Ketika semuanya telah berubah, ketika semuanya tak lagi sama, ketika kehangatan persahabatan itu kini tak lagi bersinar, ketika hati tak lagi berdamai. Atas nama cinta yang rela menghempaskan semua impian persahabatan yang bertahun-tahun terjalin. Atas nama cinta yang rela melebur perasaan demi kebahagiaan.
Persahabatan itu indah, seindah bias warna pelangi di angkasa ruang. Persahabatan itu bagaikan permadani yang terhampar hijau yang dapat menyejukkan mata yang memandang. Persahabatan itu juga seperti birunya langit yang belum ternodai polusi jiwa. Persahabatan itu adalah makna abadi yang sangat indah artinya jika dirasakannya dalam hati sanubari.
Cinta dan persahabatan, persahabatan dan cinta. Kisah yang sangat lalu, kisah yang sangat sering terjadi, kisah lawas, klasik, ‘dejavu’. Memang, cinta akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Cinta akan tumbuh seiring dengan kebersamaan yang pernah ada. Cinta akan terus mengejar, cinta takkan pernah menyerah. Hanya ketulusan cintalah yang nantinya akan bahagia. Kau dan aku, aku dan kau dan orang ketiga diantara kita. Semuanya akan berubah!
Maura Amanda (Moca) :
Banyak yang berkata bahwa persahabatan itu indah, dan kini aku telah merasakannya. Banyak juga yang berkata bahwa persahabatan antara ‘laki-laki’ dan ‘perempuan’ tidak akan menjadi sahabat yang seutuhnya karena nantinya mereka akan merasakan sesuatu yang lebih dari sekedar sahabat, dan kini apa mungkin aku juga telah merasakannya?
Aku melihatnya. Kali ini aku melihatnya tak hanya sendirian, selalu saja seperti itu. sudah biasa. Aku menarik napas dan menghembuskannya dengan keras, aku merasa kesal melihatnya. Dari lapangan basket sesekali dia memandang ke arahku, tersenyum, sungguh senyum yang sangat menawan, senyum yang dapat merubah segalanya termasuk perasaanku terhadapnya.
Dia melambai lagi, kali ini aku juga balas melambai dan tersenyum. Dia semakin mendekat, cewek-cewek yang tadi menggerombolinya juga mengikutinya dari belakang. Aku kesal di buatnya.
“Halo Ca.” Sapanya setelah berada didekatku.
“Hai Ci.” Jawabku sekenanya.
“Cewek-cewek kalian pergi dulu ya, aku mau ngomong sama Moca. Bisa?” tanyanya kalem pada cewek-cewek penguntit itu. Sebagian mengangguk lalu meninggalkan Moci dengan berat hati, sebagian lagi masih tetap bergeming dan mengerling nakal, tetapi mereka buru-buru pergi setelah Moci membisikkan sesuatu pada mereka. Aku sungguh sangat kesal dan semakin muak.
“Ca, aku mau curhat sama kamu tentang...” belum sempat Moci menyelesaikan kalimatnya aku sudah menyela dengan tidak sabar.
“Cewek kan!?” tebakku langsung. “Tuh kan bener.” Kataku dengan yakin setelah melihat perubahan mimik wajahnya. “selalu saja seperti itu, kali ini siapa targetmu?”
“Ah Moca masa gak tahu.” Katanya sengaja berbelit-belit, aku melotot, dia tersenyum kemudian melanjutkan ucapannya. “Anak baru di kelas kita, Tammy.”
Aku meringis ‘kenapa selalu orang lain,Ci, apa aku gak cukup terlihat olehmu?’
Mickho Saputra (Moci) :
Apa yang salah denganku? Apa yang salah dengan pemikiranku? Aku bingung, aku sendiri tak tahu jawabannya apalagi kau. Terlalu rumit, tetapi juga terlalu sederhana. Aku tak mau mengakuinya, aku takut, aku takut jika aku mengakuinya dia akan menjahuiku, pergi dan meninggalkanku. Apa ini? apa yang terjadi?
Aku tak mau berandai-andai, berangan-angan, aku tak mau! Melihatnya saja cukup membuatku senang dan aku sungguh beruntung karena telah menjadi sahabatnya. Entah berapa kali aku mencoba membuatnya cemburu, sampai-sampai di cap ‘playboy’pun aku mau. Semuanya demi dia, tapi dia tetap datar, tak terpengaruh, bahkan dia malah mendukungku untuk mendekati seseorang yang ku anggap sebagai ‘target’.
Seperti kali ini ketika kulihat dia dari tepi lapangan basket dengan lambaian dan senyum yang mengembang di bibirnya yang merah, hatiku kembali berdebar ketika menghampirinya. Kali ini aku harus berhasil memancing perasaanya lagi.
Aku duduk di sampingnya, menatapnya sesaat tetapi buru-buru mengalihkannya. “Ca, aku mau curhat sama kamu tentang...” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku dia sudah buru-buru menyela.
“Cewek kan!?” tebaknya langsung yang sempat membuatku tertegun untuk beberapa saat. Reaksinya benar-benar di luar skenarioku, benar-benar di luar dugaan.
“Tuh kan bener.” Katanya dengan yakin setelah melihat perubahan wajahku. “Selalu saja seperti itu, kali ini siapa targetmu?” tanyanya dengan nada datar.
“Ah Moca masa gak tahu.” Kataku. Aku tersenyum kemudian melanjutkan ucapanku dengan tak yakin. “Anak baru di kelas kita, Tammy.”
Oh God, kenapa jadi seperti ini...
Back at the first meeting with him (Moca) :
Saat itu aku ikut dengan mama ke rumah teman lamanya yang hanya berbeda 2 blok dari rumahku, tepatnya di blok Anggrek sedangkan aku blok Matahari. Sesampai disana ada banyak orang yang tak kukenal, aku pening, selalu seperti ini. Aku tak terbiasa melihat keruwetan di sekitarku karena itu hanya membuatku sesak. Aku melihat tante Nadya yang membawa senampan minuman untuk tamunya. Tante Nadya 2 tahun lebih tua daripada mama, tapi aku akui beliau terlihat masih cantik dan anggun meskipun umurnya sudah mencapai kepala 4.
Tante Nadya membawaku ke belakang rumahnya, beliau tau aku belum cukup umur untuk mengetahui urusan ibu-ibu karena saat itu umurku baru 9 tahun. Taman belakang itu sangat luas, disana terdapat sebuah kolam renang yang sangat besar, lalu disisi sebelah kananya terdapat pula sebuah taman bunga yang begitu cantik dan terawat. Sesuatu luput dari pandangan mataku, aku baru sadar saat tante Nadya menyerukan sebuah nama yang membuatku terkejut.
“Mickho ! come here, honey...” seru tante Nadya. Sesosok tubuh yang sedari tadi membelakangi kami yang juga luput dari pandangan mataku berbalik dan menghampiri mamanya. Ia tersenyum lebar memperlihatkan sebuah lesung pipi di pipi kirinya.
“Ada apa, ma ?” tanya anak itu yang aku tau bernama Mickho.
“Kamu tolong temenin Moca main ya, mamanya lagi ada urusan sama mama.” Jelas tante Nadya, kemudian beliau memandangku dibalik senyumnya yang menawan. “Moca, kamu disini dulu ya sama Mickho. Kamu gak perlu takut, Mickho anaknya baik kok meskipun terkadang sangat usil.” Setelah mengatakannya tante Nadya berbalik dan pergi menuju ke dalam rumahnya. Sepeninggal tante Nadya, aku hanya terdiam begitu pula dengan anak yang ada dihadapanku ini hanya menatapku datar tanpa minat.
Perkenalan yang singkat (Moci) :
Aku menatapnya datar, bingung, dan sejuta ekspresi lain yang tak bisa kuungkapkan saat itu. menurutku gadis yang di panggil Moca itu sangat manis dan sepertinya baik. Lidahku serasa kelu saat hendak mengeluarkan sebuah kata yang paling sederhana, ASTAGA!
Aku menarik napas dalam-dalam. “Hai aku Mickho.” Huh! akhirnya keluar juga kata itu. ia terlihat ragu saat akan menjabat tanganku.
“Aku Maura, tapi panggil aja aku Moca.”
“Oh oke, Moca.” Kataku canggung. Setelah itu kami hanya diam, duduk di sebelah kolam ikan yang berada persis di depan kolam renang. Hanya sesingkat itu perkenalan kami, tapi aku sungguh tak menyangka kami menjadi begitu dekat sekarang. Moca memanggilku Moci, katanya agar lebih akrab, sedangkan aku hanya tersenyum saat menyebutkan nama baruku sendiri. “Moci, sangat lucu.”
Celebrate their party :
Kesempurnaan dalam sebuah hubungan tergantung pada partikel-partikel pembangun hubungan itu sendiri. Hanya orang-orang hebat yang mau mempertahankan setiap hubungan meskipun di dalamnya terdapat kerikil-kerikil kecil yang kapan saja bisa menjerumuskan orang-orang tersebut...
Hari ini tanggal 25 Mei 2009, hari yang spesial bagi Moca dan Moci. Hari ini merupakan ulang tahun keduanya, dan hari ini pula usia mereka genap 13 tahun. Tidak ada kehebohan yang tercipta disana, mereka hanya merayakannya dengan cara mereka sendiri.
“Ca, happy birthday yaa.” Ucap Moci sambil menjabat tangan kecil Moca.
“Happy birthday to you too, Moci. Eh aku punya sesuatu buat kamu.” Moca lalu menyodorkan sesuatu yang tertutup kain berwarna hitam. “Taaadddddaaa...!!” teriaknya sambil membuka penutupnya. “Ini aku buat sendiri lho, Ci, di jamin pasti enak rasanya.” Ucap Moca dengan kagum, kemudian mata bulat itu mengerjap lambat sambil memandang Moci dengan penuh harap. “Hadiah buat aku mana ?” tanyanya sambil menengadahkan kedua tangan.
“Ca, seperti taun-taun sebelumnya...”
“Sama sekali gak ada hadiah ya?” tanya Moca memastikan. “Uh! Moci jahat. Yaudah aku ambil lagi kuenya. Mending aku makan sendiri daripada aku kasih ke kamu.”
“Eh, enak aja aku bilangi ya, Ca, barang yang sudah di kasih ke orang lain gak boleh diminta lagi. Lagian ngapain sih gitu aja ngambek, aku kasih tau ya, Ca, hari ulang taun itu gak mesti harus di rayain, di besar-besarin, hadiah yang banyak, itu semua hanya semu. Dengan ulang taun itu berarti menandakan bahwa kita semakin dewasa dalam hal apa saja, taruhlah sebagian besar orang menganggap kalo ulang taun itu semakin bertambahnya usia, tapi kalo menurutku ulang taun itu semakin berkuranganya usia.”
“Untuk yang ke-4 kalinya.”
“Apanya ?”
“waktu kita ulang taun yang ke-10 kamu juga udah bilang itu dan berlanjut sampai ulang taun kita berikutnya hingga yang ke-13 ini. bosen tau, Ci.” Protes Moca.
“Biar gak bosen, kali ini spesial for you deh. Nih rasain.” Moci mengambil butter cream dari kue Moca lalu di usapkannya pada pipi Moca. Moca tak terima ia pun berlari mengejar Moci yang kabur untuk membalasnya dengan cara yang sama.
Think of you (Moca) :
Malam ini aku berusaha keras untuk memecahkan soal Fisika yang minta ampun sulitnya. Aku menyerah, kepalaku sudah terlanjur ruwet dan terasa mau pecah saat melihat soal Fisika. Aku melamun, melamun tentang apa saja yang penting bukan Fisika. tanganku mencorat-coret sesuatu diatas sebuah kertas yang rencananya akan aku buat untuk menghitung Fisika, tapi nyatanya kertas itu masih bersih tak tersentuh rumus sama sekali. Aku melihat sebuah karya seni abstrak buatanku dengan pandangan kosong, aku berusaha memusatkan semua perhatianku pada kertas yang sedang aku corat-coret. Aku tergeragap, saat semua pandanganku sudah terfokus pada sebuah karya kasar berupa guratan sketsa gambar wajah seseorang yang begitu aku kenal. Tuhan, apa-apaan ini ?
The song 1... (Moci) :
Aku memetik gitar akustiku dengan hati-hati, sesekali aku menuliskan sesuatu diatas sebuah buku khusus untuk menciptakan lagu. Aku mengulanginya lagu itu dari awal, kemudian berhenti sejenak, sebuah inspirasi datang di kepalaku. Aku menulisnya dengan cepat sebelum inspirasi itu menguap begitu saja. Aku tersenyum puas, kemudian mencobanya dengan menggunakan nada dari gitar kesayanganku. Pas banget lirik sama nadanya, batinku.
Aku mematung memandangi sebuah lirik yang sudah menjadi inspirasiku tadi. Lirik yang begitu melow, senduh, tetapi sangat kuat penggambaran emosi didalamnya. Hatiku berdebar. Sungguh ini seperti bukan sifatku, mungkinkah aku...?
Cintai aku dengan hatimu
Seperti aku mencintaimu
Sayangi aku dengan kasihmu
Seperti aku menyangimu
I will be the last for you
And you will be the last for me...
I’m not a player (Moci)
Dunia ini menipu. Orang yang kau kira baik terkadang malah bisa berubah menjadi orang lain yang sama sekali tidak kau kenal. Orang yang kau kira buruk malah sebenarnya punya sisi kelembutan yang tak mungkin kau ketahui jika kau tak mau mengenalnya.
Aku mungin akan sama terkenalnya dengan seorang aktor kawakan dalam memainkan perannya, aku lebih pandai dalam menyebunyikan perasaanku yang sesungguhnya. Jujur aku sangat tertekan, aku tak mau tetapi ini aku lakukan demi kamu, demi memastikan perasaanmu kepadaku, itu saja.
Salah besar jika ada yang menganggapku seorang ‘playboy’ dalam artian yang sebenarnya. Ini tidak benar, aku tidak sungguh-sungguh menyukai mereka. Aku hanya berakting, berakting untuk menarik perhatianmu, berakting untuk mendapatkan hatimu bukan berakting untuk mendapatkan uang.
My name is Tammy (Tammy)
Semua mata memandangku dengan rasa kagum dan rasa ingin tau. Tak hanya sekali aku merasa di perhatikan seperti ini, hampir tiap tahun selalu berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain, hingga banyak kutemui mata-mata yang memandangku sama seperti saat ini.
“Nama saya Tammy Anasthasia Putri, kalian cukup memanggil saya Tammy, saya pindahan dari SMU Teladan Jakarta. Saya harap kalian mau menerima saya menjadi teman baru kalian. Terima kasih.”
Setelah perkenalan itu, bu Lia mempersilahkanku duduk di bangku nomor 3 dari belakang deretan ke-2.
Teman-teman baruku memperhatikanku tanpa mau berpaling. Aku hanya tersenyum singkat dan membalas sapaan mereka sekenanya. Aku melirik meja yang persis berada di depan mejaku yang dihuni oleh seorang cewek imut beponi dengan rambut hitam panjangnya yang lurus. Cantik. Dan temannya, yaitu seorang cowok dengan tubuh atletis dengan kulitnya yang sawo matang tapi sangat bersih dan terawat. cakep.
“Hai Tam, kenalin aku Maura.” Kata cewek imut itu sambil menjabat tanganku, lalu buru-buru menambahkan. “Panggil aja Moca.”
“Hai, Ca.” Kataku tulus dengan senyum yang tersungging lebar di bibirku. Seru ni cewek, batinku masih tetap memperhatikan Moca.
“Ci, kenalan dong sama Tammy.” cewek itu menyenggol cowok di sebelahnya. Cowok itu menaikkan alisnya, kemudian berbalik menghadapku. Deg, jantungku serasa berdesir saat melihatnya.
“Halo, aku Mickho, tapi gara-gara ni cewek namaku jadi Moci.” Ujarnya sambil melirik Moca dengan pandangan pura-pura kesal.
“Hai, Ci” balasku sekenanya. Lidahku terasa kelu untuk bertanya atau mengobrol lebih lama lagi. Moca dan Moci terlihat sangat akrab, sebuah dugaan melintas di pikiranku. Apa mereka pacaran ya ? akrab banget.
Moca menyenggol lengan Moci lagi. “Eh Ci, Tammy cantik banget ya. Aku yakin bentar lagi dia pasti jadi targetmu.” Pekik Moca tiba-tiba yang sempat membuatku membeku. Ternyata mereka gak pacaran, syukur deh.
Semua yang aku takutkan akhirnya terjadi, aku berharap ini tidak nyata (Moca) :
Aku melihat mereka tertawa, saling usil, berbicara sesuatu yang sangat serius tak lama gelak tawa mereka terdengar. Aku akui, aku sangat CEMBURU. Hatiku sakit melihatnya.
“Hey kok diem aja sih,” Senggol Tammy sukses membuyarkan lamunanku. “Are you ok ?”
“Moca lagi sakit gigi tuh.” Sahut Moci.
“Ah yang bener ?”
“Ya semoga aja beneran seperti itu, biar kapok dia, dia kan paling males kalo disuruh gosok gigi.”
“Enak aja! gigiku baik-baik aja kok,” protesku. “Masa iya sih anaknya dokter gigi bisa males gosok gigi !?”
“Ya kali aja seperti itu. kamu kenapa si, Ca? kita perhatiin kamu dari tadi diem aja, gak kayak biasanya. Kita khawatir sama kamu, Ca.” Ujar Moci sungguh-sungguh yang kemudian diiyakan oleh Tammy.
“Makasi ya teman-teman, tapi beneran kok aku gak papa.” Aku berusaha tersenyum meskipun hatiku masih sakit. Biarlah, cukup aku yang merasakannya.
Happy sweet seventeen and bad something... :
Perasaan itu untuk diungkapkan bukan untuk dipendam karena jika itu terjadi penyesalan yang akan muncul dikemudian hari. Tetapi jika perasaan itu bisa merubah segalanya, bisa menyakiti semua yang terlibat didalamnya, dan bisa membuat jatuh bangun orang-orang yang juga terlibat didalamnya, apa yang menjadi jalan terbaik...? apa juga harus diungkapkan...?
Sudah hampir 20 menit Moca menunggu kehadiran Moci dan Tammy di sebuah restoran di pusat kota. Mereka memang telah berencana akan merayakan ulang taun yang ke-17 ini dengan sesuatu yang berbeda dari yang mereka sering lakukan dulu.
“Ini spesial, Ci, sweet seventeen gitu loh.” Ucap Moca suatu ketika di halaman rumah Tammy.
“Ogah ah, mau sweet seventeen kek, spicy seventeen kek, atau seventeen-seventeen lain aku tetap gak peduli. Kita rayaiin seperti biasa aja.”
“Moci, sekali ini aja, kita rayaiin sama-sama di luar ya.” Bujuk Tammy, entah mengapa Moci akhirnya luluh. Moca menduga diantara mereka telah terjadi sesuatu, tetapi ia tak mau menduga lebih jauh lagi karena itu sama dengan ia membunuh hatinya sendiri.
Di tempat lain....
“Aku suka sama kamu. Kamu mau kan jadi pacarku?” tanya Moci penuh harap. Deg- jantung Tammy serasa berhenti berdetak. Betulkah ini ? beribu pertanyaan berseliweran di kepalanya.
“Kalo aku bilang kayak gini ke Moca, tanggapannya kayak apa ya, Tam?” Tammy hanya terdiam ditempatnya. “Aku gak ngerti maksud kamu, Ci.”
“Sorry udah ngebuat kamu bingung. Maksud aku, kalo aku ngucapin itu ke Moca reaksi dia kayak gimana? ini gak mudah, bener-bener gak semudah saat aku ngucapinnya ke cewek lain, pengecut banget ya?”
Jadi sebenarnya Moci emang suka sama Moca ya? Bego banget sih kalo berharap dia sukanya ke aku. batin Tammy. “Jadi kamu selama ini suka sama Moca ?”
Moci mengangguk. “kamu mau kan, Tam, bantu aku, please?”
“Aku akan bantu kamu, Ci, apa yang harus aku lakuin?” tanya Tammy dengan berat hati. Moci membisikkan sesuatu di telinga kanan Tammy, lalu Tammy mengangguk meskipun sebenarnya ia tak mau.
20 menit bukanlah waktu yang singkat. 20 menit akan sangat membosankan jika berada dalam kesunyian yang tak berujung dan tiada teman, SAMA SEKALI. Moca mengetuk-ngetuk meja dengan buku-buku jemarinya berusaha untuk sabar. Tak lama kemudian ekor matanya yang bulat menangkap bayangan dua orang, ya tak salah lagi itu memang Tammy dan Moci, mereka nampak begitu serasi. Moca berusaha meredam semua gejolak di hatinya, ia berusaha tersenyum saat di pandangnya kedua orang itu semakin mendekat, astaga mereka bergandengan tangan.
“Hai Ca, udah lama nunggunya? Sorry ya kita datengnya telat.” Ujar Moci dengan senyum yang memperlihatkan lesung pipinya.
“Gak papa kok, Ci, oh ya selamat ulang taun ya, Ci, wish all of the best will comes to you.” Gumam Moca sambil menjabat tangan Moci.
“Thank you, wish all of the best will comes to you too.” Balasnya masih dengan senyum yang membuat Moca semakin menahan perasaannya agar tidak semakin melambung tinggi.
“Happy birthday ya, Ca. Aku punya hadiah nih untuk kalian berdua, yang pertama ini buat kamu, Ca, sederhana sih tapi semoga kamu suka.”
“Makasih, Tam.” Kata Moca sambil merangkul sahabatnya itu.
“Dan ini hadiah untuk kamu, Hon semoga kamu suka.” Lanjut Tammy sambil menyodorkan sebuah kado yang terbungkus rapi kehadapan Moci. “Thank you, beib.”
Moca menegang di tempat duduknya, ia tak salah dengar. Tuhan, mereka udah jadian. Ratap Moca di dalam hatinya.
Maafin aku, Ca, aku gak bermaksud merebut Moci dari kamu, aku gak bermaksud buat kamu sakit hati.aku tau disini kita sama-sama sakit, tapi ini hanya... gumam Tammy dalam hati.
Ini hanya sebuah permainan. Kali ini Moci yang bergumam.
Graduated... :
Maura Amanda (Moca)
Dengan mata terpejam dan setengah mengintip dari bulu-bulu mataku, tanganku menyusuri papan pengumuman dengan cemas. Aku berharap, aku bisa lulus sehingga bisa melanjutkan ke Universitas favoritku bersama kedua sahabatku. Yes! dapat. Maura Amanda, nama itu tercetak jelas disana, dan yap aku lulus. Thanks God.
Mickho Saputra (Moci) :
Seharusnya aku merasa senang karena aku lulus. Ya tak mungkin diragukan lagi kemampuanku dalam semua bidang pelajaran, tapi ada yang aneh dengan perasaanku. Aku sedih, entah mengapa aku sama sekali tak antusias merayakan kelulusan ini layaknya teman-temanku yang lain. Aku sedih, itu artinya aku akan meninggalkan sahabat, ’pacar’ dan keluargaku, terutama Moca.
Tammy Anasthasia Putri (Tammy)
Sahabat dan ‘pacarku’ lulus, sedangkan aku? aku sendiri masih ragu. Aku menelusuri papan pengumuman itu dengan jari telunjukku, tapi tak ada namaku. Aku mencobanya lagi, tetap tak ada.
“Kayaknya aku gak lulus deh, Ca.” Ucapku putus asa.
“Hus! Jangan bilang kayak gitu. Ayo kita cari lagi, pasti ketemu.” Aku hanya menggeleng tanpa minat, tetapi Moca terus memaksa.
“Beib, kamu lulus!!” teriak Moci mengejutkanku dan Moca. “Ini nama kamu, Tammy Anasthasia Putri.”
“Benarkah?” tanyaku kepada Moci tak yakin, Moci hanya mengangguk aku pun sangat senang melihat namaku dengan predikat LULUS.
Sebuah keputusan (Moci) :
Ada 2 hal dalam kehidupan ini yaitu, memilih untuk pergi atau memilih untuk tetap tinggal tentunya keduanya adalah pilihan yang sangat berat, sangat sayang jika dilewatkan. Aku mendapat beasiswa di sebuah Universitas di China, Monash University. Aku sangat senang, aku bangga, tetapi aku tak ingin pergi.
“Hon, kamu kenapa?” tanya Tammy saat memergokiku sedang melamun. Aku hanya menggeleng.
“Gak mungkin gak ada apa-apa cerita dong, Ci.” Tuntut Moca.
Aku menghembuskan napas, sebuah pilihan yang berat. Mungkin benar kata Moca, aku harus cerita siapa tau dengan begitu semuanya akan jadi lebih mudah untuk dijalani. “Aku dapat beasiswa keluar negeri.” Setelah aku mengatakannya kedua cewek itu terdiam, menatapku dengan pandangan tak percaya.
Moca tersenyum lebar. “Selamat ya, Ci, aku bangga sama kamu.” Tammy pun mengangguk sambil tersenyum tulus.
“Tapi aku gak mau pergi.”
“Kenapa?” kali ini Tammy yang bertanya dengan kening berkerut.
“Karena... karena aku gak mau pisah sama kalian semua.” Ujarku jujur.
“Ci, itu kesempatan kamu ambilah kesempatan itu karena itu gak akan dateng untuk yang kedua kalinya. Kamu gak usah khawatir sama kita-kita, kita semua bakalan baik-baik aja kok. Kejarlah apa yang terbaik untuk masa depanmu.” Nasehat Moca.
Aku tertegun, tumben ni anak pikirannya dewasa banget?
“Kamu pasti mikir ‘tumben aku bersikap dewasa’ kayak gini, iya kan?” tanya Moca dengan menaikkan sebelah alisnya seolah mengerti apa yang sedang aku pikirkan. “Aku seperti ini karena kamu yang selalu ngajari aku supaya bersikap dewasa.” Lanjutnya bangga. Aku menghampiri Moca dan Tammy kemudian memeluk mereka erat. “Thanks.”
Rahasia dan pengakuan :
Moci duduk manis di ruang tamu rumah Moca. Rencananya hari ini mereka bertiga akan menghabiskan waktu bersama sebelum Moci pergi ke China 2 minggu lagi. Moci memperhatikan tumpukkan kertas yang terselip di dalam laci meja tamu, ia mengambil kertas itu dan memperhatikan goresan kasar gambar sketsa wajah seseorang.
Wajah dalam kertas itu menatapnya dengan pandangan matanya yang teduh, di pipi kirinya terdapat sebuah lesung pipi, garis wajah yang tegas, hidung mancung, rambutnya yang ikal sedikit menyentuh kerah bajunya. Dibawah sketsa itu terdapat sebuah tulisan yang mengejutkannya :
‘Nobody knew that I loved him’
Pada gambar guratan sketsa selanjutnya, terlihat 2 anak manusia yang saling mengoles wajah mereka masing-masing dengan butter cream dan di depan mereka terdapat kue ulang tahun. Dibawahnya terdapat tulisan lagi :
‘Birthday so much fun with you, it was 11th’
Moci tau Moca sangat pintar menggambar, tetapi dia sama sekali tak menyangka setiap lukisan kasar di kertas itu sebagian besar adalah sketsa dirinya. Ternyata dia selama ini tidak cukup jeli mengenali perasaan seseorang yang baru ia ketahui hari ini begitu menyukainya.
Moca muncul kehadapan Moci lengkap dengan sepatu converse dan tas tangannya. Hari ini ia menggunakan cardigan rajut berwarna hijau toska dengan dalaman berwarna putih dan celana jins ¾ nya. Rambutnya yang panjang lurus ia kuncir kuda, dengan poni yang dibiarkannya menutupi dahinya. Moci tertegun sejenak. Moci tak sempat mengembalikan kertas-kertas yang di pegangnya itu ke dalam laci.
“Moci...” Moca maju selangkah mendekati Moci yang masih duduk di tempatnya, lalu merebut kertas yang sedang di pegang Moci dengan kasar. “Apa-apaan kamu?”
“Jadi semua yang tertulis jelas disitu, emang benar ya, Ca?”
Moca tergeragap, ia merasa semakin tersudut. “Ini salah paham, ini sama sekali gak benar, beda sama apa yang udah kamu lihat.”
Moci menarik tubuh mungil Moca kedalam pelukannya. “Aku sayang kamu, Ca.” Moca tertegun mendengar sepatah kata itu keluar begitu mudahnya dari mulut Moci. Tubuhnya bergetar, detak jantungnya bergemuruh.
“Lepasin! Apa-apaan sih kamu!?”
“Asal kamu tau, selama ini aku sayang sama kamu. Aku cinta kamu, Ca, sungguh.”
“Tammy?!” tanya Moca dengan suara pelan.
“Aku gak pernah suka sama Tammy, kita hanya pura-pura pacaran didepan kamu. Hanya untuk memastikan kamu cemburu atau tidak, tapi nyatanya kamu biasa-biasa aja menanggapinya. Aku putus asa, tapi hari ini terjawab sudah semua penantianku selama ini.”
“Bagaimana sama mantan-mantan kamu dulu?!”
“Aku gak pernah anggap mereka pacar, mereka sama seperti Tammy. Hanya untuk pura-pura.”
PLAAKKK.... tamparan keras mendarat mulus di pipi kanan Moci. Air mata Moca pun meleleh.
“Aku gak terima kamu udah mainin perasaan Tammy. Tammy itu cewek aku juga cewek, jadi aku tau betul perasaannya saat itu, pasti dia sakit hati. Kamu jahat, Ci.” Tukasnya lalu berbalik akan meninggalkan Moci, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti begitu mendengar suara yang sangat familier di telinganya.
“Ca, aku gak papa kok. Aku tulus ngebantuin Moci buat deketin kamu, buat bikin kamu cemburu. Aku akuin waktu itu aku memang sakit hati, tapi aku mikir udahlah buat apa maksa cinta yang memang bukan untuk aku. cinta memang ada dan akan tumbuh didalam hati semua makhluk, tapi untuk meyakinkan bahwa cinta itu memang untuk kita, milik kita, itulah yang sangat sulit. Dan itulah yang kita alami selama ini.”
“Tapi, Tam...”
“Aku bahagia ngelihat kalian bahagia. Cinta ini memang ditakdirkan untuk kalian.” Moca menghampiri Tammy lalu memeluknya, tangisnya pun semakin pecah. Moci menghambur kearah mereka dan memeluk kedua sahabatnya.
The song 2...:
Dengan gitar akustiknya, Moci melantunkan sebuah lagu untuk Moca yang saat ini duduk dan menatap penuh dengan senyum bahagia disampingnya.
Bersamamu, kulewati lebih dari seribu malam
Bersamamu, yang kumau namun kenyataannya tak sejalan
Tuhan, bila masih ku diberi kesempatan
Izinkan aku untuk mencintainya
Namun, bila waktuku telah habis dengannya
Biarkan cinta ini hidup untuk sekali ini saja
Tak sanggup bila aku jujur
Hidup tanpa hembusan nafasnya
Tuhan, bila waktu dapat kuputar kembali
Sekali lagi untuk mencintainya
Namun, bila waktuku telah habis dengannya
Biarkan cinta ini hidup untuk sekali ini saja... (Glen fredly – Sekali Ini Saja)
Perpisahan... :
2 hari menjelang keberangkatan Moci ke China, Moca dan Tammy ikut membantu Moci membereskan semua keperluannya. Setetes air bening meleleh di wajah Moca, tapi ia buru-buru mengusapnya. Tammy mengelus-elus punggung Moca untuk memberinya kekuatan.
“4 tahun itu bukan waktu yang singkat, Tam.”
“I know, but you must be patient darling. Ingat jika kamu sedih, Moci juga bakal sedih dan makin gak tega untuk ninggalin kita semua.” Hiburnya sambil merangkul pundak Moca. Moca hanya mengangguk dan berjanji gak akan sedih lagi.
Jika cita-cita mengalah untuk cinta itu adalah tindakan yang salah, tetapi jika cinta mengalah untuk cita-cita itu adalah tindakan yang benar. Karena hakekatnya cinta itu akan kembali padamu bila waktunya telah tiba dan nantinya akan menjadi milikmu selamanya...
Hari ini untuk tidak datang (Moci) :
Aku memperhatikan semua barang-barangku. Lengkap. Tetapi rasanya masih ada satu yang tertinggal, ya tentu saja Moca. Aku gelisah selama menunggu kehadirannya bersama dengan Tammy. Kulihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku, saat ini sudah menunjukkan pukul 10 pagi sekitar 20 menit lagi pesawatku akan lepas landas menuju ke China yang membawa serta diriku didalamnya.
Sebelumnya aku tak pernah membayangkan perpisahan ini, aku tak mengharapkan hari ini datang. Bukan apa-apa, aku hanya takut berpisah dengan Moca, Tammy dan keluargaku disini. Tetapi apabila aku memilih untuk tetap tinggal dan membiarkan kesempatan emas ini terlewat begitu saja itu merupakan suatu tindakan bodoh yang pernah aku lakukan.
“Moci!!” aku mendengar seseorang memangggil namaku, akupun berbalik untuk mengetahui orang tersebut. Ternyata orang itu Moca, aku sudah menduganya lewat suara cemprengnya yang khas. Aku menyambut kedatangannya dan segera memeluknya. “Akhirnya kamu dateng juga. Udah dari tadi tau aku cemas nungguin kamu.”
“Maap-maap, Ci, itu tuh mesin mobilnya Tammy pakek acara mati segala jadinya telat deh.”
“Minta pensiun itu mobil kamu, Tam.”
“Iya kayaknya emang udah waktunya pensiun.” Celoteh Tammy menanggapi gurauanku dan Moca.
Sebuah suara yang menginformasikan keberangkatan ke China sudah terdengar sejak tadi, bahkan ini untuk yang ke tiga kalinya. “Sana gih berangkat, ntar kamu ditinggalin pesawatnya lho.” Kata mama, mengingatkan.
“Iya, Ma,” Aku memeluk mama yang sudah sesenggukan. “Mama baik-baik ya disini.”
“Iya sayang, kamu juga baik-baik ya disana. Jangan macem-macem.” Aku hanya mengangguk.
“Ca, aku berangkat dulu ya.” Kataku sambil beralih memeluk Moca. “Aku pasti kangen mulu sama kamu.” Setelah itu aku mencium kening Moca, tak ayal membuat Moca malu dan wajahnya berubah menjadi merah. Lucu sekali.
“Aku juga pasti kangen sama kamu, Ci.” Katanya mulai menangis. Aku segera mengusap air matanya. “Jangan nangis dong, aku jadi gak tega ninggalin kamu nih.”
Tammy menyenggol lengan Moca berusaha untuk mengingatkannya agar tidak sedih. “Eh iya maap, Ci. Jangan gitu dong, pokoknya kamu harus tetep pergi.”
Aku menoleh kearah Tammy, merentangkan kedua tanganku lebar-lebar. Ia pun menghambur ke arahku. “Hati-hati ya, Ci, kita semua bakal kangen sama kamu.”
“Oke, aku berangkat dulu ya.” Pamitku untuk yang terakhir kalinya, aku segera berlalu dari hadapan mereka semua tanpa mau menoleh lagi. Karena jika aku menoleh dan melihat air mata Moca yang turun semakin deras, sudah dipastikan aku akan membatalkan rencanaku ini.
Tunggu aku, Ca, aku pasti kembali untuk kamu. Aku sayang kamu. (Moci)
Untuk semua yang mungkin sudah terlambat untuk mengakuinya. Aku sayang kamu, Ci. (Moca)
Bawalah pergi cintaku
Pada kemanapun kau mau
Jadikan temanmu, temanmu paling kau cinta
Disini ku pun begitu
Terus cintaimu di hidupku, didalam hatiku
Sampai waktu yang pertemukan kita nanti... (Afgan – Bawalah Cintaku)
EPILOG...
4 tahun kemudian...
“Hai Ca, kok sendirian ?” sapa Tammy di halaman kampus.
Moca menghela nafas. “Hai juga, Tam. Emang kamu berharapnya aku disini sama siapa ?”
“Ya pacar kamu lah, emang ada yang lain ya ? Moca nakal ihh baru 4 tahun juga, udah nyari yang baru.” Goda Tammy. Moca pura-pura jengkel. “Wew fitnah ya, sorry aja, Tam, aku masih setia kok sama Moci !”
“Eciiieee... so sweet. Terharu nih dengernya, jadi iri.”
“Hah !? kenapa iri ? kamu kan juga udah punya siapa tuh namanya ? bule lagi.”
“Erick, sayang. Dasar pelupa.”
“Wajar dong ya kalo aku lupa, aku kan bukan sapa-sapanya dia.”
“Ca.”
“Hemm...”
“Kalo seumpama Moci sekarang ada di hadapan kamu, apa yang kamu rasain ?”
“Seneng dong yang pasti. Tapi gak mungkin deh, Tam, dia datengnya sekarang. Orang dianya belum ngasih kabar.” Ujar Moca dengan sedih. “Kalo mungkin gimana, hayo ? kamu gak kangen sama aku ya, Ca ?” tiba-tiba terdengar suara berat seseorang yang begitu dikenalnya dari arah belakang. Refleks Moca dan Tammy menoleh ke sumber suara. Tammy tersenyum lebar, Moca menatap sosok tinggi jangkung di hadapannya itu dengan pandangan tak percaya. “Moci !?”
“Aku kembali, Ca, aku kembali untuk kamu.” Moci tersenyum lebar saat tubuh mungil itu luruh kedalam peluk hangatnya.
“Aku kangen sama kamu, Ci.”
“Kirain udah gak kangen lagi sama aku.” Moca merengut, Moci mencubit ke dua pipi Moca dengan gemas. “oh ya terima kasih karena kamu udah mau nungguin aku selama ini.”
Moca melonggarkan pelukannya pandangannya beralih menatap Moci. “Gak masalah asal kamu masih setia sama aku.”
“Emm... Tadinya aku sempat mau pindah ke lain hati lho, Ca, tapi untungnya aku punya kamu. Gak jadi deh akhirnya. Hehe” gelak tawa Moci semakin menjadi-jadi saat di lihatnya Moca memandangnya dengan marah. “Bercanda kok, sayang. Gitu aja langsung marah.”
“Ehemm...kayaknya aku cuman jadi obat nyamuk nih.” Gerutu Tammy tiba-tiba. Moca dan Moci memandang bergantian kearah Tammy. Mereka bertiga saling bertatapan dalam diam, setelah itu mereka tertawa bersamaan.
Semua yang pernah terjadi diantara mereka baik dulu maupun sekarang adalah sesuatu yang paling indah di dunia ini. Cinta tak kenal batas, seberapa jauh cinta berkelana nantinya juga akan kembali lagi. Mereka mengerti bahwa cinta tak selamanya harus memiliki, cinta yang sesungguhnya adalah pengorbanan yang juga butuh di perjuangkan tanpa harus menyakiti banyak hati demi keegoisan diri.
***************************************END********************************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar