Sabtu, 19 November 2011

SEBUAH KALUNG (the last : part 4) --- by : Venda Intan Pratama

Semilir angin berhembus lembut menerbangkan beberapa helai anak rambutku. Sebenarnya ini adalah hari yang sangat ingin kuhindari. Aku tak tau persis mengapa aku merasa seperti itu, lagi-lagi aku dilanda kebingungan, perasaanku tak tenang. Aku berdiri diam diambang pintu sembari memperhatikan mama dan papa sedang sibuk mengangkut 2 buah koper berukuran besar dan sedang. Rencananya mereka berdua akan terbang ke negeri Paman Sam untuk mengurus bisnis mereka yang sepertinya sedang dilanda masalah besar.
            “Ma-pa, jangan pergi.” Rengekku tiba-tiba. Aku sendiri seperti tak sadar ketika berkata seperti itu. sontak mama dan papa memandangku dengan pandangan aneh. “Leta mohon...”
            “Jangan seperti anak kecil Leta.” Ujar papa dingin, lalu beliau melanjutkan kesibukannya memasukkan semua barang bawaan kedalam jok mobil.
            “Tapi...”
            “Ada apa denganmu Leta ?” potong mama.
            “Perasaan Leta gak enak, ma. Leta merasa akan ada sesuatu yang buruk.” Kataku dengan suara melemah, air mataku sudah merebak, mama mengelus-elus pundakku dan mengecup keningku lembut.
            “Mama dan papa akan baik-baik saja sayang, kamu gak perlu khawatir.” Ujar mama kali ini sambil mengecup kening saudara kembarku.
            “Ma...”
            “Udahlah kak, lo kenapa sih ?” kali ini Lita angkat bicara.
“Tuhan, aku tak mau kejadian buruk menimpa keluargaku, aku tak mau kehilangan mama, papa dan adikku. Andai mereka mengerti perasaanku, andai mereka mengerti apa yang sedang kupikirkan. Tuhan, kali ini aku merasa gagal lagi untuk menyelamatkan mereka. Aku sudah gagal untuk menyakinkan mereka, ini sudah yang ke 2 kalinya setelah kejadian di sekolah siang lalu.”
“Baik-baik ya sayang, papa sama mama cuman seminggu disana.” Ujar mama membuyarkan semua lamunanku. Aku menatap kepergian mereka nanar.
“Tuhan, lindungi mereka...”
###
            Malam ini aku sukses tak bisa tidur. Sebentar-sebentar aku terbangun dengan keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhku. Aku melihat Lita sudah tertidur pulas disampingku. Adikku memintaku untuk menemaninya tidur di kamarnya selama mama dan papa tidak ada di rumah. Aku pun menerima permintaannya tanpa banyak protes karena aku juga merasa kasihan pada Lita jika harus tidur sendiri, meskipun selama ini Lita selalu menolak jika ada yang mau menemaninya tidur dan lebih memilih untuk tidur sendiri di kamarnya yang letaknya berseberangan dengan kamarku.
            Aku menyalakan lampu disamping ranjang Lita. Pendar-pendar keemasannya langsung memenuhi ruang kamar yang sangat besar ini. Aku melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Aku berjalan menghampiri meja TV yang ada di pojok ruangan yang terletak diatas meja kecil. Aku merasa ini diluar kendaliku, aku tak sadar sepenuhnya saat tanganku menekan tombol power TV sehingga membuatnya menyala. Aku memperhatikan setiap chanel TV dan berhenti pada satu stasiun TV yang sedang menyiarkan berita pagi. Aku memperhatikannya tanpa minat, tanganku sudah bersiap-siap akan mengganti chanel ke stasiun TV lain saat satu berita membuat tubuhku menegang. Aku mengeraskan volume TV.
            “Sebuah pesawat boing MA-60 yang diberangkatkan dari Jakarta menuju Amerika diperkirakan hilang. Semua petugas telah dikerakan untuk mencari pesawat dan awaknya, tetapi mereka berasumsi bahwa semua awak pesawat tersebut tidak akan selamat. Inilah daftar nama penumpang pesawat boing MA-60 : ....” kepalaku menjadi berat dan berputar-putar saat kulihat nama papa dan mama tercantum di daftar nama penumpang pesawat yang hilang. setelah itu hanya suara isak tangisku yang terdengar.
###
            Aku memandang kosong pada dua gundukan tanah yang masih basah dihadapanku. Didalam dua gundukan itu terdapat tubuh papa dan mama yang baru 10 menit lalu dikebumikan.
“Ayo kak kita pulang.” Ujar suara serak disampingku. Aku menoleh memandang mata sayu adikku cukup lama sebelum akhirnya aku menggeleng pelan.
“Yaudah aku duluan ya kak.” Lita meninggalkanku seorang diri di tempat pemakaman yang sudah mulai sepi ini.
Seseorang menepuk pundakku dari belakang, aku menoleh pada sosok lelaki itu. kedua alisku langsung bertaut ketika mulai ingat bahwa lelaki itu adalah orang yang sudah memberiku sebuah kalung misterius yang menjadi awal dari semua kejadian aneh yang sering kualami.
            “Inilah  yang lo inginkan, Leta,” Ujarnya sambil tersenyum sinis. Aku menatapnya tajam. “lo yang udah menginginkan kematian ini, bukan ?” tanyanya sembari menaikkan sebelah alisnya. Tanpa sadar aku menggeleng dan menggigit bibir bawahku dengan kuat.
            “gue gak ngerti maksud lo !!” tandasku dengan suara tercekat.
            “Jangan pura-pura bego. Coba lo inget-inget lagi keinginan lo beberapa taun yang lalu, lo yang saat itu iri dengan kecantikan dan kepintaran Levita hingga ngebuat mata hati lo buta. Udah berapa kali lo berusaha nyingkirin Levita dari kehidupan lo, hah ? tapi sayangnya usaha lo semua gagal. Lo sangat benci sama tuh cewek karena lo merasa kehadirannya yang notabene adalah murid baru di sekolah lo, 1 taun yang lalu, bisa menggeser posisi lo sebagai The Queen of This Year. Iya kan ?
“Dan untuk kematian bokap-nyokap lo itu juga karena kesalahan lo. Lo merasa iri dengan Aviolitta karena bokap-nyokap lo lebih merhatiin dia daripada elo. Dan lo inget kalimat yang lo ucapin di kamar saat nyokap lo marahin lo ? ‘Gue benci sama papa, gue benci sama mama. Mereka selalu pilih kasih sama gue dan Lita. Gue benci sama Lita, gue benci karena gue dilahirin kembar. Gue pengen mereka mati.’ Nah, sekarang lo inget kan ?”
“Ak...aku...” suaraku tercekat. Aku merasa bersalah.
“Dan lo pernah mikir gak, kenapa tuh kalung ada tulisannya ‘wish’ di tengah-tengahnya ?” tanyanya lalu disambut dengan gelengan kepalaku.
“Karena itulah yang menjadi keinginan elo. Seharusnya lo kudu mikir dulu sebelum ngomong karena semua yang lo omongin nantinya bisa ngehancurin diri elo sendiri. Be careful with what you wish, Avioletta Andriana, dan sebentar lagi lo akan liat sendiri apa yang akan terjadi pada adik lo.” Ujarnya sebelum pergi dari hadapanku. Aku berbalik untuk melihat kepergian cowok aneh itu, tetapi sayangnya bayangan cowok itu sudah menghilang.
Aku berjalan menyusuri jalanan makam yang terlihat lengang. Pikiranku disesaki oleh rasa bersalah dan penyesalan yang teramat besar. Aku terisak tanpa suara sambil terus berjalan.
Aku melihat dari kejauhan Lita akan menyebrang jalan didepan pintu gerbang makam. Lita terlihat sangat terpukul atas meninggalnya papa dan mama. Dari arah barat kulihat sebuah truk melaju kencang kearahnya, aku yang tersadar dari lamunanku segera berlari menuju Lita yang jaraknya lumayan jauh dari tempatku. Aku terus berlari sambil menyerukan namanya.
BRAKKKK !!!
            Aku terhenti dengan nafas yang semakin memburu di dadaku. Aku menutup mulut dengan kedua tanganku kuat-kuat, tak lama kemudian jerit histerisku seakan memecahkan keheningan di pemakaman ini saat kusaksikan tubuh Lita terbujur kaku dihadapanku.
Tinnn...tinnnn !!!
            Suara itu menyentakkanku kembali ke alam sadarku. Aku mengusap kedua mataku yang tiba-tiba berair, aku yakin tadi hanyalah halusinasiku. Ya hanya halusinasi, tetapi aku yakin kejadian itu akan segera menjadi kenyataan. Aku memandang berkeliling berharap segera menemukan Lita, tetapi harapanku sirna karena rupanya Lita sudah keluar dari area pemakaman ini.
            Aku melangkahkan kakiku lebar-lebar mungkin sudah setengah berlari sekarang. kepalaku terus ku tolehkan kekanan dan kekiri, memutari area pemakaman ini. kurasakan jantungku berdegup kencang, degupan ini bukan disebabkan karena aku habis berlari tadi. Tapi degupan ini karena adanya sesuatu yang ganjil yang mungkin akan terjadi. Kelegaan mengaliri seluruh tubuhku saat kutemukan Lita berdiri dipinggir jalan, Lita sepertinya akan menyeberangi jalan yang sangat padat oleh kendaraan. Kekhawatiran mulai muncul di hatiku sehingga aku harus berlari lagi agar segera sampai ketempatnya.
Kali ini benar-benar nyata, suara klakson truk itu terdengar jelas menggema dari kejauhan. Aku mempercepat lariku sambil terus berdo’a dalam hati. Jarakku dengan Lita sudah semakin dekat, tetapi Lita yang sedang menunduk tak memperhatikan jalan membuat semuanya menjadi runyam.
“Litaa, awass !!” teriakku nyaring, tetapi Lita tetap asik dengan lamunannya sehingga tak menggubris teriakkanku.
“Ayo sedikit lagi, Leta, sebelum semuanya terlambat.” Ujarku memberi semangat.
“Litaaaaaa..... !!!” teriakku lagi. Kali ini Lita merespon panggilanku, cewek itu menoleh kearahku, tetapi wajahnya menjadi pucat saat menyadari sebuah truk besar sedang melaju cepat kearahnya. Lita menggeleng, menutup matanya rapat-rapat.
Tiiiinnnn......
            “Lita, awasss !!” aku mendorong tubuh adikku hingga tersungkur di tanah. Aku senang karena telah berhasil menolong adikku, tetapi berakibat fatal bagi diriku sendiri yang tak sempat menyelamatkan diri.
Ciiittt....Braaakkk !!!
            Tubuhku terlempar ke udara kemudian mendarat beberapa meter dari tempat kejadian. Aku merasa sekitarku menjadi basah dan berwarna merah, kulirik jalanan disekitarku yang mulai dipenuhi orang-orang yang berdesak-desakkan ingin menolongku. Lita menerobos kerumunan orang yang mengelilingiku. Ia terduduk lemas dan menangis disamping tubuhku.
            “Kakak tahan sebentar ya, sebentar lagi ambulan datang.” Ujarnya dengan suaranya yang terdengar asing dan lebih berat. Butiran air mata mengintip diujung kedua kelopak matanya. Aku menggeleng lemah.
“Kakak gak boleh begitu, Kak Leta harus kuat, Lita akan selalu ada disamping kakak.”
“Lit...thaa,” ujarku dengan susah payah. “Lhittaah, janghann nangiss, inhi hukumam...mhan buatt kakak.” Lita semakin terisak disampingku, aku berusaha mengelap air mata yang menetes di pipinya. Noda darah mengotori wajah putihnya.
“Hukuman apa kak ? kakak gak salah apa-apa. Kakak jangan tinggalin Lita sendirian, Lita disini sudah gak punya siapa-siapa lagi kak.”
“Tiddhak Litha, kakakk akhan sselalu adda dhi hathiim..mu.” ujarku. Perlahan-lahan kesadaranku mulai menghilang, kedua mataku menutup rapat dan mustahil jika terbuka kembali.
###
Epilog :
2 minggu kemudian...
            Ditemukan mayat seorang gadis berusia 17 tahun mengapung di sungai Cigede. Menurut penuturan beberapa warga disekitar sungai itu, sudah sejak beberpa hari yang lalu gadis itu terlihat mondar-mandir disekitar sungai. Menurut penuturan saksi pula, gadis itu diperkirakan mengalami gangguan jiwa. Disaku celana pendeknya juga telah ditemukan sebuah kartu identitas dan baru diketahui bahwa gadis belia itu bernama Aviolitta Andriana, putri seorang pengusaha kaya yang telah meninggal akibat sebuah kecelakaan pesawat beberapa minggu yang lalu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar