku pelanggaran dan yang terakhir sebuah surat peringatan yang ditujukan kepada kedua orangtuaku untuk ditanda tangani, kemudian diserahkan kepada pak Musa keesokan harinya.
Aku menghembuskan napas dengan kesal, mencoba menghalau pikiran-pikiran negatif yang sejak beberapa hari ini memenuhi benakku. Tidak berhasil. Jika sudah seperti ini aku harus cepat-cepat merilekskan hati dan pikiran dengan cara apa saja, salah satunya melakukan sesuatu yang menjadi kesukaanku, seperti memasang puzzle-puzzle yang berjumlah hingga ratusan keping yang harus disusun dengan benar.
Drrrtt... Drrrt... Drrrtt...Drrrtt...
Ponselku bergetar lama pertanda ada panggilan masuk. Aku mengambil ponsel yang tergeletak di ranjang tempat tidurku, lalu meliriknya sekilas. Aku mengernyit bingung saat mendapati sebuah nomor asing yang tertera di layar ponselku. Aku segera menekan tombol berwarna hijau—hening sejenak, hingga sebuah suara dari seberang menyapaku dengan ramah. Aku tertegun. Lagi-lagi, tanpa kuperintah jantungku kembali berdetak dengan kecepatan tidak normal.
“Ini benar nomornya Ara, kan ?” tanya suara itu lagi setelah tak mendengar jawaban dariku.
“I-iya. Ini siapa ?” tanyaku pura-pura tidak tahu padahal jelas-jelas aku mengenali suara itu.
“Ini Lian, Ra.”
“Oh Lian, kirain siapa.”
“Kamu kira cowok kamu ya yang nelpon ?” Lian tertawa renyah, membuat perasaanku semakin tidak karuan.
“Enggak kok,” kilahku cepat. “Aku nggak punya cowok kok Lian.” Kudengar Lian menghela napas lalu setengah berbisik ‘syukurlah’.
“Kenapa Lian, kok kedengarannya lega banget ?” tanyaku memastikan.
“Eh !? enggak... nggak pa-pa kok, Ra. Gimana kabarnya hari ini ? dengar-dengar tadi kamu masuk ruang BP, ya ? ternyata Ara nakal juga ya sampai-sampai masuk ruang BP.”
Duh nih orang kok tau sih ? malu-maluin aja, batinku resah.
“Nyantai aja kali, Ra, murid masuk BP itu wajar, yang nggak wajar itu kalo masuk penjara. Hahaha...” aku tertawa saat mendengar candaan Lian barusan. “Nah, gitu dong ketawa, kan lebih enak didengar daripada kesal mulu.”
“Iya-iya Lian, makasih udah ngehibur aku meskipun masih rada-rada kesal sama tuh guru. Ngomong-ngomong ada perlu apa ? tumben kok nelpon aku,” tanyaku memberanikan diri.
“Eh iya sampai lupa sama tujuan awalnya hehehe...” Lian menghela napas perlahan, lalu berkata, “Gini lho, Ra, mulai besok kita berangkat bareng yuk, daripada kamu nungguin bus yang datangnya juga belum pasti. Gimana mau ya ?”
“Tapi...”
“Nggak ada tapi-tapian,” potong Lian cepat. “Pokoknya besok pagi kamu udah stay didepan rumah jam 06.15 ya. Bye, Ra.” Aku heran dengan tingkah Lian yang menurutku tidak seperti biasanya. Apa benar dugaanku kalau Lian juga suka padaku ?
Ah jangan mimpi. Siapa tau Lian hanya ingin berteman denganku, Hiburku.
V.E.N.D.A.I.N.T.A.N.P.R.A.T.A.M.A
Hubunganku dengan Lian semakin dekat. Kami layaknya sepasang sahabat yang tak terpisahkan. Dimana ada aku disitu selalu ada Lian, begitu juga sebaliknya. Semua orang iri dengan kedekatan kami berdua. Mereka beranggapan bahwa kami adalah contoh sahabat sejati di dunia ini. Yeah, mungkin hanya sahabat dan nggak lebih, tetapi salahkah jika aku mengharapkan lebih dari sebuah persahabatan ?
Hingga suatu hari saat aku dan Lian berada di taman belakang rumahnya. Matahari sore mulai merambat menuju ke tempat peristirahatannya. Warna kuning kemerahan menghiasi langit cakrawala, beberapa ekor camar senja tampak berterbangan saling mendahului satu sama lain. Lian menatapku lama. Sedetik kemudian kedua tangannya menggenggam kedua tanganku. Jantungku kembali bergemuruh dibuatnya.
“Ra, mungkin ini kedengarannya lucu. Ini memang aneh dan nggak masuk akal, aku tau kalo hubungan pertemanan kita seharusnya nggak sampai sejauh ini. Tapi jujur, selama ini aku... aku suka sama kamu, Ra. Kamu mau kan jadi pacarku ?” tanyanya sambil menatapku penuh harap. Tuhan, adakah yang lebih indah daripada pengakuan singkat ini ? TIDAK SAMA SEKALI. Tuhan, kata-kata yang sejak dulu aku nanti-nantikan akhirnya terucap juga. Tanpa berpikir lagi aku segera menganggukkan kepala. Lian tersenyum lebar, kemudian mengecup keningku dan memelukku erat.
“Makasih, Ra, aku sayang banget sama kamu. Aku janji, aku nggak akan bikin kamu nangis.”
“Iya, aku percaya sama kamu Lian.”
“Berlian,” suara mama Lian mengejutkan kami berdua. Aku dan Lian cepat-cepat melepaskan diri masing-masing. Lian tersenyum lembut kepadaku.
“Iya ma, sebentar. Tenang saja, Ra mama nggak bakalan tau kok. Cuman kita dan Tuhan yang tau hubungan ini. Aku janji, aku nggak akan bongkar rahasia ini ke siapapun.” Aku mengangguk. Untuk kesekian kalinya aku belajar mempercayainya. “Aku nemuin mama dulu ya, sebentar saja kok.” Lian segera berlalu dari hadapanku. Diam-diam aku memutar kembali kejadian-kejadian yang aku lewatkan bersama Lian hari ini. Aku tersenyum ketika mengingat ekspresi Lian saat mengutarakan isi hatinya kepadaku, lalu saat dia untuk yang pertama kalinya mengecup keningku dan merasakan dekapan hangat tubuhnya walaupun hanya sebentar.
Ra, mungkin ini kedengarannya lucu. Ini memang aneh dan nggak masuk akal, aku tau kalo hubungan pertemanan kita seharusnya tak sampai sejauh ini...
Aku tahu Lian, hubungan ini tak seharusnya terjadi. Ini merupakan sebuah kesalahan besar. Kita seharusnya tidak boleh melakukan hubungan sejauh ini karena sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa bersatu.
V.E.N.D.A.I.N.T.A.N.P.R.A.T.A.M.A
“Berlian,” Ujar Nano sambil duduk disamping Lian. Diam-diam aku merasa cemburu melihat sikap agresif Nano saat mendekati pacarku. Aku ingat betul beberapa hari yang lalu saat aku dan Lian berjalan di koridor sekolah yang kebetulan sedang sepi, tiba-tiba saja Nano mencegat langkah kami berdua. Kulirik sekilas wajah Lian yang berubah menjadi kesal ketika melihat kedatangan Nano.
“Ada apa lagi sih, No ? apa perkataanku waktu itu belum jelas ? minggir-minggir, aku sama Ara mau lewat !” Lian menyeret tanganku meninggalkan Nano yang masih bergeming di tempat berdirinya.
“Tunggu, Lian, kamu nggak bisa seenaknya nolak aku tanpa alasan kayak gini. Aku suka kamu, oke ?! dan kamu nggak suka aku. Kamu nolak aku tanpa alasan yang jelas. Sekarang aku mau dengar apa alasan kamu nggak mau nerima cintaku ?” tanya Nano tak mau menyerah. Aku sangat kesal dengan Nano, dia tidak tau apa kalo Lian itu pacarku ? seenaknya saja memaksa Lian untuk menjadi pacarnya. Aku sudah membuka mulutku untuk memaki-maki Nano, tetapi tangan Lian mencengkeram tanganku seolah mengisyaratkan supaya ‘diam’, aku kembali terdiam meskipun dalam hati sudah uring-uringan setengah mati.
“Oke-oke kalo kamu mau tau alasannya,”—DEG. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Aku takut bila Lian tanpa sengaja membeberkan hubungan yang tidak wajar ini.
“Aku udah punya pacar. Sekarang kamu udah tau alasan aku, jadi aku minta jangan ganggu hidupku lagi !”
“Aku akan tetap nunggu kamu, Lian, apapun yang terjadi. Aku nggak peduli meskipun kamu udah punya cowok. Aku akan tunjukin ke kamu kalo aku lebih baik daripada pacarmu itu. Kalo perlu, suruh saja pacar kamu itu datang kehadapanku, bilang ke dia, AKU NANTANGIN DIA !!!” teriak Nano tak mau menyerah membuat nyaliku berubah ciut. Aku tau yang dimaksud Nano dengan pacar Lian—berarti itu aku. Lian memang resmi menjadi pacarku sejak sebulan yang lalu, pastinya tidak ada yang tau adanya hubungan terlarang diantara kami. Berhadapan dengan Nano ? yang benar saja, aku memang pacar Lian, tetapi aku nggak mau berurusan dengan cowok brengsek, nggak tau malu dan perebut pacar orang tersebut.
“Kamu tenang saja, Ra, aku tetap setia sama kamu kok. Nggak usah didengarin omongan cowok cupu kayak gitu.” Hibur Lian langsung membuat hatiku menjadi jauh lebih tenang.
“Kamu nggak nyerah juga ya, No ?” tanggap Lian dengan nada sinis. “Ayo, Ra, kita pergi dari sini, nggak nafsu makan jadinya.” Lian dan aku bersiap-siap bangkit dari kursi saat satu tangan Nano mencekal pergelangan tangan Lian dengar erat. Lagi-lagi kesabaranku di uji.
“Tetap disini kalo nggak mau rahasia kalian kebongkar.” Ancam Nano dengan suara tajam. Tubuhku tiba-tiba menegang. Rahasia apa ? jangan-jangan...
“Rahasia apa ?” sahutku cepat. Lian menoleh ke arahku dengan panik, aku hanya tersenyum samar berniat menghiburnya meskipun aku sendiri sama paniknya dengan Lian.
“Hahaha... kalo soal beginian saja kalian panik. Emang benar ya ?” Nano tersenyum sinis sambil menatap wajah kami bergantian. “Kenapa takut ya ? hahaha... wajahnya sampai merah kayak gitu.”
“Cepetan ngomong apa yang kamu maksud dengan rahasia itu ?”
“Dasar pasangan lesbi. Ckck... aku nggak nyangka kalo ternyata dibalik hubungan persahabatan kalian itu tersimpan rahasia besar. Gimana ya kalo satu sekolahan ini tau tentang rahasia itu ? heboh deh pastinya.”
“Jangan macam-macam, No !” Seru Lian. “Cepat katakan apa maumu ?”
“Mauku ? kalian benar-benar ingin tau keinginanku ?” Nano mengangkat bahunya sekilas, pandangan matanya yang tajam tetap tak mau melepaskan kami. “Aku ingin membuat kalian malu. Aku ingin ngeliat reaksi kalian seandainya satu sekolahan ini tau tentang hubungan menjijikkan itu, itung-itung balasan buat kamu, Lian, yang dulu udah pernah bikin aku malu karena ngemis-ngemis cinta kamu. Bye, girls, see you both tomorrow.” Ujarnya santai sambil meninggalkan kami yang masih tertegun.
V.E.N.D.A.I.N.T.A.N.P.R.A.T.A.M.A
PLAAKK...
Lian menutupi pipinya yang memerah akibat tamparan dari papanya. Aku hanya bisa berdiri canggung dibelakang Lian tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya. Kepalaku menunduk dalam-dalam, tidak berani menyaksikan kegeraman papa dan mama Lian kepada putri semata wayangnya tersebut.
“Mau jadi apa kamu, huh ? berani-beraninya merusak nama baik keluarga kita. Apa selama ini papa sama mamamu tidak pernah mengajarimu norma-norma ?” tanya papa Lian dengan suara menggelegar. Disampingnya, berdiri seorang wanita paruh baya yang berusaha menenangkan kemarahan suaminya sambil sesekali terisak pelan. Melihat semua itu aku semakin tidak tahan. Aku ingin pergi dari sini secepatnya, tetapi bagaimanapun juga ini kesalahanku dan sudah seharusnya aku ikut menanggung semua akibatnnya.
“Papa, maafkan Berlian,” ujar Lian bersusah payah mencoba berdamai dengan perasaannya sendiri. “Berlian tau ini salah, hubungan terlarang ini tidak semestinya terjadi, tapi... maaf,”
“Apa salah kami berdua, nak, sehingga kamu membalas kami dengan kelakuan buruk kamu itu ? apa kami kurang perhatian sama kamu ? apa mau kamu sebenarnya ? coba katakan sama mama dan papa sekarang,” Lian menggeleng-gelengkan kepalanya, setetes air mata jatuh membasahi wajah cantiknya. Ia berusaha memeluk mamanya, tetapi sebuah tangan milik papanya menghalangi niatnya.
“Maaf...”
“Semuanya sudah terjadi. Nama baik keluarga kita sudah rusak gara-gara kamu...”
“Maaf, om,” potongku cepat. “Kami berdua sama-sama sadar tentang hubungan ini. Kami berdua sama-sama menyadarinya, tetapi jujur, om, kami tidak pernah merencanakan hubungan ini sebelumnya. Saya dan Lian bertemu dan hubungan itu terjalin begitu saja, jadi saya mohon kepada om dan tante, jangan terlalu menyalahkan atau menyudutkan kami berdua, terutama Lian.” Ujarku dengan suaraku bergetar. Kulirik Lian yang masih membelakangiku, kemudian beralih kepada mamanya yang masih terisak di pelukan papa Lian dan pandanganku terhenti saat menyadari tatapan tajam papa Lian masih mengarah padaku. Tamatlah riwayatku, batinku.
“Ara,” panggil Lian cemas.
“Hahaha... kalian berdua sama saja. Sama-sama bodoh, sama-sama tidak bermoral !” komentar papa Lian membuat telingaku semakin panas. “Cepat kamu angkat kaki dari rumah ini. Dan yang harus kamu ingat bahwa, jangan sekali-sekali kamu menginjakkan kaki di rumah ini lagi, jangan ganggu kehidupan keluarga saya dan jangan kamu masuk kedalam kehidupan putri saya lagi jika nantinya kamu hanya ingin menghancurkannya. Mengerti ?!”
“B-baik, om, saya mengerti.”
“Ara ? papa nggak...” ujar Lian tergagap. Ia memandangku dan papanya secara bergantian.
“Baiklah. Sekarang kamu boleh meninggalkan rumah ini dan jangan pernah kembali lagi.” Ketus papa Lian sambil menyeret lenganku kuat-kuat. Aku hanya bisa meringis menahan nyeri pada lenganku yang kini memerah.
“Papa, nggak boleh sekasar itu sama Ara.”
“Diam !” bentak papanya. Lian hanya bisa memandangku yang semakin menjauh dengan pasrah. Aku tersenyum kepadanya sambil menggelengkan kepalaku perlahan.
“Nggak pa-pa, Lian.” Kataku tanpa suara sebelum pintu dihadapanku tertutup.
V.E.N.D.A.I.N.T.A.N.P.R.A.T.A.M.A
Sudah dua hari berlalu sejak kejadian malam hari itu di rumah Lian. Hari ini merupakan hari ke-tiga Lian tidak masuk sekolah. Aku sangat kesepian tanpanya, apalagi jika mengetahui bahwa semua teman-temanku mulai menjaga jarak denganku. Rupanya berita itu sudah menyebar ke seantero sekolah, bahkan sudah sempat mampir ke telinga para guru. Pak Hikam, kepala sekolahku, juga sering memanggilku bahkan beliau sudah menulis surat panggilan untuk kedua orangtuaku. Mama dan papa juga marah kepadaku, seperti halnya kedua orangtua Lian.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09.15, berarti sekarang waktunya pergantian mata pelajaran fisika—dan kau tahu, hal itu semakin membuatku tak bersemangat. Saat bu Mirna, guru biologi, meninggalkan ruang kelas, tak lama kemudian masuklah pak Arlan—selaku guru fisika yang juga merangkap sebagai wali kelasku—yang memberitahukan bahwa, mulai hari ini siswi yang bernama Berlian Biru atau yang biasa dipanggil Lian atau Berlian telah resmi keluar dari SMA Gemilang. Aku sempat ternganga saking terkejutnya mendengar berita tersebut. Lian keluar dari sekolah ? tetapi mengapa dia tidak mengabariku sebelumnya ?—sejak saat itu pikiranku semakin tidak konsen mengikuti pelajaran di sekolah dan aku memutuskan untuk mampir ke rumah Lian sepulang sekolah nanti. Aku bertekad bahwa aku harus bisa menemuinya dan meminta penjelasannya mengenai kepindahannya itu.
“Assalamu’alaikum,” ucapku sambil berkali-kali memencet bel diluar pagar rumah Lian, tetapi tetap saja tidak ada sahutan dari dalam rumah. Aku mengintip melalui celah-celah pagar rumah Lian dan sempat terkejut saat mendapati sebuah papan kayu besar berwarna putih yang bertuliskan huruf balok besar-besar : FOR SALE RUMAH DENGAN LUAS 25m X 30m. HUB BPK WIRAWAN : 085733XXX.
Aku terduduk lesu diatas rerumputan hijau didepan rumahnya. Aku sudah putus asa. Kemana lagi aku harus mencari Lian ? disisi lain aku tahu, semua kerabat-kerabat Lian bertempat tinggal di luar pulau atau bahkan ada yang tinggal di luar negeri, jadi pupus sudah harapanku untuk bertemu kembali dengannya meskipun hanya untuk mengucapkan maaf dan selamat tinggal.
“Non Tiara, kan ?” tanya sebuah suara yang sukses mengejutkanku. Aku berbalik dan seketika mataku berbinar-binar saat mengetahui bahwa suara itu milik bik Yum, pembantu rumah tangga yang dulunya sempat mengabdi di keluarga Lian.
“Bibik, apa kabar ?” tanyaku berbasa-basi.
“Kabar bibik baik-baik saja. Non, sendiri juga baik, kan ?” aku mengangguk sambil tersenyum ramah padanya. “Bibik tau, pasti Non Tiara kemari buat nyariin Non Berlian,” Lagi-lagi aku mengangguk.
“Tapi sayangnya Non Berlian bersama Tuan dan Nyonya baru kemarin siang perginya.” Jelas perempuan gembul tersebut. Aku hanya bisa manggut-manggut meskipun dalam hati aku sangat menyesalkan keputusan keluarga Lian.
“Bibik, tau nggak kemana perginya mereka ?” tanyaku penuh harap.
“Katanya sih mereka mau tinggal di Singapura, Non. Oya bibik jadi ingat kalau sebelum berangkat Non Berlian sempat nitipin surat ini ke bibik,” Bik Yum menyodorkan sebuah amplop berwarna biru muda kepadaku. “Kasihan lho Non Berlian sampai sembunyi-sembunyi ngasih suratnyanya soalnya takut ketahuan sama Tuan dan Nyonya. Kalau begitu bibik permisi dulu ya, Non.” Pamit Bik Yum.
“Terima kasih banyak, Bik.”
“Sama-sama, Non.” Ujarnya sambil berlalu dari hadapanku. Aku memandangi surat itu, kemudian memutuskan untuk membacanya.
Dear, Ara sahabatku sekaligus orang yang paling spesial buatku...
Maaf ya Ra, aku pergi nggak bilang-bilang kamu sebelumnya karena ini sangat mendadak dan percaya tidak, aku baru tahu rencana kepindahan keluargaku ini pagi harinya, saat aku bersiap-siap pergi ke sekolah tiba-tiba mama dan papa menghampiriku dan mengatakan bahwa aku nggak perlu ke sekolah lagi karena siang ini juga kami sekeluarga akan pindah. Kau tahu Ara, saat mereka berkata seperti itu aku sangat marah, apalagi saat mengetahui bahwa kami akan pergi ke luar negeri. Itu berarti kemungkinan kita akan bertemu lagi amat sangat kecil.
Mungkin bagi mereka, kepindahan ini untuk membuka lembaran-lembaran hidup yang baru dan melupakan kenyataan-kenyataan pahit di masa lalu. Aku sempat berpikir-pikir bahwa itu memang benar. Masa lalu biarlah berlalu dan hanya menjadi kenangan, masa lalu tidak boleh mempengaruhi kehidupan kita di masa yang akan datang. Kita sempat terpuruk dan sudah saatnya kita untuk bangkit menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Kenangan tidak akan bisa dilupakan karena bagaimanapun juga kita pernah memerankan satu episode hitam di masa lalu tersebut.
Ra, maafin aku yaa karena udah ngerusak hidup kamu. Aku yakin, kamu pasti akan nemuin orang yang memang benar-benar ditakdirkan Tuhan untukmu. Dan aku juga yakin, disinilah hidupku baru akan dimulai kembali. Selamat tinggal, Ara. Kamu adalah sahabat sekaligus orang terspesial yang pernah hidup di hatiku. Kenanglah aku sebagai sahabatmu...
From, seseorang yang selalu merindukanmu, Berlian Biru.
Aku tersenyum setelah membaca surat Lian. Tak ada satu tetes air mata pun yang keluar dari kedua mataku. “Selamat tinggal Lian, kamu adalah kenangan terindah di hidupku. Kamu sahabat yang paling istimewa bagiku. Jangan pernah melupakan aku...” kenangku sambil tersenyum bahagia.
Langganan:
Komentar (Atom)