Selasa, 12 Juni 2012

___Rain___

Rain Sudah setengah jam berlalu sejak bel pulang sekolah berbunyi. Jalanan yang tadinya ramai oleh anak-anak berseragam putih-abu, kini sudah mulai lengang. Hanya ada satu-dua murid saja yang masih menampakkan diri disekitar sekolah. Kulirik jam digital yang melingkari pergelangan tangan kiriku dengan kesal. Sudah setengah jam aku duduk di halte bus ini seorang diri. Kulirik sekali lagi jam digitalku. Hah... pukul 16.15. Ya Tuhan, aku semakin resah. Bukan resah memikirkan bus yang tak kunjung datang, melainkan resah karena melihat langit sore yang mendadak mendung. “Ya Tuhan, jangan hujan dulu sebelum aku tiba di rumah,” mohonku sambil menengadahkan kepala menatap langit tak berawan diatas sana. Aku semakin pucat ketika mendengar gemuruh petir saling bersaut-sautan di langit. Dan benar saja, tak lama kemudian langit mulai menampakkan amarahnya melalui tetesan-tetesannya yang jatuh membasahi bumi. Langit masih saja mendung. Hembusan angin disekitarku membuat tubuhku semakin menggigil kedinginan. Aku sibuk merutuki diriku sendiri yang lupa membawa jaket. Aku melirik kekanan dan kekiri, lalu menghembuskan napas putus asa. Ini merupakan pengalaman pertamaku naik bus sepulang sekolah, sebelumnya aku selalu naik angkot yang selalu berhenti di depan sekolah. Dan aku sangat menyesalkan keputusanku kali ini yang memilih naik bus—yang pikirku saat itu—mungkin bisa lebih menghemat ongkos, daripada naik angkot yang harus oper dua kali agar bisa sampai tepat di depan rumahku. Tetapi nyatanya aku telah menghabiskan waktu setengah jamku hanya dengan merutuki kebodohanku seperti ini. Aku bersyukur ketika melihat seorang siswa laki-laki berdiri di pojokkan halte. Cowok itu sibuk menerawang hujan, kedua tangannya sesekali terulur kedepan bermaksud ingin menyentuh dinginnya air hujan. Berarti bukan hanya aku aja yang merasa terkurung ditengah-tengah hujan deras seperti ini, pikirku sedikit lebih tenang. Aku menghampiri cowok berseragam batik biru muda dengan celana panjang berwarna putih—berbeda dengan seragam yang sedang kukenakan saat ini. Kini, aku berada tepat disamping kanannya. Dia melirikku sekilas ketika menyadari kedatanganku. Aku tersenyum tipis ke arahnya, tetapi dia tak membalas senyumku. Yang ada, dia malah sibuk memandangi hujan yang turun begitu derasnya. “Kamu suka hujan ya ?” tanyaku memecah keheningan. Cowok itu mengangkat bahunya sekilas. Setelah itu yang terdengar hanyalah bunyi gemericik air hujan di sekitar kami. “Gue nggak suka hujan,” ujarnya lirih, pandangan matanya seolah sedang membayangkan suatu scene kehidupannya di masa lalu. “Yang suka hujan bukan gue, tetapi sahabat gue.” mulutnya kembali terbuka, tetapi tak ada suara sedikitpun yang berhasil keluar dari bibir merahnya. Ia tampak enggan membahas tentang hujan dan—sahabatnya itu. Mungkin ada kenangan gelap dibalik itu semua. “Gue ketemu dia pas lagi hujan kayak gini. Dia berdiri di pojokan sini sambil menggigil kedinginan. Gue nggak bisa diam aja waktu ngelihat pemandangan seperti itu. Akhirnya gue samperin dia, gue ajak ngomong dia dan sejak saat itu kita jadi deket,” ia meringis pelan. Aku tertegun melihat ekspresinya yang seperti itu. “Hujan yang telah mempertemukan sekaligus memisahkan kita. Dia menjahui gue gitu aja, setelah itu kabar terakhir yang gue terima tentang dia—dia udah pergi jauh.” Lanjutnya dengan suara parau. “Pergi kemana ?” tanyaku polos sambil memperhatikan raut wajahnya. Ia menoleh, memandangku sejenak, kemudian membuang muka. Cowok itu menghembuskan napas panjang. “Meninggal.” “Maaf,” ujarku merasa tak enak hati. Cowok itu menoleh ke arahku, kemudian sebuah senyum lembut mampir di bibirnya. Ia menggelengkan kepala. “Nggak apa-apa kok, lo nggak usah merasa nggak enak kayak gitu. Nyantai aja sama gue. Lo Irish, kan ?” aku mengeryitkan dahi ketika mendengar namaku disebut. “Kok kamu tau ? Apa kita pernah bertemu atau berkenalan sebelumnya ?” tanyaku ragu. Ia mengangguk, kemudian menggeleng. Mungkin saat ini kernyitan di dahiku semakin berlipat-lipat. “Kita emang pernah ketemu, tetapi secara nggak langsung. Dia selalu cerita ke gue tentang saudara kembarnya yang wajahnya super mirip dengannya yang bernama Irish. Oya, kenalin nama gue Redo. Gue yakin, lo pasti udah pernah dengar nama gue disebut-sebut ratusan kali sama Orish,” Seketika tubuhku menegang. Orish ? Apa hubungannya dia dengan saudara kembarku ? “Lo pasti pernah dengar dia ngomong seperti ini, ‘Namanya Redo—Redonya Orish—orang yang paling dekat dengan Orish selain kamu...’, iya kan ?” aku mengangguk. Tiba-tiba kenangan tentang Orish menguar begitu saja didalam kepalaku. “Orish, kok kita kesini sih ? Kita kan biasanya nunggu angkot disana, bukan disini. Emangnya kita mau naik bus ?” “Sssttt... jangan berisik !” protesnya. Kedua matanya yang kecil terus mencari-cari sesuatu di setiap sudut halte. “Nah, dia udah datang !” serunya heboh. “Dia siapa ?” tanyaku bingung sambil mengikuti arah pandangan matanya. Tiba-tiba ia bangkit berdiri sambil menarik lenganku kuat-kuat. “Ayo kita pulang !” “Hah ?! Eh, tunggu sebentar. Jadi, kita nggak jadi naik bus nih ?” “Emang siapa yang mau naik bus ?” “Kamu sendiri kan yang ngajak aku ke halte ini, itu berarti hari ini kita pulangnya naik bus, bukan naik angkot seperti biasanya.” Protesku semakin tak mengerti dengan jalan pikirannya. “Kata siapa ? Aku ajak kamu kesini karena aku lagi ada urusan.” “Urusan apa ? Urusan yang mana, Orish ?” “Udah ah jangan bawel mulu, ntar keburu angkotnya pergi. Ayo !” Orish menarik lenganku supaya aku lekas berdiri, aku menghembuskan napas lirih. Memang susah bila berhadapan dengan saudara kembarku yang satu ini. Saat aku hendak berdiri, tanpa sengaja pandanganku bertabrakan dengan seorang cowok berwajah tampan—berseragam batik biru muda dengan celana panjang berwarna putih. Aku tertegun sejenak. Tiba-tiba jantungku mulai berdegup kencang. Sejak saat itu aku sadar bahwa aku menyukai lelaki yang berdiri di pojokan halte itu. *** “Kamu kok kelihatannya senang sekali kalo nyeritain tentang dia ?” tanyaku pada Orish ketika kami berdua sedang jalan-jalan di Mall Podok Indah. Ia tersenyum tipis. “Namanya bukan ‘dia’, Irish. Namanya Redo—Redonya Orish—orang yang paling dekat dengan Orish selain kamu. Dia sahabat Orish. Orish selalu percaya sama dia.” “Kamu suka ya sama dia ?” godaku membuat Orish menjadi salah tingkah. Tetapi tiba-tiba ia memegangi keningnya. Tubuhnya sedikit sempoyongan. Sebelah tangannya yang lain mencekal lenganku kuat-kuat hingga terasa nyeri. Barang-barang belanjaannnya jatuh tercecer diatas eskalator. Aku semakin panik dibuatnya. “Kamu kena...” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku ketika terdengar jeritan seseorang yang berdiri tepat dibelakang Orish ketika tubuh Orish jatuh menimpa tubuh orang tersebut. “Jadi kamu sahabatnya Orish yang selalu dia ceritain ke aku ?” Redo mengangguk. Lidahku terasa kelu berhadapan dengan seseorang yang diam-diam selalu aku perhatikan akhir-akhir ini. Dia orang yang selama ini kami kagumi. Ya kami, aku dan Orish. Saat itu juga aku merasa bersalah kepada Orish. Aku telah merebut seseorang yang ia sukai. “Orish nggak bermaksud ngejahuin kamu, Do, dia punya alasan tertentu untuk itu. Dia nggak mau ngelihat kamu sedih kalo sewaktu-waktu dia pergi ninggalin kamu,” “Orish !” panggilku dari luar kamarnya. Tak ada sahutan dari dalam. Aku pun memutuskan masuk kedalam kamarnya. Kosong. “Orish, kamu dimana sih ? Ditunggu ayah sama bunda di meja makan tuh.” Samar-samar terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandinya. Awalnya aku tak menggubrisnya. Aku berpikir, mungkin saat itu Orish sedang mandi sehingga tak mendengar panggilanku sedari tadi. Tetapi kedua mataku terbelalak ketika melihat air dari dalam kamar mandi sudah menggenangi sebagian sudut lantai di kamarnya. Dan air itu berwarna MERAH ! Aku membuka pintu kamar mandi dan langsung terpaku di ambang pintunya. Dibagian pojok kamar mandi, aku melihat tubuh Orish tergeletak lemas. Wajahnya pucat. Tangan kanannya menggenggam sebuah cutter yang di ujungnya meneteskan darahnya. “Orish sakit parah. Dia sangat terpukul ketika Dokter berkata, Itu adalah jenis penyakit baru yang belum ada obatnya sampai sekarang. Sejak ia di vonis seperti itu, hidupnya nggak lagi sama. Ia menjadi pribadi yang sangat tertutup. Tidak ada lagi Orish yang selalu ceria seperti biasanya. Satu hari setelah ia memutuskan hubungan pertemanan kalian, ia memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Mengakhiri dengan caranya sendiri. Hari itu adalah puncak dari semuanya...” Isak tangisku pecah ketika mengingat kejadian sebulan yang lalu di kamar mandi Orish. “Gue tau semuanya terjadi begitu cepat. Gue udah kehilangan Orish dan sekarang gue nggak mau kehilangan ‘Orish gue’ yang lain,” Redo memegang kedua bahuku. Ia menghapus air mata yang menggantung di kedua mataku. Lagi-lagi ia tersenyum, senyum itu tidak dari bibirnya melainkan dari kedua matanya. “Sebelum kami berpisah, ia sempat nyuruh gue berjanji satu hal. Ia nyuruh gue buat jagain elo, Rish. Orish pernah bilang ke gue kalo saudara kembarnya diam-diam sering merhatiin gue di halte ini.” kurasakan kedua pipiku menghangat setelah mendengar ucapannya barusan. Aku segera memeluknya erat. Dia pun balas memelukku. “Ternyata hujan telah merencanakan semuanya. Tanpa hujan gue nggak akan ketemu elo sama Orish.” Iya memang benar, tanpa hujan kisah ini tidak akan pernah ada. Kisah antara kamu, aku dan Orish. Pertemuan kita bertiga.