Kamis, 12 April 2012

S.E.C.R.E.T


Tak ada yang tahu dari mana datangnya cinta. Tak ada yang bisa menduga siapakah pasangan sejati kita. Tak ada yang mengira bahwa cinta itu tiba-tiba menyergap dua hati yang saling mengisi satu sama lain. Tuhan telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Tuhan tak akan membiarkan ciptaan-Nya hidup dalam kesendirian yang panjang dan membosankan. Coba lihatlah, ada laki-laki dan perempuan, siang dan malam, langit dan bumi, hujan dan teduh, bulan dan bintang, gelap dan terang, semuanya saling mengisi kekurangan dan melengkapi kelebihan dari pasangannya masing-masing.
            Seperti saat ini. Tak ada yang bisa memprediksi pertemuan singkat yang dapat merubah segalanya. Semuanya mengalir begitu saja. Aku melirik arloji berwarna perak yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Pukul 06.27. Aku berdecak kesal. Puluhan peluh yang menetes sudah tak kuhiraukan lagi. Cukup aneh, padahal pagi ini langit sedang mendung dan tetesan air langit jatuh membasahi bumi, tetapi yang kurasakan justru sebaliknya. Panas.
            Dalam hati aku terus berdoa supaya bus yang membawaku ke sekolah kali ini dapat segera muncul sehingga aku tak perlu berurusan dengan guru BP yang terkenal paling kejam dan sadis. Sedikit berlebihan memang, tetapi itu menurut desas-desus yang pernah kudengar dari para senior-senior SMA Gemilang yang mungkin pernah berurusan dengan pak Musa, guru BP di sekolahku.
            Sudah lewat 5 menit aku menunggu, tetapi tak ada tanda-tanda bus kota yang biasanya rajin mangkal di halte pinggiran jalan menampakkan asap kenalpotnya. “Sial !” umpatku berkali-kali. Aku dongkol setengah mati. Bayangan tentang hukuman-hukuman kreatif yang akan diberikan pak Musa segera memenuhi kepalaku membuatku semakin bergidik ngeri. Belum lagi jika mengingat ulangan matematika yang diadakan di jam pertama, membuat kakiku bertambah lemas.
            “Apa aku bolos saja ya ? tapi alasannya apa ? masa’ iya alasannya sakit ? ah... nggak-nggak, bisa-bisa aku kena karma terus sakit beneran. Tuhannn, please...” aku menengadah  sambil mencoba untuk lebih sabar lagi.
            Tahukah kamu, Tuhan selalu mendengar doa hamba-Nya yang sedang teraniaya [pengecualian untukku, tentu saja, Tuhan akan mendengar doa hamba-Nya yang sedang kesulitan terdengar lebih baik daripada teraniaya, bukan ?] Tuhan selalu mendengarkan doa-doa kita, karena Tuhan juga mempunyai hati. Dia nggak akan membiarkan hamba-Nya terpuruk untuk waktu yang lama.
            Sebuah Juke berwarna putih menepi ke pinggiran jalan dan berhenti tepat didepan halte. Kaca hitam mobil tersebut terbuka, menampakkan siapa saja yang sedang duduk di belakang kemudi kuda besi tersebut. Dan dia tersenyum. Aku tertegun sejenak menatap senyum lembutnya. Ya Tuhan... itu dia. Ya dia, seseorang yang diam-diam aku kagumi sejak pertama kali aku resmi tercatat sebagai siswi baru di SMA Gemilang sekitar 3 bulan yang lalu. Dan selama itu pula aku menyembunyikan perasaan suka kepadanya. Sebenarnya ini tidak wajar. Aku tahu dan sadar itu, tetapi perasaan memang tak bisa disalahkan. Kita tanpa sadar menaruh hati kepada seseorang yang mungkin belum tepat untuk kita, tetapi sesungguhnya kita tak pernah salah, cinta itu tak pernah salah. Hanya waktu dan keadannya yang tidak tepat. Itu saja.
            Aku masih tak percaya dengan kedua indera penglihatanku. Benarkah ini bukan sekedar ilusi ? ah, yang benar saja, mana mungkin itu dia. Mataku memang bermasalah. Tanpa kuperintah tiba-tiba jantungku mulai berulah lagi. Aku menundukkan kepala dalam-dalam, sesekali melirik sosok sempurna yang masih menyunggingkan senyum rupawannya itu untukku [koreksi, sosok sempurna itu selalu tersenyum kepada semua orang yang ia temui dan kebetulan hari ini cuman aku yang berdiri seorang diri di halte bus ditengah-tengah guyuran hujan seperti ini. Jadi kemungkinan besar senyum rupawan itu memang ia berikan untukku] ah senangnya, batinku bersorak gembira.
            “Ara,” sapanya sambil masih tersenyum. Dari semua siswa-siswi yang kukenal di SMA Gemilang, hanya dia yang memanggilku dengan sebutan ‘Ara’—kepanjangan dari Tiara. “Nungguin bus ya ?” aku menganggukkan kepala sekilas.
            “Bareng aku saja sekalian,”
            “Ah, nggak usah repot-repot, Lian, paling sebentar lagi busnya datang.” Ujarku sedikit ragu. Kemudian kedua mataku sibuk memandangi jalan raya, berharap bus kota yang sudah kutunggu sejak tadi segera menampakkan diri. Aku meliriknya sekilas dan entah mataku yang error atau memang benar saat kudapati air muka Lian berubah menjadi kecewa setelah mendengar penolakkanku tadi. Bodoh-bodoh. Aaarrghh ! yang benar saja, masa’ aku menyia-nyiakan kesempatanku berduan bersama Lian didalam mobilnya ? Tiara memang bodoh, Rutukku kesal.
            “Udah jam setengah 7 lewat lho, Ra, 15 menit lagi pintu gerbang bakalan ditutup sama pak Jarwo.” Bujuk Lian semakin membuatku cemas. Aku berpikir-pikir sejenak, tetapi belum sempat aku memutuskan, Lian sudah menekan tombol di mobilnya sehingga membuat pintu sebelah kirinya terbuka lebar.
            “Ayo buruan masuk, Ra, mikirnya nanti saja. Udah mepet nih.” Desak Lian seakan mampu membaca pikiran-pikiran yang berkecamuk didalam kepalaku. Aku segera mengangguk dan masuk kedalam mobil Lian.
            Tahukah kamu, apa yang sedang kurasakan saat aku duduk berdua dengan Lian didalam mobilnya ? ya bagi kalian yang pernah jatuh cinta mungkin tahu jawabannya.
V.E.N.D.A.I.N.T.A.N.P.R.A.T.A.M.A
Sejak saat itu aku semakin suka padanya. Dia sangat baik dan perhatian padaku. Yang satu ini aku masih ragu, entah aku yang ke-geeran atau dia memang menaruh perhatian padaku. Setiap kali bertemu di koridor sekolah, dia selalu menyapaku dan tersenyum kepadaku. Tahukah kamu rasanya jatuh cinta ? memang benar kata orang, disaat kita jatuh cinta, kita tak pernah bisa lepas dari bayangan orang tersebut. Dimanapun kita berada, yang kita ingat selalu orang tersebut.
BERLEBIHAN ?
Tidak. Ini merupakan hal yang sangat wajar. Tidak ada yang bisa menyalahkan orang yang sedang jatuh cinta karena apa yang kita lakukan sering diluar kendali diri kita. Yeah, cinta memang membutakan. Dan seperti itulah jatuh cinta yang aku rasakan saat ini. Jatuh cinta memang mengasyikkan.
            “Tiara Renata ?” panggil suara menggelegar dari depan kelas. Aku tetap tak bereaksi.
            “Tiar,” Felis, teman sebangkuku, mengguncang tubuhku dengan tidak sabar. “Woy Tiar, kamu kenapa sih ? tuh dipanggil bu Devi juga.” Aku menatap Felis kesal karena telah merusak imajinasiku bersama Lian.
            “Apaan sih, Fel ?” aku menggerutu dan bersiap-siap melanjutkan imajinasi yang sempat terputus. Felis geleng-geleng kepala. Telunjuk tangannya menunjuk sesuatu, aku segera mengikuti arah pandangnya dan ASTAGA...!!! didepan kelas, bu Devi sudah memandangku dengan pandangan yang mirip dengan predator yang sudah siap memangsa korbannya.
            “TIARAAA !!!” teriak bu Devi semakin menggelegar. “Ibu perhatikan sedari tadi kamu senyum-senyum sendiri, ibu panggil berkali-kali juga tidak dengar. Kamu anggap ibu patung, huh ? sudah merasa pintar kamu ?!”
            “Maaf, bu, saya...” aku menundukkan kepala tidak berani beradu pandang dengan guru muda itu.
            “Kalau sudah merasa pintar, coba kamu kerjakan soal fisika nomor 3.” Perintah bu Devi semakin membuatku mati kutu.
            “Maaf, bu, nomor 3 saya belum selesai mengerjakan.”
            “Bagaimana bisa selesai orang kerjaannya dari tadi ngelamun terus. Apa tugas kamu bakalan selesai kalau cuman kamu senyum-senyumin seperti itu ?! ibu tidak mau tahu, pokoknya sekarang juga kamu maju kedepan, kerjakan sebisa kamu. Kalau benar-benar tidak bisa, kamu berdiri didepan. Saya tidak mengijinkan kamu duduk. Nanti setelah selesai pelajaran saya, kamu ikut saya ke ruangannya pak Musa. Mengerti ?!”
            “Iya bu, saya mengerti.” Ujarku pasrah. Tuhan, kenapa aku harus berurusan dengan guru BP ? tidak adakah hal yang lebih menarik daripada harus mengunjungi ruang BP ? mungkin inilah efek jatuh cinta...
V.E.N.D.A.I.N.T.A.N.P.R.A.T.A.M.A
Surat peringatan itu masih teronggok dengan manis diatas meja nakas samping tempat tidurku. Siang tadi aku sukses digiring masuk kedalam ruangan pak Musa. Setelah diceramahi hampir 2 jam mengenai... entahlah, aku tidak seberapa memperhatikan perkataan beliau, bahkan sempat tertidur disela-sela ceramahannya tadi. Dan dari sini sudah bisa ditebak, kan ? ceramahan itu berakhir dengan pengurangan point, pengisisan buku pelanggaran dan yang terakhir sebuah surat peringatan yang ditujukan kepada kedua orangtuaku untuk ditanda tangani, kemudian diserahkan kepada pak Musa keesokan harinya.
            Aku menghembuskan napas dengan kesal, mencoba menghalau pikiran-pikiran negatif yang sejak beberapa hari ini memenuhi benakku. Tidak berhasil. Jika sudah seperti ini aku harus cepat-cepat merilekskan hati dan pikiran dengan cara apa saja, salah satunya melakukan sesuatu yang menjadi kesukaanku, seperti memasang puzzle-puzzle yang berjumlah hingga ratusan keping yang harus disusun dengan benar.
Drrrtt... Drrrt... Drrrtt...Drrrtt...
            Ponselku bergetar lama pertanda ada panggilan masuk. Aku mengambil ponsel yang tergeletak di ranjang tempat tidurku, lalu meliriknya sekilas. Aku mengernyit bingung saat mendapati sebuah nomor asing yang tertera di layar ponselku. Aku segera menekan tombol berwarna hijau—hening sejenak, hingga sebuah suara dari seberang menyapaku dengan ramah. Aku tertegun. Lagi-lagi, tanpa kuperintah jantungku kembali berdetak dengan kecepatan tidak normal.
            “Ini benar nomornya Ara, kan ?” tanya suara itu lagi setelah tak mendengar jawaban dariku.
            “I-iya. Ini siapa ?” tanyaku pura-pura tidak tahu padahal jelas-jelas aku mengenali suara itu.
            “Ini Lian, Ra.”
            “Oh Lian, kirain siapa.”
            “Kamu kira cowok kamu ya yang nelpon ?” Lian tertawa renyah, membuat perasaanku semakin tidak karuan.
            “Enggak kok,” kilahku cepat. “Aku nggak punya cowok kok Lian.” Kudengar Lian menghela napas lalu setengah berbisik ‘syukurlah’.
            “Kenapa Lian, kok kedengarannya lega banget ?” tanyaku memastikan.
            “Eh !? enggak... nggak pa-pa kok, Ra. Gimana kabarnya hari ini ? dengar-dengar tadi kamu masuk ruang BP, ya ? ternyata Ara nakal juga ya sampai-sampai masuk ruang BP.”
            Duh nih orang kok tau sih ? malu-maluin aja, batinku resah.
            “Nyantai aja kali, Ra, murid masuk BP itu wajar, yang nggak wajar itu kalo masuk penjara. Hahaha...” aku tertawa saat mendengar candaan Lian barusan. “Nah, gitu dong ketawa, kan lebih enak didengar daripada kesal mulu.”
            “Iya-iya Lian, makasih udah ngehibur aku meskipun masih rada-rada kesal sama tuh guru. Ngomong-ngomong ada perlu apa ? tumben kok nelpon aku,” tanyaku memberanikan diri.
            “Eh iya sampai lupa sama tujuan awalnya hehehe...” Lian menghela napas perlahan, lalu berkata, “Gini lho, Ra, mulai besok kita berangkat bareng yuk, daripada kamu nungguin bus yang datangnya juga belum pasti. Gimana mau ya ?”
            “Tapi...”
            “Nggak ada tapi-tapian,” potong Lian cepat. “Pokoknya besok pagi kamu udah stay didepan rumah jam 06.15 ya. Bye, Ra.” Aku heran dengan tingkah Lian yang menurutku tidak seperti biasanya. Apa benar dugaanku kalau Lian juga suka padaku ?
            Ah jangan mimpi. Siapa tau Lian hanya ingin berteman denganku, Hiburku.
                                            V.E.N.D.A.I.N.T.A.N.P.R.A.T.A.M.A         
Hubunganku dengan Lian semakin dekat. Kami layaknya sepasang sahabat yang tak terpisahkan. Dimana ada aku disitu selalu ada Lian, begitu juga sebaliknya. Semua orang iri dengan kedekatan kami berdua. Mereka beranggapan bahwa kami adalah contoh sahabat sejati di dunia ini. Yeah, mungkin hanya sahabat dan nggak lebih, tetapi salahkah jika aku mengharapkan lebih dari sebuah persahabatan ?
            Hingga suatu hari saat aku dan Lian berada di taman belakang rumahnya. Matahari sore mulai merambat menuju ke tempat peristirahatannya. Warna kuning kemerahan menghiasi langit cakrawala, beberapa ekor camar senja tampak berterbangan saling mendahului satu sama lain. Lian menatapku lama. Sedetik kemudian kedua tangannya menggenggam kedua tanganku. Jantungku kembali bergemuruh dibuatnya.
            “Ra, mungkin ini kedengarannya lucu. Ini memang aneh dan nggak masuk akal, aku tau kalo hubungan pertemanan kita seharusnya nggak sampai sejauh ini. Tapi jujur, selama ini aku... aku suka sama kamu, Ra. Kamu mau kan jadi pacarku ?” tanyanya sambil menatapku penuh harap. Tuhan, adakah yang lebih indah daripada pengakuan singkat ini ? TIDAK SAMA SEKALI. Tuhan, kata-kata yang sejak dulu aku nanti-nantikan akhirnya terucap juga. Tanpa berpikir lagi aku segera menganggukkan kepala. Lian tersenyum lebar, kemudian mengecup keningku dan memelukku erat.
            “Makasih, Ra, aku sayang banget sama kamu. Aku janji, aku nggak akan bikin kamu nangis.”
            “Iya, aku percaya sama kamu Lian.”
            “Berlian,” suara mama Lian mengejutkan kami berdua. Aku dan Lian cepat-cepat melepaskan diri masing-masing. Lian tersenyum lembut kepadaku.
            “Iya ma, sebentar. Tenang saja, Ra mama nggak bakalan tau kok. Cuman kita dan Tuhan yang tau hubungan ini. Aku janji, aku nggak akan bongkar rahasia ini ke siapapun.” Aku mengangguk. Untuk kesekian kalinya aku belajar mempercayainya. “Aku nemuin mama dulu ya, sebentar saja kok.” Lian segera berlalu dari hadapanku. Diam-diam aku memutar kembali kejadian-kejadian yang aku lewatkan bersama Lian hari ini. Aku tersenyum ketika mengingat ekspresi Lian saat mengutarakan isi hatinya kepadaku, lalu saat dia untuk yang pertama kalinya mengecup keningku dan merasakan dekapan hangat tubuhnya walaupun hanya sebentar.
            Ra, mungkin ini kedengarannya lucu. Ini memang aneh dan nggak masuk akal, aku tau kalo hubungan pertemanan kita seharusnya tak sampai sejauh ini...
Aku tahu Lian, hubungan ini tak seharusnya terjadi. Ini merupakan sebuah kesalahan besar. Kita seharusnya tidak boleh melakukan hubungan sejauh ini karena sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa bersatu.
            V.E.N.D.A.I.N.T.A.N.P.R.A.T.A.M.A
            “Berlian,” Ujar Nano sambil duduk disamping Lian. Diam-diam aku merasa cemburu melihat sikap agresif Nano saat mendekati pacarku. Aku ingat betul beberapa hari yang lalu saat aku dan Lian berjalan di koridor sekolah yang kebetulan sedang sepi, tiba-tiba saja Nano mencegat langkah kami berdua. Kulirik sekilas wajah Lian yang berubah menjadi kesal ketika melihat kedatangan Nano.
            “Ada apa lagi sih, No ? apa perkataanku waktu itu belum jelas ? minggir-minggir, aku sama Ara mau lewat !” Lian menyeret tanganku meninggalkan Nano yang masih bergeming di tempat berdirinya.
            “Tunggu, Lian, kamu nggak bisa seenaknya nolak aku tanpa alasan kayak gini. Aku suka kamu, oke ?! dan kamu nggak suka aku. Kamu nolak aku tanpa alasan yang jelas. Sekarang aku mau dengar apa alasan kamu nggak mau nerima cintaku ?” tanya Nano tak mau menyerah. Aku sangat kesal dengan Nano, dia tidak tau apa kalo Lian itu pacarku ? seenaknya saja memaksa Lian untuk menjadi pacarnya. Aku sudah membuka mulutku untuk memaki-maki Nano, tetapi tangan Lian mencengkeram tanganku seolah mengisyaratkan supaya ‘diam’, aku kembali terdiam meskipun dalam hati sudah uring-uringan setengah mati.
            “Oke-oke kalo kamu mau tau alasannya,”—DEG. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Aku takut bila Lian tanpa sengaja membeberkan hubungan yang tidak wajar ini.
            “Aku udah punya pacar. Sekarang kamu udah tau alasan aku, jadi aku minta jangan ganggu hidupku lagi !”
            “Aku akan tetap nunggu kamu, Lian, apapun yang terjadi. Aku nggak peduli meskipun kamu udah punya cowok. Aku akan tunjukin ke kamu kalo aku lebih baik daripada pacarmu itu. Kalo perlu, suruh saja pacar kamu itu datang kehadapanku, bilang ke dia, AKU NANTANGIN DIA !!!” teriak Nano tak mau menyerah membuat nyaliku berubah ciut. Aku tau yang dimaksud Nano dengan pacar Lian—berarti itu aku. Lian memang resmi menjadi pacarku sejak sebulan yang lalu, pastinya tidak ada yang tau adanya hubungan terlarang diantara kami. Berhadapan dengan Nano ? yang benar saja, aku memang pacar Lian, tetapi aku nggak mau berurusan dengan cowok brengsek, nggak tau malu dan perebut pacar orang tersebut.
            “Kamu tenang saja, Ra, aku tetap setia sama kamu kok. Nggak usah didengarin omongan cowok cupu kayak gitu.” Hibur Lian langsung membuat hatiku menjadi jauh lebih tenang.
            “Kamu nggak nyerah juga ya, No ?” tanggap Lian dengan nada sinis. “Ayo, Ra, kita pergi dari sini, nggak nafsu makan jadinya.” Lian dan aku bersiap-siap bangkit dari kursi saat satu tangan Nano mencekal pergelangan tangan Lian dengar erat. Lagi-lagi kesabaranku di uji.
            “Tetap disini kalo nggak mau rahasia kalian kebongkar.” Ancam Nano dengan suara tajam. Tubuhku tiba-tiba menegang. Rahasia apa ? jangan-jangan...
            “Rahasia apa ?” sahutku cepat. Lian menoleh ke arahku dengan panik, aku hanya tersenyum samar berniat menghiburnya meskipun aku sendiri sama paniknya dengan Lian.
            “Hahaha... kalo soal beginian saja kalian panik. Emang benar ya ?” Nano tersenyum sinis sambil menatap wajah kami bergantian. “Kenapa takut ya ? hahaha... wajahnya sampai merah kayak gitu.”
            “Cepetan ngomong apa yang kamu maksud dengan rahasia itu ?”
            “Dasar pasangan lesbi. Ckck... aku nggak nyangka kalo ternyata dibalik hubungan persahabatan kalian itu tersimpan rahasia besar. Gimana ya kalo satu sekolahan ini tau tentang rahasia itu ? heboh deh pastinya.”
            “Jangan macam-macam, No !” Seru Lian. “Cepat katakan apa maumu ?”
            “Mauku ? kalian benar-benar ingin tau keinginanku ?” Nano mengangkat bahunya sekilas, pandangan matanya yang tajam tetap tak mau melepaskan kami. “Aku ingin membuat kalian malu. Aku ingin ngeliat reaksi kalian seandainya satu sekolahan ini tau tentang hubungan menjijikkan itu, itung-itung balasan buat kamu, Lian, yang dulu udah pernah bikin aku malu karena ngemis-ngemis cinta kamu. Bye, girls, see you both tomorrow.” Ujarnya santai sambil meninggalkan kami yang masih tertegun.
V.E.N.D.A.I.N.T.A.N.P.R.A.T.A.M.A
PLAAKK...
Lian menutupi pipinya yang memerah akibat tamparan dari papanya. Aku hanya bisa berdiri canggung dibelakang Lian tanpa bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya. Kepalaku menunduk dalam-dalam, tidak berani menyaksikan kegeraman papa dan mama Lian kepada putri semata wayangnya tersebut.
            “Mau jadi apa kamu, huh ? berani-beraninya merusak nama baik keluarga kita. Apa selama ini papa sama mamamu tidak pernah mengajarimu norma-norma ?” tanya papa Lian dengan suara menggelegar. Disampingnya, berdiri seorang wanita paruh baya yang berusaha menenangkan kemarahan suaminya sambil sesekali terisak pelan. Melihat semua itu aku semakin tidak tahan. Aku ingin pergi dari sini secepatnya, tetapi bagaimanapun juga ini kesalahanku dan sudah seharusnya aku ikut menanggung semua akibatnnya.
            “Papa, maafkan Berlian,” ujar Lian bersusah payah mencoba berdamai dengan perasaannya sendiri. “Berlian tau ini salah, hubungan terlarang ini tidak semestinya terjadi, tapi... maaf,”
            “Apa salah kami berdua, nak, sehingga kamu membalas kami dengan kelakuan buruk kamu itu ? apa kami kurang perhatian sama kamu ? apa mau kamu sebenarnya ? coba katakan sama mama dan papa sekarang,” Lian menggeleng-gelengkan kepalanya, setetes air mata jatuh membasahi wajah cantiknya. Ia berusaha memeluk mamanya, tetapi sebuah tangan milik papanya menghalangi niatnya.
            “Maaf...”
            “Semuanya sudah terjadi. Nama baik keluarga kita sudah rusak gara-gara kamu...”
            “Maaf, om,” potongku cepat. “Kami berdua sama-sama sadar tentang hubungan ini. Kami berdua sama-sama menyadarinya, tetapi jujur, om, kami tidak pernah merencanakan hubungan ini sebelumnya. Saya dan Lian bertemu dan hubungan itu terjalin begitu saja, jadi saya mohon kepada om dan tante, jangan terlalu menyalahkan atau menyudutkan kami berdua, terutama Lian.” Ujarku dengan suaraku bergetar. Kulirik Lian yang masih membelakangiku, kemudian beralih kepada mamanya yang masih terisak di pelukan papa Lian dan pandanganku terhenti saat menyadari tatapan tajam papa Lian masih mengarah padaku. Tamatlah riwayatku, batinku.
            “Ara,” panggil Lian cemas.
            “Hahaha... kalian berdua sama saja. Sama-sama bodoh, sama-sama tidak bermoral !” komentar papa Lian membuat telingaku semakin panas. “Cepat kamu angkat kaki dari rumah ini. Dan yang harus kamu ingat bahwa, jangan sekali-sekali kamu menginjakkan kaki di rumah ini lagi, jangan ganggu kehidupan keluarga saya dan jangan kamu masuk kedalam kehidupan putri saya lagi jika nantinya kamu hanya ingin menghancurkannya. Mengerti ?!”
            “B-baik, om, saya mengerti.”
            “Ara ? papa nggak...” ujar Lian tergagap. Ia memandangku dan papanya secara bergantian.
            “Baiklah. Sekarang kamu boleh meninggalkan rumah ini dan jangan pernah kembali lagi.” Ketus papa Lian sambil menyeret lenganku kuat-kuat. Aku hanya bisa meringis menahan nyeri pada lenganku yang kini memerah.
            “Papa, nggak boleh sekasar itu sama Ara.”
            “Diam !” bentak papanya. Lian hanya bisa memandangku yang semakin menjauh dengan pasrah. Aku tersenyum kepadanya sambil menggelengkan kepalaku perlahan.
            “Nggak pa-pa, Lian.” Kataku tanpa suara sebelum pintu dihadapanku tertutup.
V.E.N.D.A.I.N.T.A.N.P.R.A.T.A.M.A
Sudah dua hari berlalu sejak kejadian malam hari itu di rumah Lian. Hari ini merupakan hari ke-tiga Lian tidak masuk sekolah. Aku sangat kesepian tanpanya, apalagi jika mengetahui bahwa semua teman-temanku mulai menjaga jarak denganku. Rupanya berita itu sudah menyebar ke seantero sekolah, bahkan sudah sempat mampir ke telinga para guru. Pak Hikam, kepala sekolahku, juga sering memanggilku bahkan beliau sudah menulis surat panggilan untuk kedua orangtuaku. Mama dan papa juga marah kepadaku, seperti halnya kedua orangtua Lian.
            Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 09.15, berarti sekarang waktunya pergantian mata pelajaran fisika—dan kau tahu, hal itu semakin membuatku tak bersemangat. Saat bu Mirna, guru biologi, meninggalkan ruang kelas, tak lama kemudian masuklah pak Arlan—selaku guru fisika yang juga merangkap sebagai wali kelasku—yang memberitahukan bahwa, mulai hari ini siswi yang bernama Berlian Biru atau yang biasa dipanggil Lian atau Berlian telah resmi keluar dari SMA Gemilang. Aku sempat ternganga saking terkejutnya mendengar berita tersebut. Lian keluar dari sekolah ? tetapi mengapa dia tidak mengabariku sebelumnya ?—sejak saat itu pikiranku semakin tidak konsen mengikuti pelajaran di sekolah dan aku memutuskan untuk mampir ke rumah Lian sepulang sekolah nanti. Aku bertekad bahwa aku harus bisa menemuinya dan meminta penjelasannya mengenai kepindahannya itu.
            “Assalamu’alaikum,” ucapku sambil berkali-kali memencet bel diluar pagar rumah Lian, tetapi tetap saja tidak ada sahutan dari dalam rumah. Aku mengintip melalui celah-celah pagar rumah Lian dan sempat terkejut saat mendapati sebuah papan kayu besar berwarna putih yang bertuliskan huruf balok besar-besar : FOR SALE RUMAH DENGAN LUAS 25m X 30m. HUB BPK WIRAWAN : 085733XXX.
            Aku terduduk lesu diatas rerumputan hijau didepan rumahnya. Aku sudah putus asa. Kemana lagi aku harus mencari Lian ? disisi lain aku tahu, semua kerabat-kerabat Lian bertempat tinggal di luar pulau atau bahkan ada yang tinggal di luar negeri, jadi pupus sudah harapanku untuk bertemu kembali dengannya meskipun hanya untuk mengucapkan maaf dan selamat tinggal.
            “Non Tiara, kan ?” tanya sebuah suara yang sukses mengejutkanku. Aku berbalik dan seketika mataku berbinar-binar saat mengetahui bahwa suara itu milik bik Yum, pembantu rumah tangga yang dulunya sempat mengabdi di keluarga Lian.
            “Bibik, apa kabar ?” tanyaku berbasa-basi.
            “Kabar bibik baik-baik saja. Non, sendiri juga baik, kan ?” aku mengangguk sambil tersenyum ramah padanya. “Bibik tau, pasti Non Tiara kemari buat nyariin Non Berlian,” Lagi-lagi aku mengangguk.
            “Tapi sayangnya Non Berlian bersama Tuan dan Nyonya baru kemarin siang perginya.” Jelas perempuan gembul tersebut. Aku hanya bisa manggut-manggut meskipun dalam hati aku sangat menyesalkan keputusan keluarga Lian.
            “Bibik, tau nggak kemana perginya mereka ?” tanyaku penuh harap.
            “Katanya sih mereka mau tinggal di Singapura, Non. Oya bibik jadi ingat kalau sebelum berangkat Non Berlian sempat nitipin surat ini ke bibik,” Bik Yum menyodorkan sebuah amplop berwarna biru muda kepadaku. “Kasihan lho Non Berlian sampai sembunyi-sembunyi ngasih suratnyanya soalnya takut ketahuan sama Tuan dan Nyonya. Kalau begitu bibik permisi dulu ya, Non.” Pamit Bik Yum.
            “Terima kasih banyak, Bik.”
            “Sama-sama, Non.” Ujarnya sambil berlalu dari hadapanku. Aku memandangi surat itu, kemudian memutuskan untuk membacanya.
Dear, Ara sahabatku sekaligus orang yang paling spesial buatku...
            Maaf ya Ra, aku pergi nggak bilang-bilang kamu sebelumnya karena ini sangat mendadak dan percaya tidak, aku baru tahu rencana kepindahan keluargaku ini pagi harinya, saat aku bersiap-siap pergi ke sekolah tiba-tiba mama dan papa menghampiriku dan mengatakan bahwa aku nggak perlu ke sekolah lagi karena siang ini juga kami sekeluarga akan pindah. Kau tahu Ara, saat mereka berkata seperti itu aku sangat marah, apalagi saat mengetahui bahwa kami akan pergi ke luar negeri. Itu berarti kemungkinan kita akan bertemu lagi amat sangat kecil.
            Mungkin bagi mereka, kepindahan ini untuk membuka lembaran-lembaran hidup yang baru dan melupakan kenyataan-kenyataan pahit di masa lalu. Aku sempat berpikir-pikir bahwa itu memang benar. Masa lalu biarlah berlalu dan hanya menjadi kenangan, masa lalu tidak boleh mempengaruhi kehidupan kita di masa yang akan datang. Kita sempat terpuruk dan sudah saatnya kita untuk bangkit menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Kenangan tidak akan bisa dilupakan karena bagaimanapun juga kita pernah memerankan satu episode hitam di masa lalu tersebut.
            Ra, maafin aku yaa karena udah ngerusak hidup kamu. Aku yakin, kamu pasti akan nemuin orang yang memang benar-benar ditakdirkan Tuhan untukmu. Dan aku juga yakin, disinilah hidupku baru akan dimulai kembali. Selamat tinggal, Ara. Kamu adalah sahabat sekaligus orang terspesial yang pernah hidup di hatiku. Kenanglah aku sebagai sahabatmu...
From, seseorang yang selalu merindukanmu, Berlian Biru.
            Aku tersenyum setelah membaca surat Lian. Tak ada satu tetes air mata pun yang keluar dari kedua mataku. “Selamat tinggal Lian, kamu adalah kenangan terindah di hidupku. Kamu sahabat yang paling istimewa bagiku. Jangan pernah melupakan aku...” kenangku sambil tersenyum bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar