‘Cita-cita dan harapan adalah komponen yang selalu dimiliki setiap manusia. Hasil dan kesuksesan yang nantinya juga akan dimiliki dan dinikmati oleh setiap manusia. Jika kita menanam suatu kebaikan hasilnya juga akan baik, baik untuk kita, keluarga kita, maupun lingkungan di sekitar kita.’
Ia tersenyum bahagia, tanpa disadarinya kedua air matanya meleleh membasahi kedua belah pipinya. Mama dan papa juga ikut tersenyum dan menyemangati Qila yang saat ini sedang berdiri diatas panggung megah yang menjadi saksi betapa berbakatnya gadis belia ini.
“Saya panjatkan banyak terima kasih kepada Allah SWT yang sudah melimpahkan rahmatnya sehingga karya saya merupakan salah satu yang terbaik untuk lomba menulis ini dan juga terima kasih untuk mama dan papa, kakak serta teman-teman yang selama ini mendukung saya. Terima kasih.” Ucapnya dengan binar kebahagiaan yang terlihat jelas di kedua matanya.
###
Aqila Rasyaputri (Qila) :
Kenalkan namaku Aqila Rasyaputri, orang-orang biasa memanggilku Qila. Aku anak paling bungsu dari 2 bersaudara, kakakku Adelia Putri Himawan atau akrabnya disapa Adel adalah seorang model terkenal yang wajahnya selalu menghiasi cover majalah muslimah di Indonesia. Cita-cita dan profesi kita sangatlah berbeda, tetapi mama pernah bilang “Apalah arti dari itu semua yang penting kita terus berusaha untuk saling toleransi satu sama lain.” Ya mama benar sekali, hidup itu pilihan tergantung kita mau memilih yang mana, yang sekiranya baik untuk kita dan baik untuk kehidupan kita kelak.
‘Hidup terkadang tak adil. Kita hidup untuk bahagia, kita hidup untuk kesedihan. Disaat kita tertawa bahagia tanpa disadari disaat itu juga banyak orang yang tak mampu tertawa bahagia seperti kita. Apalah arti hidup ini jika tak adil...?’
Aku menutup buku catatanku, lalu memperhatikan kesibukan jalanan senja disekitarku lewat kaca mobilku. Sangat padat, sesak, batinku. Aku menyapukan pandangan kearah sekelompok anak jalanan yang mungkin seumuran diriku yang saat itu sedang bermain, mereka nampak bahagia. Aku membuka buku catatanku lagi, kali ini tampak berpikir sejenak kemudian tersenyum saat satu ide melintas di pikiranku.
‘Hidupku sangat beruntung jika dibandingkan dengan anak-anak jalanan ini. Mereka butuh perhatian, kasih sayang, pendidikan, rumah. Huh! Kenapa kita mau saja dipermainkan oleh hidup ? jika aku menjadi bagian dari mereka, apakah hidupku juga akan berubah ? mama, papa, kakak, teman-teman, pendidikan, rumah, semuanya apa juga akan berubah ? aku ingin merasakan apa yang mereka rasakan, aku ingin mengabadikan setiap jengkal kehidupanku bersama mereka. Sekali saja, sebelum semuanya terlambat. Aku ingin berbagi kebahagiaan bersama mereka, berbagi susah bersama mereka, mengabadikan semuanya bukan dalam sebuah lembaran hasil jepretan karena aku sama sekali tak ahli dalam bidang itu. Yang kumau adalah mengabadikan kehidupan kasar ini dalam karyaku, karya tulis yang nantinya akan menjadi penerang, menjadi cermin pantulan kehidupan bagi semua orang agar lebih menghargai hidup yang selalu bergulir bagaikan roda raksasa, terkadang diatas terkadang pula dibawah.’
###
Aku dan Kelvin sahabatku, duduk berdua ditepian jalan raya yang saat itu terlihat sangat padat, tentu saja karena hari menjelang sore dan semua orang sibuk kembali ke rumahnya masing-masing setelah seharian berkutat dengan pekerjaan yang begitu menguras pikiran dan tenaga.
“Aku ingin ngerasain hidup seperti mereka, Vin. Kehidupan sederhana, kehidupan yang keras tetapi sangat bermakna. Mau ya, Vin, kamu ngebantu aku.” ujarku sambil menatap penuh harap pada Kelvin.
“Bantu apa ?” tanyanya tak mengerti maksudku.
Aku tersenyum, entah apa yang membuatku merasa sebahagia ini. “Aku ingin mencoba hidup seperti mereka, aku ingin membuat cerita tentang mereka.” Tunjukku pada segerombolan anak-anak jalanan. “Kamu mau kan bantuin aku, please ?” lama Kelvin tak menyahut, ia nampak sedang berpikir keras, tetapi kemudian Kelvin tersenyum sambil menatap dalam mataku lalu ia mengangguk. Hal itulah yang membuatku bahagia, memiliki seorang sahabat yang begitu pengertian. Ia, Kelvin Putra atau yang biasa dipanggil Kelvin adalah satu-satunya sahabat yang paling baik diantara semua yang terbaik. Takdir mempertemukan kita 2 tahun yang lalu lewat sebuah lomba Tulis Karya yang diadakan di Surabaya. Dengan hobby dan cita-cita yang sama, kitapun saling mendukung satu sama lain yang tentunya berhubungan dengan dunia tulis.
‘Sekali lagi terima kasih, Kelvin.’
###
Matahari begitu terik menyinari bumi tanpa malu-malu. Udara panas serasa seperti membakar setiap pori-pori yang menempel di tubuhku. Awan-awan tampak mengggumpal di angkasa dengan butirannya yang putih terlihat seperti memayungi permukaan kehidupan bumi dari hantaman panas sang dewa cahaya. Angin bertiup sepoi-sepoi semakin menentramkan jiwa yang berkelana ikut larut dalam kehidupan keras di sekitarku.
Aku dan Kelvin duduk di trotoar pinggir jalan sambil mengamati tingkah laku anak-anak jalanan di sekitar kita. Aku sibuk menuliskan sesuatu di buku catatan dan sesekali tersenyum kearah teman-teman baruku itu.
“Dia siapa ?” tanyaku pada Shani yang duduk di samping kananku sambil menunjuk seorang cowok yang sedang memainkan gitarnya diseberang, terlihat ia sedang berkomat-kamit. Sepertinya sedang bernyanyi. “Namanya Ale, dia juga seumuran kita kok, tetapi orangnya sedikit keras dan suka menyendiri seperti sekarang ini.”
“Aku kesana dulu ya.” Aku meletakkan buku catatanku yang masih terbuka, kemudian menghampiri Ale yang sedang duduk di bawah pohon peneduh jalan.
“Hai aku Qila, kamu Ale kan ? Salam kenal ya, Le.” Sapaku ramah. Sesaat ia berhenti memetik gitar lalu lewat sorot matanya ia menatapku dengan pandangan tajam dan datar.
“Udah tau kan. Yaudah.” Tukas Ale melengos meninggalkanku yang masih diam terpaku. “Ale orangnya emang seperti itu. keras dan cuek.” Celoteh Erin yang tahu-tahu sudah berada di sebelahku.
“Yuk kita kembali kesana.” Ujar Eka menunjuk kearah Shani dan Kelvin yang sedang melambai kearah kami bertiga.
###
‘Banyak yang tak mengetahui betapa beruntungnya hidup saat kita saling berbagi, berbagi dalam hal apa saja. Aku baru menyadarinya sekarang, ya memang tak semudah membalikan telapak tangan, tetapi paling tidak tak sesulit membalikan telapak tangan pula jika kita mau mempelajarinya. Mereka lebih berpengalaman dalam mengarungi kerasnya hidup, mereka teman-teman baruku. Mereka berlian hitam yang sangat mahal harganya jika di jual, tetapi sayangnya tak satupun dari semua orang yang memperhatikan mereka, nasib mereka. Aku akan membantu kalian teman, cita-cita kalian perlu diperjuangkan. Tak boleh ada yang menghalangi cita-cita kalian. Aku janji aku akan membantu kalian Eka, Shani, Erin, dan cowok keras yang super cuek, Ale.” Tiba-tiba saja aku merasa pusing. Kepalaku serasa berat seperti tertimpa puluhan godam raksasa. Pandanganku tidak fokus. Darah segar mengalir dari hidungku dan menetes di buku catatanku. “Ya Tuhan, aku mohon jangan sekarang.” Gumamku.
“Ngapain kamu, dek ?” suara kak Adel benar-benar mengejutkanku. Aku buru-buru menghapus noda darah di hidung dan buku catatanku, lalu berbalik menatap kak Adel dengan tersenyum. “Gak pa-pa kok, kak, ini Qila lagi nulis cerita.” Jawabku sekenanya.
“Adel, Qila ayo makan. Mama sama papa tungguin di bawah.” Teriakan mama terdengar sampai ke dalam kamarku. Mau tak mau kami berduapun segera turun ke bawah untuk makan bersama.
“Qil, kamu kenapa sayang ? papa lihat dari tadi kok melamun.” Tanya papa. Aku hanya menggeleng. “Gak pa-pa kok, pa. Emm pa-ma, Qila boleh ngomong sesuatu ?”
“Ngomong aja sayang.” Kata mama lembut, akupun tersenyum. “Qila mau minta sesuatu, tapi papa sama mama jangan marah ya ? Emm... pa-ma, mau ya bantuin teman Qila ?” kataku dengan tak yakin.
“Teman kamu yang mana, sayang ? Kelvin ?” tanya mama bingung. Aku menggeleng. “Bukan, tapi... teman-teman jalanan Qila. Qila kasihan sama mereka, pa-ma, Qila pengen bantuin mereka. Qila minjem uang mama-papa ya, nanti Qila ganti sama uang hasil dari lomba. Boleh ya pa-ma ?”
“Tapi buat apa, sayang, uangnya ?” tanya papa yang sepertinya belum mengerti arah pembicaraanku. Aku menghela nafas, menunduk dalam-dalam tanpa mau menatap langsung mata mama dan papa. “Bikin sekolah kecil.” Kataku akhirnya dengan suara parau.
###
‘Aku senang, sangat senang dan bahagia. Terima kasih mama, papa dan kak Adel karena sudah meluluskan permintaanku untuk membangun sebuah sekolah kecil khusus untuk teman-temanku ini. Sekali lagi terima kasih. Teman-teman, cita-citamu kini menjadi nyata. Keinginanmu yang dulu sempat tenggelam oleh ketidakberdayaan dalam melawan hidup ini nantinya akan kembali muncul. Berjuanglah teman, aku yakin kalian bisa.’
Aku meringis sambil memegangi kepalaku yang tiba-tiba terasa sangat pusing, setetes darah segar yang keluar dari hidungku lagi-lagi menetas pada lembaran buku catatanku sehingga mengaburkan semua yang tertulis didalamnya. Aku dapat merasakan sekelilingku menjadi berputar. Pandanganku mulai tak jelas, tetapi aku masih sempat melihat saat Eka, Erin, Shani, Ale dan Kelvin berlari menyusuri tepian rel menuju kearahku sambil menyerukan namaku. Setelah itu semuanya menjadi hitam.
“Aku terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Aku masih tak sadarkan diri sejak kejadian waktu aku berada di tepian rel kereta api, 2 tahun lalu. Aku koma, koma selama 2 tahun lamanya. Aku tahu saat ini kedua orang tuaku, kakakku, dan teman-temanku pasti mengkhawatirkanku. Maafkan aku, maafkan aku yang tak pernah memberitahukan hal ini kepada kalian semua. Aku takut, aku tak tega melihat kalian bersedih saat mengetahui penyakitku ini. Kanker Darah stadium akhir, aku tahu menahu tentang penyakit ini. aku tahu saat dokter mendiagnosisku tentang penyakit ini, aku tahu semua. Tapi aku tak sanggup memberitahu kalian tentang ini, aku tak mau melihat kalian bersedih karena kondisiku yang semakin hari semakin lemah.
“Sesungguhnya aku takut melepas semua yang sudah menjadi milikku, cita-cita dan anganku. Aku tahu semuanya akan aku tinggalkan suatu saat nanti, jika waktuku telah tiba. Aku menyadari waktuku sudah dekat, aku hidup hanya dibatasi sang waktu. Tahukah kau bagaimana perasaanku saat ini ? ya tentu saja aku sangat hancur, aku kecewa, aku putus asa, tetapi hidup akan terus berjalan. Hidup tidak berhenti, hidup tidak mandeg hanya karena aku mengetahui tentang penyakitku ini. Oleh sebab itu melalui sebuah perubahan kecil ini, aku berharap dapat mengembalikan sebuah harapan hidup orang-orang yang tak terlihat, tak terjamah, tak kasat mata seperti teman-teman baruku. Semua ini akan berubah, walaupun tak mungkin merubah takdir hidupku.
“Aku bahagia mengenal mereka, mempunyai mereka, keluarga, sahabat dan teman-teman baruku yang begitu peduli padaku. Maafkan aku karena telah membohongi kalian, bersikap seolah semuanya baik-baik saja padahal aku tahu semuanya tidak baik-baik saja. Terima kasih papa mama, berkat kalian sekolah “Cita Harapan” kini berdiri kokoh menampung mereka semua yang membutuhkan sebuah pendidikan untuk masa depan mereka kelak. Kini saatnya aku pamit kepada kalian semua, kini saatnya aku untuk kembali ke haribaanNya. Selamat tinggal.” Suara mesin elektrokardiogram menggema keseantero ruangan tempat aku di rawat. Kini aku sudah tak berdaya. Kini aku benar-benar sudah meninggalkan dunia fana untuk menuju ke kehidupan kekal yang sesungguhnya.
###
‘Kita tak pernah tahu berapa lama kita akan bertahan di dunia ini, kita tak pernah tahu apakah besok kita masih bisa seperti sekarang, kita tak pernah tahu karena itu semua masih menjadi rahasia Tuhan. Kita sebagai makhlukNya hanya bisa berusaha dan bersabar dalam menghadapi semuanya. Lakukan yang terbaik yang mungkin bisa mengubah segalanya walaupun sedikit tetapi maknanya sangat luar biasa. Cita-cita harus terus di perjuangkan meskipun kita menyadari amat sangat banyak kekurangan kita, tetapi tersenyumlah karena mentari esok masih tetap bersinar, mentari yang selalu menuntun langkah kakimu menuju masa depanmu yang cerah. Ini adalah akhir cerita jalanan, ini adalah akhir cerita yang bahagia. Shani, Eka, Erin, dan Ale mereka adalah bohlam penerang masa depan yang sesungguhnya. Terus berjuanglah teman untuk menggapai apa yang kalian impikan.’
###
Tidak ada komentar:
Posting Komentar