Kamis, 12 April 2012

Bulan, Bintang dan Matahari


Tanpa bulan malam akan menjelma menjadi malam pekat yang lebih menyeramkan daripada seribu malam yang sering lo temui di malam-malam lo selama ini. Bulan itu benda langit yang paling anggun, yang selalu tampak lebih rendah hati dibandingkan yang lain. Ia seperti sosok yang penuh kelembutan. Terkadang ia bersinar seorang diri tanpa ditemani oleh bintang, tapi nyatanya ia tetap baik-baik saja. Bulan itu tegar.
            Berbeda dengan bulan, bintang selalu tampak paling menonjol diantara semua ciptaan Tuhan yang ada di alam semesta ini. Bintang memang kecil. Tapi asal lo tau, manusia itu makhluk yang kecil seperti bintang. Ada yang bersinar redup, ada juga yang sinarnya paling terang. Meskipun lo dianggap rendah oleh orang-orang disekitar lo, tetapi alangkah baiknya kalo lo menanggapinya dengan senyum yang bersinar di kedua mata lo layaknya bintang. Ia selalu kuat.
Matahari ? enggak ada yang perlu gue jelasin lagi tentang matahari. Bahkan semua orang udah tau kalo dia itu seperti penguasa. Penguasa yang menguasai siang. Raja alam semesta. Ia menawarkan kehangatan bagi siapa saja. Matahari itu teman yang paling setia.

◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄

Hari ini adalah hari pertama Irish menjadi siswi baru disebuah SMA favorit di Jakarta. Tentu saja di momen yang istimewa ini, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan sekali seumur hidupnya berstatus sebagai siswi SMA. Ia akan menjadi pribadi baru yang lebih baik dari yang sebelumnya. Irish berputar-putar didepan cermin kamarnya, mematut-matutkan tubuhnya yang mungil. Memperhatikan secara detail perubahan besar yang terjadi pada dirinya yang kini sudah menjelma menjadi gadis belia yang sangat cantik. Tak terasa tiga tahun lalu ia masih merupakan siswi berseragam putih-biru yang masih suka bermanja-manja kepada orangtua. Berbeda dengan Irish yang sedang berdiri didepan cermin sambil menggunakan seragam putih-abu ini.
            Cewek berdarah arab itu tersenyum puas saat menatapi bayangannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia menghembuskan napas lega. Matanya yang lebar melirik sebuah jam bergambar matahari yang tergantung pada dinding kamarnya yang berwarna biru muda. Pukul 06.15. Irish segera mengambil tas, kemudian meninggalkan kamarnya untuk sarapan pagi bersama keluarganya. Mereka semua tersenyum lebar ketika melihat Irish yang baru saja turun dari tangga. Mama menghampiri putri kesayangannya, lalu mengecup keningnya dengan lembut.
            “Selamat pagi sayang,”
            “Selamat pagi, ma.” Balasnya sembari berjalan dibelakang mama menuju meja makan.
            “Anak papa sekarang sudah dewasa ya. Ingat, Rish, mulai sekarang kamu udah nggak boleh manja-manjaan lagi.” Ujar papa menggoda Irish. Cewek itu pura-pura manyun.
            “Ah papa, kayak nggak kenal Irish aja. Dewasanya paling cuman semenit, setelah itu mulai deh kayak anak kecil lagi. Weekkk...” Irish mencubit lengan kakaknya dengan kesal. Adam, kakak Irish, mengadu sambil melotot galak ke arahnya.
Adam adalah kakak Irish satu-satunya. Ia saat ini duduk dibangku kelas 3 SMA disebuah sekolahan favorit di Jakarta yang merupakan sekolah Irish juga. Alasan kedua orangtua mereka menyekolahkan Adam dan Irish di tempat yang sama adalah supaya Adam lebih mudah mengawasi Irish, menjaganya disaat kedua orangtua mereka tak bisa berdiri siaga disamping Irish selama dia berada di luar rumah. Irish sama sekali tak keberatan dengan keputusan orangtuanya, ia justru senang diperlakukan seperti itu. Ia merasa sangat diperhatikan oleh keluarganya. Memang sih sedikit risih apalagi jika menghabiskan waktu hampir setengah hari berada didekat kakaknya yang terkadang rese’ dan suka berbuat seenaknya itu.
Setelah selesai makan pagi, Irish dan Adam bersiap-siap berangkat ke sekolah. Jarak antara rumah dan sekolah mereka sangat dekat. Mereka memutuskan untuk berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki dan itu hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit.
“Itung-itung olahraga pagi, Rish, biar badan sehat, nggak loyo.” Omel Adam saat Irish mulai mengeluh kecapekan. Irish hanya tersenyum kecut mendengar ocehan kakaknya.
“Gue nggak nyangka, tiga tahun berturut-turut ini kakak jalan kaki kalo berangkat sekolah.” Itu adalah pernyataan bukan pertannyaan, tetapi Adam tetap menjawabnya.
“Lo kira lengan berotot ini bukan hasil olahraga ? nggak kayak lo. Ih apaan tuh perutnya banyak lemaknya.”
“Kurang ajar ya kakak,” dengus Irish. “Gue bilangin mama nanti.”
“Bwahahaha... tuh kan bener kata gue tadi. Palingan dewasanya cuman semenit, setelah itu sifat aslinya keliatan lagi deh. Dasar anak kecil.” Ejeknya sambil mengacak-acak rambut panjang Irish yang di kepang dua. Sebelum rambutnya semakin berantakan, ia dengan sigap menangkis tangan kakaknya agar tak sampai menyentuh rambutnya.
PYUUUURRR...
            Sebuah Escudo hitam melaju kencang, genangan sisa-sisa air hujan di jalan terciprat kemana-mana. Seragam sekolah mereka menjadi kotor, bekas cipratan lumpur tercetak jelas disana. Irish mendengus kesal. Dengan spontan, ia mengambil sebuah kerikil kecil lalu melemparkannya hingga mengenai kaca belakang mobil tersebut. Adam mendelik ke arahnya, tetapi Irish tampak tak peduli.
            “Rish, lo gila ya ? untung tuh kaca nggak pecah.” Semprotnya galak.
            “Halah kak, mana bisa tuh kaca pecah ? orang yang kulempar tadi kerikil kecil kok, bukan paving atau bom atom.” Sanggah Irish tenang.
            “Eh kalian berdua, pagi-pagi udah nyari masalah !!!” bentak pemilik mobil tersebut. Adam maju selangkah kedepan Irish.
            “Lo duluan kali yang mulai. Lo nggak liat apa, seragam kita jadi kotor kayak gini ?!”
            “Itu urusan elo berdua, bukan urusan gue. Lagian seragam dekil kayak gitu nggak ada apa-apanya dibandingin sama mobil gue. Emangnya kalian berdua bisa ganti rugi, huh ?” tantangnya. Telinga Irish mulai memanas. Ia melangkah maju, menyejajarkan tubuhnya disamping tubuh Adam.
            “Eh lo belagu banget sih jadi orang. Buang-buang waktu tau nggak, ngeladeni cowok songong kayak lo,” Irish melirik menatap wajah kakaknya yang sepertinya takjub melihat reaksinya yang mungkin sedikit berlebihan, tetapi ia tetap tak peduli. Dengan cepat, ia meraih lengan kakaknya dan buru-buru menyeretnya pergi. “Ayo kak, keburu masuk nih.” Irish dan Adam berjalan santai melewati cowok itu tanpa memperdulikan tatapan tajam matanya.

◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄

Suasana didalam kelas sangat riuh. Para siswa dan siswi baru rupanya sedang sibuk berkenalan sana-sini atau hanya sekedar tebar pesona untuk mencari gebetan baru. Aih, sudah menjadi tradisi turun-menurun ya rupanya. Irish duduk di deretan meja kedua baris ketiga dari depan. Sedari tadi ia sudah berkenalan kesana-kemari dengan hampir selusin murid, jadi saat ini waktunya untuk beristirahat sejenak. Irish melongokkan kepalanya, memandangi satu-persatu teman-teman barunya yang sepertinya sudah mulai akrab satu sama lain.
            Hah... berarti cuman gue aja yang sendirian, batinnya sambil melirik bangku kosong disebelahnya.
            Tak berapa lama kemudian, pintu kelasnya terbuka lebar. Kelas yang tadinya riuh mendadak menjadi hening. Seluruh penghuni kelas seakan terhipnotis oleh sosok yang baru saja masuk kedalam kelas itu. Kakak OSIS yang sedang kebagian menjaga kelasnya, segera menghampiri sosok berjenis kelamin laki-laki itu sambil tersenyum ramah.
            “Permisi kak,” Ujarnya lirih. Kakak OSIS cewek itu tersenyum tipis. Ia mengangguk- maklum. Benar-benar tipe kakak OSIS idaman nih. Udah cantik, baik, tidak suka menindas adik kelasnya pula.
            “Mengapa kamu baru masuk kelas jam segini ?” tanya kakak OSIS itu dengan nada ramah.
            “Tadi saya ada keperluan sebentar dengan bagian administrasi sekolah, jadi saya masuk ke kelasnya terlambat.” Jelasnya.
            “Baiklah. Sebelum saya persilahkan kamu duduk, bagaimana kalo kamu memperkenalkan diri dulu ?” semua penghuni kelas langsung menyetujuinya, terutama dari pihak cewek. Kecuali Irish yang sedari tadi hanya berdiam diri.
Cowok berambut sedikit gondrong—meskipun tidak sampai melewati kerah seragamnya, paling tidak hampir menyentuh sedikit kerah kemeja putihnya— dan berwarna kecoklatan itu mengangguk sekilas. “Nama gue Nathanael Marshall Arsavhino, gue biasa dipanggil Nathan. Gue dari SMP Tunas Hijau, Bogor.”
            “Nathan, sekarang kamu boleh duduk disamping cewek berkepang dua itu.” Nathan mengangguk patuh, kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya. Sesaat setelah dia mendudukkan pantatnya diatas kursi coklat tepat disamping kursi Irish, pandangan mata mereka bertemu. Irish merasa seperti ada sesuatu yang familier dari pandangan mata itu. Tiba-tiba saja jantung Irish bergemuruh, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia melirik ragu melalui sudut matanya, cowok itu sedang tersenyum geli ketika melihat seorang cewek yang duduk disampinya itu salah tingkah.
            “Elo cewek yang nyemprot gue tadi pagi, kan ? oya kenalin gue Nathan,” ia mengulurkan tangannya kehadapan Irish. Mau tak mau Irish segera menjabat tangan putih tersebut. “Nama panggilan lo pasti Irish, ya ? Hmm... Clairisha nama yang cukup bagus dan simpel.” Komentarnya singkat.
Irish mengernyitkan dahi saking bingungnya, “Hah !? kok lo bisa tau nama gue sih ?” Nathan menunjuk sesuatu di seragam yang sedang Irish kenakan. Irish mengikuti arah pandang cowok itu yang ternyata tertuju pada beadge nama Irish. Clairisha. Tercetak jelas-jelas disana. Oh sial ! rutuk Irish dalam hati.

◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄

            “Rish, aku pengen banget pacaran, tapi katanya mama kalo masih kecil nggak boleh pacaran, ntar aja kalo udah gede.” Ujar seorang anak lelaki berusia sekitar 6 tahun dengan polosnya. Teman perempuan yang duduk disebelah kirinya mengernyitkan dahinya tampak kebingungan.
            “Hah !? pacalan ? apa itu ? sejenis makanan ya ? hmm... enak nggak lasanya ?” tanya gadis kecil itu. Anak lelaki itu tampak kesulitan ketika akan menjelaskannya pada temannya, tetapi tiba-tiba seulas senyum lembut mampir ke wajahnya.
            “Huh ! Irish,” rajuknya. Kedua mata coklatnya tak bosan-bosan memandangi wajah teman sebayanya itu. “Kamu yang dipikirin makanan mulu. Pacaran itu seperti dua orang yang selalu bersama-sama. Seperti kita ini.”
            “Belalti kita ini pacalan ya ?”
            “Iya, asal kamu mau jadi pacar aku dulu.” Anak perempuan itu tampak sedang berpikir keras, lalu ia mengangguk membuat teman lelakinya tersenyum semakin lebar.
            “Holeee !!! aku pacalan sama Niko.” Teriak gadis bernama Irish kegirangan. Anak laki-laki yang bernama Niko itu segera membekap mulut Irish dengan kuat. Niko menempelkan jari telunjuknya ke bibir.
            “Sssttt... Irish jangan teriak-teriak kayak gitu dong, nanti kalo ketauan sama mama aku gimana hayo ? nanti kita nggak boleh pacaran lagi.”
            “Eh. Maafin Ilish ya, Nik,” ujar Irish lirih. Ia merasa bersalah kepada Niko. Irish bangkit meninggalkan Niko menuju semak-semak liar dipinggir pohon besar yang tumbuh di sebuah taman bunga dekat rumah mereka. Taman bunga itu merupakan satu-satunya tempat favorit mereka berdua untuk menghabiskan waktu bersama hingga matahari tak terlihat lagi. Irish kembali lagi kehadapan Niko sambil tersenyum tipis. Kedua tangan kecilnya tertekuk kebelakang. Tak perlu bantuan Sherlock Holmes untuk menebak adanya sesuatu yang sedang disembunyikan Irish dibalik tubuhnya.
            “Tadaaa !!! ini buat Niko, tadi kan Ilish sempat buat Niko kesal, jadi Ilish kasih Niko ini sebagai pelmohonan maaf Ilish.” Irish menyodorkan setangkai bunga matahari segar kehadapan Niko. Niko menerimanya dengan senang hati.
            “Niko nggak kesal kok sama kamu. Lagian ya, Rish, yang wajib ngasih bunga itu cowok bukan cewek. Kok kita malah kebalikannya sih ?!”
            “Hahaha...” Irish tergelak melihat tampang Niko. Niko menggenggam kedua tangan kecil Irish membuat tawa gadis itu terhenti.
            “Kita itu seperti matahari yang bersinar di setiap pagi harinya. Matahari akan terus menghangatkan dunia, seperti seorang teman yang selalu menawarkan kehangatan dan kenyamanan bagi temannya yang lain. Rish, mulai sekarang kamu adalah teman sekaligus matahari yang selalu menemaniku di setiap harinya.”
            “Kok teman sih, katanya pacal ?” protes Irish.
            “Iya deh, mulai sekarang dan selamanya Irish adalah teman sekaligus pacar Niko yang paling manis.”

◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄

Malam harinya, Irish terpekur diatas balkon kamarnya. Kedua matanya tak henti-hentinya menatap sebuah rumah besar yang berdiri tepat didepan rumahnya. Rumah itu dulu milik Niko, sahabat sekaligus pacar masa kecilnya. Sekarang rumah itu terlihat sepi dan mati tanpa ocehan Niko di setiap harinya.
            Mereka bersahabat sejak umur mereka menginjak 4 tahun. Umur mereka berdua hanya selisih 5 bulan. Ketika Niko duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar, ia beserta papanya terpaksa pindah ke luar kota karena sebuah tugas yang mengharuskan Niko dan papanya untuk pindah ke sebuah kota kecil yang terletak di provinsi Jawa Timur. Niko memang hanya tinggal berdua bersama papanya, setelah mamanya resmi bercerai dengan papanya ketika Niko masih berumur 9 tahun. Awalnya papa Niko yang notabene adalah sahabat papa Irish sempat saling mengirimkan kabar masing-masing, hal itu hanya bertahan sekitar tiga bulan, hingga pada akhirnya mereka benar-benar kehilangan kontak sampai saat ini.
            Irish memandangi sebuah pigura cantik bergambar matahari yang didalamnya terdapat foto dirinya yang sedang tertawa lebar menampilkan deretan giginya yang kebanyakan masih ompong bersama dengan Niko yang sedang tersenyum tipis sambil membawa setangkai bunga matahari. Dibalik pigura tersebut terdapat tulisan cakar ayam Irish, yang berbunyi : Clairisha pacar Nicholas selamanya J. Dan siluet wajah keduanya yang masih membekas didalam ingatan Irish sampai sekarang adalah bahwa saat itu mereka benar-benar terlihat bahagia.
            “Kamu sekarang ada dimana, Nik ? kabar kamu gimana ? hmm... aku kangen banget sama kamu.” Kedua mata Irish menerawang menatap langit diatasnya.
            “Bulan dan Bintang, Irish dan Niko. Jangan pernah tinggalin aku ya, Rish, ntar aku nggak ada temannya lagi...”
            Irish tersenyum miris mengingat ucapan Niko tersebut. Setetes air mata membasahi pipinya. “Bukan Irish yang ninggalin kamu, Nik. Irish nggak pernah ninggalin kamu, tapi kamu yang ninggalin Irish sendirian disini.” Raungnya semakin menjadi-jadi.
            “Nangisin siapa lo ? Niko ?” tanya Adam yang tiba-tiba muncul dibelakang Irish. Irish menganggukkan kepala sekilas. “Duileee... yang lagi keinget sama cinta pertamanya.”
            “Kak, Irish sekarang lagi sedih. Sebagai kakak yang baik itu seharusnya ngehibur adiknya yang lagi sedih nggak malah ngetawain kayak gitu.” Dumel Irish kesal. Adam menghembuskan napasnya lirih. Ia menghempaskan tubuhnya disamping tubuh Irish, lalu menyandarkan kepala Irish ke pundaknya.
            “Lo tau kan, Rish, seberapapun menyebalkannya gue, gue itu tetap kakak lo yang selalu jagain lo. Gue nggak akan segan-segan nonjok siapa aja yang udah bikin lo nangis. Lo bisa panggil gue kalo lo butuh a shoulder to cry on. Gue siap berdiri dibarisan terdepan buat ngelindungi lo.”
            “Makasih, kak...” ujar Irish lirih. Kepalanya masih bersandar pada bahu kakaknya.
            “Rish, cinta pertama itu emang sulit dilupain. Apalagi lo sama si Niko ingusan yang waktu itu masih bau kencur. Kalian masih belum tau artinya mencintai seseorang yang sesungguhnya,” Adam menarik napas dalam-dalam, ia mendesah saat melihat adik kesayangannya masih sesenggukan disampingnya. “Gue minta lo buka mata sekarang juga. Liat dunia ini, jangan menghindar terus dari kenyataan. Setiap manusia selalu mempunyai kenangan dan masa lalu, kedua unsur tersebut emang nggak bisa dilupain. Bagaimanapun juga lo bisa berdiri sampai saat ini karena kenangan dan masa lalu itu sendiri. Tuhan selalu menciptakan hari esok sebagai sebuah kejutan besar untuk umatNya. Tuhan selalu punya rencana yang lain dari biasanya untuk kehidupan elo, Rish. Lo sekarang menempuh perjalanan seorang diri tanpa ada seseorang yang nemenin elo, tetapi percayalah di tengah-tengah perjalanan nanti akan ada seseorang yang udah nungguin kedatangan elo.” Irish menghapus semua air matanya. Ia tersenyum tulus sambil menggenggam kedua tangan milik kakaknya.
            “Lo kakak gue yang paling hebat. Gue bangga punya kakak sehebat elo, meskipun terkadang nyebelin sih. Hehehe...”
            “Apa lo bilang ? dasar nggak tau terima kasih lo ya. Huh ! jadi nyesel gue udah nasehati elo sampai mulut gue berbusa kayak tadi.” Sungut Adam sembari menjitak kepala Irish.

◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄

Irish mengatur napasnya yang terasa satu-satu di tenggorokan. Keringat mulai membasahi sekujur tubuhnya. Bajunya yang basah oleh keringat terasa melekat di tubuhnya. Untuk mengisi kekosongan di hari minggu pagi, Irish memutuskan untuk jogging memutari beberapa blok di kompleks perumahannya. Awalnya ia jogging bersama Adam, namun di tengah-tengah perjalanan Adam bertemu dengan temannya dan menyuruh Irish untuk pulang terlebih dahulu. Tadinya Irish sempat memberengut karena janji Adam mentraktir dirinya dengan susu sapi dan bubur ayam didepan kompleks yang terkenal enak itu terpaksa harus dibatalkan. Irish terpaksa menelan bulat-bulat rasa dongkol yang menggelayuti hatinya.
            Ia berhenti sejenak di bawah pohon jeruk yang tumbuh subur di pekarangan depan rumah besar yang dulunya milik Niko. Ia menengadah memandangi satu-persatu buah jeruk yang berwarna orange-kekuningan yang menggantung di cabang-cabang pohon tersebut. Irish menelan ludahnya.
“Lumayan nih ada jeruk, itung-itung buat ngeganjel perut gue yang udah mulai keroncongan ini,” gumam Irish. Ia menoleh kekanan dan kekiri sebelum memutuskan untuk memanjat pohon tersebut. “Aman !” pekiknya kegirangan. Setelah sampai diatas, Irish segera menebas jeruk-jeruk yang sudah matang. Jeruk-jeruk tersebut ia masukkan kedalam saku celana pendeknya.
“Udah lumayan banyak yang gue ambil, sekarang waktunya turun.” Ia turun dengan perlahan-lahan sambil berpegangan kuat-kuat pada dahan pohon.
“Ada maling !!!” teriak seseorang dari bawah. Irish yang terkejut tak sempat mengimbangi gerakannya yang tinggal beberapa meter dari atas tanah. Ia terjatuh dengan posisi non-mulus, terjerembap persis seperti posisi senam lilin. Ia meringis kesakitan sambil memegangi punggungnya yang mungkin terancam encok.
“Hah ketauan lo ya lagi ngambil jeruk-jeruk gue !” ujar suara sinis tersebut. Irish mendongakkan kepala. Pandangannya berubah kesal saat mengenali cowok yang menciprati seragamnya dengan air berlumpur di hari pertamanya tercatat sebagai siswi SMA. “Masih kecil udah belajar jadi maling...”
“Gue bukan maling !!!” tukas Irish cepat masih dalam posisi terduduk diatas tanah. Nathan mengerlingkan matanya.
“Oya ? terus kenapa lo tadi ada diatas pohon gue ? jangan bilang kalo lo jatuh dari pesawat terus nyangkut diatas sana,” wajah Irish bersemu merah. Nathan semakin bersemangat menggodanya. “Emm... lantas apa yang ada didalam saku celana pendek lo itu ? batu ?”
“Jeruk, bego !” sahut Irish kesal. “Kenapa lo ngatain gue maling ? secara pohon jeruk ini bukan milik lo. Pohon ini milik sahabat gue.”
“Hahaha... sahabat lo ? siapa ? pohon ini milik siapa kek, gue nggak peduli. Yang perlu lo ketahui sekarang, rumah ini sudah menjadi milik gue, jadi apapun yang ada disekitar rumah ini, entah itu barang yang berharga ataupun nggak berharga seperti kerikil ini,” tangan kanannya menyodorkan sebuah kerikil kecil kehadapan Irish. Wajah Irish memerah lagi ketika mengingat insiden pelemparan kerikil kecil pada kaca mobil Nathan beberapa hari yang lalu. “Secara nggak langsung udah sah berganti kepemilikan atas nama Nathanael Marshall Arsavhino. Ngerti ?”
“Ya gue ngerti.” Jawab Irish dengan berat hati. Cengiran di bibir Nathan semakin lebar.
“Bagus. Kalo gitu sekarang kasih semua jeruk-jeruk yang ada di saku lo itu ke gue,” perintahnya. Irish mendelikkan kedua matanya ke arah cowok tengil itu. Saat ia ingin protes, Nathan buru-buru memotong kalimat yang baru akan terlontar dari mulutnya. “Jangan protes ! pokoknya kasih semua jeruknya, jangan sampai ada yang tersisa.”

◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄

“Bulan itu ada berapa, Rish ?” tanya Niko saat mereka berdua sedang tidur-tiduran diatas rerumputan hijau di taman bunga favorit mereka.
            “Satu,” jawab Irish cepat. Niko menggeleng. Irish mengernyitkan dahi. “Terus ada berapa dong ?”
            “Dua.”
            “Lho kok...?”
            “Bulan yang satu kan miliknya langit, tapi bulan yang satunya lagi milik bintang jatuh.”
            “Bintang jatuh ? Maksud kamu ?”
            “Di langit ada bintang, tapi ada satu bintang lain yang jatuh di bumi ini dan sekarang dia ada disini,” tunjuknya pada dirinya sendiri. Irish mencubit lengan Niko dengan kesal. “Dan satu bintang yang jatuh itu sekarang lagi ditemani sama bulan lho, tapi sayang bulannya lagi sedih soalnya habis dimarahi sama papanya gara-gara dapet nilai merah.”
            “Nyindir nih...”
            “Enggak kok. Kenyataan, kan ? Makanya jangan sedih terus dong, bulan, ntar bintangnya juga ikutan sedih lho. Kalo bulan sama bintangnya sedih langitnya jadi gelap, mendung terus nangis deh,” Bujuk Niko. Perasaan Irish sedikit lebih tenang setelah mendengar ucapan Niko barusan. “Bulan dan Bintang, Irish dan Niko. Jangan pernah tinggalin aku ya, Rish, ntar aku nggak ada temannya lagi. Bintang juga pernah merasa kesepian saat ditinggal sama bulan. Jika bulan pergi lebih baik bintang juga ikut pergi, bagaimanapun juga mereka adalah pasangan yang diciptain Tuhan untuk saling menemani satu sama lain. Seperti kita.”

◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)♥► ◄♥(^┌♥┐^)► ◄♥(^┌♥┐^)♥◄

Nathan menatap tepat ke kedua bola mata Irish tanpa berkedip. “Niko udah meninggal, Rish, 4 tahun yang lalu.”
            “Apa lo bilang ? huh, nggak usah ngarang-ngarang cerita deh !” gerutu Irish.
“Gue nggak pernah ngarang-ngarang cerita tentang kematian Niko. Gue adalah sodara kembar Niko. Gue adik Niko, Rish.”
            “Gue tetap nggak percaya sama semua omongan lo, Nat !” Irish menangis. Kedua bahu mungilnya bergetar. “Kalo lo sodara kembar Niko, kenapa gue nggak pernah ngelihat elo ada di rumah itu ?!”
            “Sejak kecil gue lebih senang tinggal sama nenek dan kakek di Bogor. Lo tau, Rish, gue nggak tahan tinggal di rumah itu. Gue nggak tahan kalo setiap hari selalu dengar bokap marah-marah atau nyokap yang nangis di kamarnya. Gue nggak tahan ! gue nggak sekuat Niko. Lo inget waktu pertama kali gue nyebut nama lo di kelas ? sebenarnya bukan gara-gara gue tau dari nametag lo. Gue udah kenal lo secara nggak langsung dari Niko, dia selalu ceritain tentang pacarnya ke gue yang ternyata sahabatnya sendiri sejak kecil.
            “Lo sebenernya udah pernah ketemu sama gue. Mungkin lo nggak inget gue, tapi lo masih inget kan tentang janji Niko dan kejadian bunga matahari 3 tahun yang lalu ?” Irish memutar kembali memori-memori otaknya, berusaha mengingat setiap kejadian yang pernah terjadi di masa lalunya.

            “Niko, jangan pergi ! jangan tinggalin Irish !” isak Irish semakin kencang. Kedua tangannya menggamit lengan Niko erat-erat.
“Aku nggak bisa, Rish, aku harus pergi,” Niko menghapus air mata yang menggantung di kedua mata Irish. “Aku janji, Rish, saat kamu ulang tahun yang ke-13 nanti, aku akan nemuin kamu lagi.” Ucap Niko dengan penuh keyakinan. Perlahan-lahan senyum Irish mengembang. Hatinya luluh ketika mendengar ucapan Niko.
“Aku akan menunggumu, Nik.”
***
Ulang Tahun Irish ke-13...
            “Selamat ulang tahun. Ini hadiah buat kamu.”
            “Bunga matahari ?” cowok yang berdiri didepannya itu menganggukkan kepala. “Makasih Niko, aku senang sekali ternyata kamu benar-benar menepati janji kamu. Aku sangat menyukai hadiahmu.” Irish tersenyum lebar sambil memeluk tubuh lelaki itu.
            “Ng... iya sama-sama, Risha.”
            “Kok kamu manggil aku Risha ? biasanya kan kamu manggil Irish,”
            “Eh. Emm... maksudku; iya sama-sama, Irish. Kalo gitu aku pergi dulu ya. Bye.”
            “Niko kamu mau kemana lagi ? jangan tinggalin Irish lagi, Nik !!!” Irish mengejar lelaki itu. Tetapi tenaga laki-laki lebih besar dibanding perempuan. Bayangan lelaki itu sudah tak terlihat lagi. Irish jatuh terduduk sambil menangis tanpa suara.

“Jadi itu bukan Niko ? itu elo, Nat ?”
            “Iya, itu gue. Dua hari sebelum kecelakaan yang merenggut nyawa Niko, dia nelpon gue dan nyuruh gue untuk nemuin elo tepat di hari ulang tahun elo yang ke-13 dan ngasih lo bunga matahari itu. Awalnya gue nggak mau karena gue merasa nggak pernah kenal sama lo dan bagi gue berpura-pura menjadi orang lain walaupun cuman sehari adalah sesuatu yang sangat sulit meskipun itu kepribadian sodara kembar gue sendiri. Tapi dengan bodohnya gue nurutin keinginan terakhirnya itu.”
            “Niko...” ucap Irish lirih. Isak tangisnya semakin keras. Nathan yang sudah tak tahan melihat itu semua segera memeluk Irish erat-erat.
            “Kenyataan ini emang pahit, tapi lo harus bisa menerimanya. Lo nggak perlu nungguin Niko lagi, Rish, dia...dia udah nitipin elo ke gue.”
            “Gue sekarang udah tau maksud dari ucapannya waktu itu; bulan, bintang dan matahari adalah benda langit yang sama-sama penting bagi kehidupan. Tuhan udah nakdirin bulan selalu muncul bersama bintang dan sangat mustahil jika bulan atau bintang muncul bersama matahari. Gue nggak akan nunggu dia lagi, Nat. Dia emang pacar masa kecil gue, tapi tidak untuk masa depan gue. Bagaimanapun juga gue dan Niko sangat mustahil untuk bersama. Kita seperti bulan dan matahari yang nggak akan pernah bisa bersatu. Gue akan nemuin bintang yang baru pengganti bintang lama gue yang udah lama hilang.” Ujarnya sambil membalas pelukan Nathan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar