Dua Diantara Tiga
By : Venda Intan Pratama
Kata orang kekayaan, ketenaran, karir, pangkat dan yang lain sejenisnya memang tidak bisa menentukan kebahagian karena itu hanya bersifat semu belaka, sementara dan tidak akan kekal. Kebahagiaan yang mutlak tak selalu datang menghampiri. Terkadang kita selalu mengharap bahkan bergantung pada datangnya sebuah kebahagiaan, tetapi apa daya jika kebahagian itu yang enggan datang kepada kita. Tidak dapat dipaksa, bukan ?
Begitulah yang dirasakan Dewa Anggara atau yang kerap disapa Gara dengan adik kembarnya yang bernama Bima Anggada atau yang biasa dipanggil Angga. Beda waktu kelahiran keduanya sekitar setengah jam saja tidak lebih, tetapi watak keduanya sangat jauh berbeda jika dirasakan. Angga yang memang manis, pendiam, penurut dan selalu menjadi kesayangan guru di sekolahnya, dia selalu menjadi yang pertama, Angga sang bintang kelas. Sedangkan Gara ?? ya meskipun secara fisik keduanya memang sama hampir tak bisa dibedakan, tetapi masalah sifat dan kelakuan, Gara pastinya lebih ‘menonjol’. Bukan menonjol karena dia bintang kelas seperti Angga, tetapi ‘menonjol’ dalam artian lain. Gara orang yang suka bikin perhatian, si biang onar, urakan, jahil dan lain sebagainya yang membuat orang disekitarnya menjadi kalang kabut. Tak jarang dari mereka yang sampai mengelus dada saking gregetan melihat ulah Gara yang tak biasa. Sebenarnya Gara juga bintang kelas sama seperti Angga, paling tidak juara tiga pun pernah disabetnya. Tetapi karena sifatnya yang dark itulah membuat semua orang menganggapnya remeh dan Gara tidak suka itu. Ia paling benci jika dibanding-bandingkan dengan adiknya seperti itu.
“Cuiih. Kayak udah sempurna aja, jadi bisa seenak jidatnya bandingin gue sama adik gue. Kita memang kembar, tapi tolong digaris bawahi KITA ORANG BERBEDA !!! jadi mustahil kalo mengharapkan itu semua. Apa perlu, gue dan adik gue bertransformasi ? kita tukeran kepribadian, hah ?! tapi tetep aja NGGAK AKAN BISA !!! karena gue adalah Dewa Anggara, Dewa Perusuh di sekolah ini,” ujarnya suatu hari ketika ada salah satu teman sekelasnya yang menyinggung tentang hal itu. “Lo paham kan sekarang ?” tanyanya kepada anak itu, seketika anak itu menjadi pucat tetapi akhirnya ia mengangguk. Anak itu merasa telah membangunkan sang macan tidur dan telah lancang melanggar batas hirarki ‘Sang Dewa Perusuh’.
Papa adalah seseorang yang selalu menawarkan kehangatan, seseorang yang berjuang keras demi kehidupan, seseorang yang selalu bisa diandalkan, seseorang yang selalu menjaga keluarganya, mengajarkan keberanian dan sikap pantang menyerah dalam menghadapi kerasnya hidup, tetapi seseorang yang sekaligus asing bagi si kembar. Ya, mereka tahu kesibukan papanya karena beliau adalah salah satu orang yang paling disegani. Beliau adalah direktur utama disebuah BANK swasta di Indonesia. Beliau selalu pulang saat semua penghuni rumah sudah terlelap bahkan terkadang beliau tak pulang ke rumah.
Mama, figur mama adalah sosok yang lembut, penuh kasih dan sayang, orang yang selalu memberi petuah-petuahnya dan pembentuk sikap yang baik untuk anak-anaknya. Tetapi mama disini tak jauh berbeda dengan papa, yaitu lebih menomor satukan bisnis dan keluarga sepertinya menjadi nomor ke dua atau bahkan nomor-nomor terakhir baginya. Jadi sangat jelas, disini kita bisa menyimpulkan bahwa Angga dan Gara kurang kasih sayang, kurang perhatian sehingga kita tidak bisa menyalahkan sikap keduanya yang lemah seperti Angga dan kelewat bringas seperti Gara.
♥♥♥
Kehidupan dan masalah, masalah dan kehidupan. Seperti sesuatu yang mempunyai ikatan khusus, sesuatu yang mempunyai makna harfiah yang tak bisa dipisahkan layaknya hidup dan mati, siang dan malam, terus maju atau mundur yang artinya menyerah jika takdir mempermainkannya. Itu semua kodrat Tuhan, takdir Tuhan, campur tangan Tuhan ataukah malah manusia itu sendiri yang menjadi sumber segala masalah didalam kehidupannya ?? hanya Tuhan yang tahu.
Malam ini Angga tidak bisa tidur, sedari tadi ia bergerak-gerak gelisah diatas tempat tidurnya. Pukul 00.45. Ia bangkit dari tempat tidurnya ketika dari luar kamarnya terdengar suara benda yang pecah, kemudian setelah itu disusul suara isak mamanya dan suara papanya yang meninggi. Ia tak kuasa jika hanya berdiam diri di kamarnya. Sebelum memutuskan untuk mencari tahu masalah yang sedang terjadi diluar, Angga menyapukan pandangannya pada ranjang tempat tidur yang masih rapi disamping tempat tidurnya yang sudah kusut. Ranjang itu merupakan milik Gara, mereka berdua memang sudah sekamar sejak mereka masih kecil. Tak terpisahkan ya bisa dibilang seperti itu. Sejenak Angga berpikir, bahwa Gara pasti belum pulang ke rumah sejak siang tadi, tepatnya setelah bubaran sekolah. Dan Angga sudah bisa menerka-nerka pasti kegaduhan diluar itu Gara lah penyebabnya.
“Kamu tau Gara, papa sama mama membesarkanmu, mendidikmu, merawatmu hingga sebesar ini bukan untuk menjadikanmu brandalan seperti ini !!” geram papa.
“Hah !? kalian merasa udah membesarkan dan merawatku ? tapi kapan ya kok aku nggak merasa sama sekali ?” Ujar Gara enteng.
“GARAAA, jaga ucapanmu !!” mamanya kali ini terlihat gusar, air matanya terus membasahi kedua belah pipinya tanpa mau berhenti.
“So, apa yang kalian harapkan dariku ? Ucapan terima kasih, iya ? tapi sayang sekali aku sama sekali nggak sudi ngucapin itu untuk kalian,” Gara duduk di sofa pandangannya penuh kilat kemarahan saat memandang papa dan mamanya. “Di kamar ada kaca, kan ? Setidaknya kalian berdua bisa berkaca disana, intropeksi diri dulu sebelum marah-marah nggak jelas seperti ini. Toh aku nggak butuh omelan kalian lagi, aku udah lelah, percuma aja semuanya udah terlambat. Jadi urus aja pekerjaan papa sama mama, bukankah pekerjaan menjadi prioritas utama untuk kalian ?” Papa mendekat ke arahnya dan bersiap-siap menamparnya, tetapi urung saat satu tangan menahannya dari belakang.
“Angga !?” pekik papa dan mama bersamaan.
“Jangan pukul dia, pa. Jangan salahin dia, jangan salahin kita kalo kita lepas kendali seperti ini. Ini semua bukan kesalahan kita, ini terjadi karena sifat egois diantara kita yang lebih dominan sehingga tak mau peduli dengan hal lain dan menganggapnya remeh.” Timpal Angga. Papa, mama, dan Gara menatapnya heran.
“Sejak kapan kamu berani menentang seperti ini, Angga ? pasti dia yang sudah mempengaruhi kamu.” Tunjuk papa pada Gara. Seketika Gara menatap papanya, tetapi buru-buru mengalihkan dan ia memilih beranjak dari tempat itu.
“Gara, jangan pergi dulu, papa belum selesai bicara sama kamu. Masih ada hal lain yang ingin papa bicarakan sama kamu !” teriak papa dari bawah saat melihat Gara menaiki tangga satu-persatu menuju kamarnya.
“Tapi menurutku antara aku, papa dan mama udah selesai.” Teriak Gara tak mau kalah.
“Inilah yang papa dan mama tanam dan sekarang kalian bisa merasakan sendiri buah dari tanaman yang kalian tanam itu.” Ucap Angga setelah itu meninggalkan kedua orang tuanya yang masih tercengang melihat perubahan pada salah satu putranya yang dulu dianggapnya paling manis dan penurut.
Didalam kamar, Angga berdiri diatas balkon kamarnya sembari menatap kerlip-kerlip bintang diatas sana yang sepertinya sedang menertawakan penderitannya. Gara merentangkan kedua tangannya lebar-lebar agar ia bisa merasakan sedikit saja sisa-sisa kesejukan angin malam hanya sekedar untuk menyejukkan pikirannya yang terlanjur panas. Sebenarnya ia tak mau hidup seperti ini, tetapi tidak ada yang bisa menentang kuasa Tuhan. Kita di dunia ini hanya menjadi bonekaNya yang tetap tunduk pada takdir yang sudah digariskan pada kita tanpa bisa untuk melawan atau menghindar karena kita hanyalah manusia kecil yang tak sebanding jika harus melawanNya.
“Gue buruk, gue bobrok, gue nggak peduli...” desahnya sambil menerawang. “Hey, bintang terserah deh lo-lo mau ngetawain gue dari atas sana, lo semua mau ngehujat gue, gue tetep nggak akan peduli. Lo semua nggak pernah ngerasain sih hidup menderita kayak gue, apa salahnya coba kalo gue pengen seneng-seneng ? ngademin pikiran gue diluar sana daripada ngempet di rumah hantu ini, yang ada pikiran gue malah makin sumpek. Sebenarnya yang salah siapa ? gue yakin, lo semua udah pada ngerti jawabannya. Bertahun-tahun gue sama adik gue hidupnya ya gini-gini aja, mereka ? jangankan peduli, ngelirik aja nggak. Gimana gue nggak keki kalo dicuekin kayak gitu ?!” ocehnya tanpa sadar jika sedari tadi ada sepasang telinga yang mendengarnya.
“Pakai ini nanti kakak masuk angin.” Ujar Angga lembut sambil menyodorkan pakaian bersih untuk Gara yang sedang bertelanjang dada. Gara hanya memandang kaos berwarna hijau toska itu tanpa berniat untuk mengambil ataupun memakainya. Angga yang sudah tahu sifat kakanya hanya bisa maklum dengan tingkah lakunya hari ini karena menurut Angga itu sudah biasa hanya kedua orang tuanya yang belum terbiasa dengan sikap Gara mengingat keduanya yang memang jarang berada di rumah.
“Kenapa tadi lo ngebelain gue ? mau jadi pahlawan ?” tanya Gara dengan nada menusuk yang ditanya hanya menggeleng dan tersenyum. Sesaat Gara tertegun saat menatap wajah yang begitu mirip dihadapannya itu, ia seperti sedang berkaca didepan sebuah cermin besar yang menampilkan refleksi dirinya. Tiba-tiba Gara merasakan kehangatan yang terpancar ketika ia menatap kedua bola mata berwarna hitam pekat milik adiknya.
“Karena kita benar dan mereka salah,” Jawab Angga polos sehingga mengundang gelak tawa Gara. “Ada yang salah ?”
“Nggak kok, tapi aneh aja berarti lo ngedukung gue biar jadi brandal kayak gini dan menentang mereka gitu ?” Angga kembali menggeleng saat ditanya oleh kakaknya. Gara menaikkan sebelah alisnya karena merasa gamblang dengan jawaban saudara kembarnya itu.
“Selama kita masih berada digaris kewajaran mengapa tidak ? dan menurutku itulah risiko yang harus mereka terima karena telah menelantarkan kita demi sebuah kesuksesan semu yang sama sekali nggak berguna karena hanya bersifat sementara, bullshit.” Tukas Angga dan tanpa disadarinya Gara menatap bangga pada adiknya itu, Gara tersenyum. Ini merupakan suatu hal yang sangat langka karena dibalik wajah angkernya disitu tersimpan senyum yang menawan. Tanpa sadar Gara merangkul bahu adiknya dan itu membuat Angga terkejut karena ia sama sekali tak pernah menduga reaksi kakanya itu. Gara tersenyum lagi sembari menatap wajah penuh keterkejutan disebelahnya.
“Lo emang my best bro,” Gara menepuk punggung Angga pelan, kemudian meninggalkannya yang masih terpaku diatas balkon. “Lo mau bergadang ?” tanya Gara, baru setelah itu Angga tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum memandang Gara.
“Boleh, asalkan besok pagi entah bagaimana caranya kakak harus bisa bangunin aku tepat waktu.” Ultimatum Angga, Gara melemparnya dengan bantal jumbonya.
“Kalo gue jadi elo ya mending bolos aja, ngapain ribet-ribet mikirin sekolah !?” keduanya lalu tertawa terbahak-bahak.
Bagi Angga meskipun dia dan kakaknya begitu dekat, amat sangat dekat malah karena sedari kecil mereka memang terbiasa bersama ada atau tidak adanya kedua orang tuanya di rumah. Tetapi meskipun begitu, Angga masih bisa merasakan bahwa diantara mereka berdua terdapat sebuah tembok besar nan kokoh yang membatasi keduanya. Tembok pembatas itu sangat transparan, tetapi ia dapat merasakannya dengan jelas. Angga seperti tak mengenal kakaknya, kakaknya terlalu jauh untuk diraih, mungkin juga seperti orang asing yang kebetulan serupa dengannya. Ia sama sekali tak peka dengan perasaan Gara. Bukankah banyak yang bilang, kembar itu identik dengan kekuatan ikatan batin diantara keduanya ? tetapi nyatanya tidak seperti itu.
♥♥♥
Kelas 2 IPA 1 mendadak gempar pagi ini. Separuh penghuni kelas terutama yang berjenis kelamin laki-laki tidak akan mau melewatkan kejadian yang satu ini. Sekarang didepan kelas mereka berdirilah sosok anggun yang nampak malu-malu dengan pipinya yang bersemuh kemerahan. Ia terus menunduk memandang lantai marmer kelas dengan kedua tangannya saling bertaut kedepan, tangannya nampak bergerak-gerak gelisah, sungguh ia merasa tak nyaman jika terjebak dalam situasi genting seperti ini. Ia tak mau jadi objek perhatian seperti ini. Ia muak, benar-benar muak. Andai semuanya masuk akal, ia akan berdo’a kepada Tuhan untuk melenyapkan dirinya saat ini juga.
Setelah menarik nafas untuk yang kesekian kalinya, gadis itu mendongakkan kepala mencoba memberanikan diri menatap satu-persatu calon teman barunya. Gadis itu tersenyum simpul, sungguh senyum yang indah dan sangat menawan sehingga mampu menyihir beberapa pasang mata untuk terus menatapnya tanpa mau berkedip dengan pandangan memuja. Astaga, memuja ?!
“Ehem,” dehemnya pelan. “Hai teman-teman, nama saya Anggia Anastashia Putri. Kalian cukup memanggil saya Gia, saya pindahan dari SMU Binaan 2 Surabaya. Saya harap, teman-teman disini mau menerima saya. Terima kasih.” Perkenalan singkat itu telah menarik perhatian semuanya, terutama seorang cowok berpenampilan badung yang duduk di meja paling pojok belakang. Gia dapat merasakan sedari tadi ekor mata cowok itu selalu memperhatikannya dan Gia merasa tertantang untuk itu. Ia pun membalas tatapan cowok itu dengan pandangan dingin, kemudian mata kecilnya menangkap bayangan sosok lain yang duduknya dua bangku didepan cowok badung itu. Cowok itu terlihat sangat rapi, pandanganya tanpa ekspresi, pasif. Seulas senyum mampir di bibir Gia tanpa sepengetahuan teman-teman sekelasnya yang masih menatapnya dari bangku masing-masing.
“Kembar ? sepertinya menarik. Gue tau meskipun hanya dengan sekali tatap. Mereka,” Batin Gia sengaja menggantungkan kalimatnya sambil masih memandangi keduanya tetapi tidak secara terang-terangan. “Menyenangkan, mungkin, tapi gue udah yakin itu.”
TEEETTTTTTTT.... TEEEEETTTTT....
Tepat saat bel istirahat berbunyi nyaring, bu Wari selaku wali kelas sekaligus merangkap sebagai guru Biologi mempersilahkan Gia untuk duduk dan segera mengakhiri pelajarannya pagi itu. Gia melenggang santai menuju meja barunya yaitu di pojok paling belakang, senyum manisnya semakin mengembang ketika menyadari itu. Tepat sekali, rupanya Tuhan pun mau mengikuti semua permainannya dan Gia bersyukur akan hal itu. Gia melirik ke arah cowok itu sekilas dan yap mata Gia menangkap sesuatu, Dewa Anggara, nama itu tercetak jelas di beadge nama yang tersemat di dada sebelah kanannya.
“Hai,” Sapa Gia kalem. Cowok itu melirik Gia sekilas, kemudian memperhatikan tangan Gia yang terulur dihadapannya. “Kenalin gue Gia.”
“Anggara, Gara.” Ketusnya kemudian segera meninggalkan Gia keluar kelas.
“Gue udah tau,” Sinis Gia. “Ternyata lo orangnya cuek juga ya, tapi nggak masalah gue malah semakin tertantang dan penasaran sama hidup lo.”
♥♥♥
Gia tersenyum memandangi foto keluarganya. Disana terdapat mama yang berdiri disamping papanya, “Mereka berdua nampak serasi.” batinnya. Lalu pandangannya beralih pada seorang lelaki yang berumur sekitar 18 tahun, lebih tua dua tahun darinya, yang sedang tersenyum lebar menghadap kamera. Sebelah tangannya dimasukkan kedalam saku celana jeansnya, sedangkan tangannya yang lain melingkari pundak seorang gadis belia yang juga tersenyum. Gadis belia itu adalah dirinya sendiri, Anggia Anastashia Putri. Sejenak ia teringat detik-detik menjelang foto itu akan diambil, sekitar tiga bulan yang lalu, saat mereka berempat sedang berjalan-jalan disebuah Mall di pusat kota. Mereka berempat terlihat bahagia, mereka adalah salah satu contoh dari sekian banyak keluarga harmonis, keluarga yang hangat dengan penuh limpahan kasih sayang yang selalu tercurah tanpa henti.
Papanya seorang Dokter spesialis jantung disebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Mereka memang baru saja pindah ke Jakarta sekitar seminggu yang lalu. Sebelumnya mereka tinggal di Surabaya, tetapi karena dan hanya karena papa yang dipindahtugaskan ke Jakarta, mau tak mau mereka harus rela pindah dari rumah yang sudah mereka tempati selama kurang lebih 13 tahun. Gia sangat bangga dengan sosok papa, papanya selalu perhatian kepada keluarga. Tidak jarang papa mengomelinya lantaran kebiasaannya yang selalu menunda-nunda makan, papa selalu geram jika melihat penyakit maag Gia kambuh dan setelah itu nasehat panjang yang mungkin melebihi pidato Presiden terdengar ke seantero rumah. Jika sudah begitu Gia hanya bisa menunduk sambil sesekali melirik tajam dengan tatapan membunuh pada Alfa, kakaknya, yang sedang mengejeknya.
Berbeda dengan papa, mama adalah seorang wirausahawan yang sukses dibidang kuliner, terutama masakan kuliner khas Jepang yang sudah menjadi makanan favorit mama. Beberapa restoran Jepang miliknya berdiri hampir diseluruh Indonesia. Mama sangat pandai memasak, ada saja yang dibuat saat sedang tidak ada pekerjaan di rumah. Inilah yang disukai Gia, stok makanan di rumahnya tak pernah kehabisan, bisa dibayangkan rumah Gia seperti gudang makanan. Sedari kecil Gia bercita-cita menjadi seorang Chef, tetapi papanya selalu menentangnya. Papa ingin Gia mengikuti jejaknya, yaitu menjadi seorang Dokter. Bahkan papa sudah memilihkan Universitas terbaik untuk sekolah lanjutan Gia, selain itu papa juga mengenalkannya dengan rekan-rekan sesama Dokternya kepada Gia dan satu lagi papa juga menjodohkan Gia dengan anak sahabatnya yang juga sesama Dokter. Gia sama sekali tidak habis pikir dengan papanya, meskipun figur papa adalah favoritnya terkadang Gia juga merasa jengkel dengan papanya.
Alfano Adhistira Putra atau yang biasa dipanggil Alfa, yaitu kakak lelaki satu-satunya yang dimiliki Gia. Saat ini Alfa tercatat sebagai mahasiswa semester pertama di sebuah Universitas negeri di Jakarta, ia mengambil jurusan kedokteran (lagi-lagi permintaan papanya). Meskipun itu semua atas permintaan sang papa, Alfa tetap menjalaninya dengan senang hati karena Dokter adalah cita-citanya sejak kecil. Alfa sangat baik kepada Gia, namun terkadang sifat jahilnya muncul sehingga membuat Gia jengkel setengah mati kepadanya.
Gia mengembuskan nafasnya perlahan, udara sejuk yang masuk kedalam tubuhnya seakan membuatnya merasa nyaman. Dan ia bersyukur untuk itu, bersyukur karena masih diberi kesempatan dapat membuka matanya di setiap pagi harinya. Sebuah rahasia kelam yang akhirnya diketahui oleh Gia bahwa dia ternyata bukan anak kandung mama-papanya dan juga bukan adik kandung Alfa. Awalnya Gia sangat syok, ia marah kepada orang-orang disekitarnya terutama papa, mama dan juga Alfa. Tetapi kemarahan itu tak berlangsung lama, ia sadar bahwa sebuah masalah tidak akan terselesaikan dengan sebuah kemarahan, ia juga sadar bahwa ia sangat beruntung karena berada dilingkungan keluarga yang sangat menyayanginya meskipun mereka bukan keluarga kandungnya. Yang tidak dimengerti Gia dari mereka hanyalah, mereka rupanya masih menyimpan rahasia lain yang sampai sekarang belum berhasil ia ungkap, terlebih mengenai orang tua biologisnya.
(tok-tok-tok) suara ketukan pintu menyadarkannya dari lamunan. Ia bangkit untuk membuka pintu kamarnya yang memang sengaja di kuncinya dari dalam. Senyumnya mengembang saat mengetahui siapa yang mengetuk pintu kamarnya tadi.
“Udah siap ?” tanya Alfa lembut. Gia mengangguk yakin.
“Gimana penampilanku ? cantik, nggak ?” Gia balik bertanya kepada Alfa, Alfa mengamatinya sejenak. Matanya menyusuri penampilan Gia mulai dari atas hingga bawah berulang-ulang, lalu mengangguk sambil tersenyum puas.
“Luar biasa cantik,” pujinya membuat Gia malu. “Ayo berangkat keburu kehabisan tiketnya nih.”
Setelah berpamitan kepada mama, keduanya segera pergi menuju Puri Indah Mall Jakarta. Mereka berdua memang sudah lama merencanakan untuk menonton film bioskop keluaran terbaru akhir pekan ini.
“Gia, kita makan dulu di restonya mama yuk. Tadi kan belum sempet makan malem, laper jadinya.” Ucap Alfa setelah mereka berdua sampai di Mall.
“Iya, perut aku juga udah melilit nih, kak. Aku baru sadar kalo dari tadi belum makan.” Mereka berdua langsung masuk ke sebuah restoran Jepang milik mamanya di lantai paling atas.
♥♥♥
Gara mengeluarkan mobilnya dari garasi disamping rumahnya. Danny, sahabat karibnya merasa tak enak hati saat mendengar teriakan mama Gara dari ruang tamu saat mengetahui anaknya akan pergi dengan membawa mobil. Mobil itu memang milik Gara, tetapi usianya yang masih 16 tahun dan juga belum mempunyai SIM membuat mamanya begitu khawatir. Angga yang memilih tetap di rumah meskipun sebelumnya sempat dipaksa oleh Gara dan Danny untuk ikut, tetapi lelaki itu lebih memilih untuk menenangkan mamanya yang sangat histeris melihat ulah anak lelakinya yang lain.
“Udahlah ma, kak Gara perginya nggak akan lama kok.” Bujuk Angga sambil mengusap punggung mamanya. Mama menatap putra sulungnya dengan lembut.
“Dari dulu sifat kamu memang sudah jauh berbeda dengan kakakmu itu.”
Sepanjang perjalanan keduanya sama-sama terdiam, sehingga yang terdengar hanyalah suara lantunan lagu Death Metal dari tape mobil Gara yang volumenya memang sengaja dikeraskan. Lagu yang tak jelas liriknya dan yang pasti sangat mengganggu pendengaran itu seolah menghentak-hentakan jazz hitam milik Gara.
“Gue nggak enak sama nyokap lo,” Ujar Danny sambil mengeraskan volume suaranya berusaha untuk mengalahkan bunyi bising yang keluar dari tape mobil.
“Nyantai aja, man, nyokap gue emang kayak gitu, nggak suka kalo liat anaknya seneng dikit,” Gerutu Gara sambil terus memusatkan perhatiannya pada jalanan didepannya. “Gila nih jalah padet banget hari ini.” Danny terkekeh mendengar gerutuan Gara.
“Hahaha... lo tinggal di Jakarta udah berapa lama, hah ? yang namanya Jakarta sejak jaman kakung gue juga udah kayak gini nih, padet, apalagi ini akhir pekan,” Danny mengeluarkan dua batang rokok dari saku kemejanya. “Nih buat ngademin pikiran lo, dari tadi lo keliatan suntuk mulu, boy.”
“Thanks, lo emang selalu tau apa yang lagi gue butuhin sekarang.” Balas Gara singkat, kemudian dengan sebelah tangannya dia menyulut rokoknya dengan api yang disodorkan oleh Danny. Setelah itu kepulan asap rokok memenuhi hampir setiap celah mobil mungil itu.
Mereka sampai di Puri Indah Mall satu jam kemudian setelah berhasil lolos dari kemacetan tadi. Gara memakirkan mobilnya di basement ke-4 karena tempat parkir paling bawah sudah penuh sesak untuk memuat satu mobil lagi, meskipun bisa dibilang body mobil Gara sangat ramping sekalipun. Setelah itu keduanya memasuki Mall dan segera menuju ke lantai teratas. Mereka berpikir-pikir sejenak, bingung diantara dua pilihan resto sekaligus yang letaknya bersebelahan yang sama-sama menawarkan menu menggiurkan dengan harga yang tak kalah menggiurkan pula, restoran dengan menu-menu khas dari negeri sakura atau restoran dari negeri yang terkenal dengan cita rasa pastanya ?
“Yang mana nih ?” tanya Danny meminta pendapat Gara. Gara terlihat sedang berpikir keras, lalu matanya menatap salah satu restoran yang dipilihnya.
“Jepang aja lah,” Mereka berdua memasuki sebuah restoran yang menawarkan berbagai menu khas Jepang dan memilih untuk menempati meja paling pojok restoran. “Lo mesen apa, man ?”
“Seperti biasa aja,” Balas Danny singkat sembari mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya lalu diserahkannya pada Gara. Melihat itu Gara segera mendorong kembali uang kertas berwarna biru kehadapan cowok berkacamata itu, Danny hanya bisa menatapnya bingung.
“Gue yang traktir.” Ucap Gara cepat, Danny langsung nyengir kuda. “Eh tapi jangan dikira gue lagi baik hati ya, lo nggak inget apa kalo hari ini giliran gue yang traktir ?!” tanya Gara sambil menaikkan sebelah alisnya, kemudian segera berlalu dari hadapan Danny yang sedang manyun.
Sementara Gara memilih menu makanan untuk dirinya dan Danny. Seseorang menabraknya dengan keras dari belakang. Sontak Gara terkejut, kemudian berbalik hendak memaki orang yang sudah menabraknya tadi.
“Sori-sori, gue nggak sengaja,” ucap orang itu sambil terus menunduk lantaran malu dan takut jika orang yang telah ditabraknya tadi tiba-tiba menyemburnya karena merasa tidak terima. Tetapi yang membuat Gara semakin tergelitik dari sosok itu adalah suaranya yang sudah tidak asing lagi di telinganya dan juga perawakan mungil itu yang telah mengingatkannya dengan teman baru di kelasnya. Cewek itu kan...
“Gia !?”
Gia mengerutkan keningnya saat melihat Gara berada di restoran yang sama dengannya. Cowok dihadapannya itu juga tak kalah terkejutnya, tetapi sedetik kemudian wajah itu sudah kembali menampilkan ekspresi seperti biasanya keras, badung dan jahil.
“Lo ngikutin gue ya ?” tuduhnya langsung membuat Gia melotot ke arahnya.
“Enak aja, siapa juga yang ngikutin orang nggak penting kayak lo ?! kayak nggak ada kerjaan lain yang lebih berguna aja !” protes Gia tak mau kalah. “Lagian terserah gue dong mau makan di resto mana, toh juga pakek duit gue sendiri.”
“Terserah deh apa kata lo. Minggir sana, gue mau lewat,” Gara menggeser tubuh Gia dengan tubuhnya, sesaat Gia hendak memprotes ulah Gara yang dianggapnya tidak sopan. Namun, protesan itu harus ditelannya bulat-bulat saat ia melihat Alfa yang tiba-tiba sudah berdiri disampingnya.
“Ada apa ?” tanya Alfa sambil melirik Gara yang hanya balas memandangnya dengan tatapan dingin.
“Nggak kok, kak, nggak ada apa-apa,” ujar Gia berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya. Gara yang sudah muak, segera berlalu dari tempat itu tanpa mempedulikan tatapan tajam Alfa atau tatapan penuh protes dari kedua mata Gia.
“Itu Gia, kan ? murid baru di kelas kita,” Tanya Danny sambil mengunyah makanannya, mendengar pertanyaan yang tak terduga itu tubuh Gara langsung menegang, tetapi ia buru-buru menutupinya dengan senyuman palsu yang tercetak di bibirnya, kepalanya mengangguk samar. “Gue heran sama elo, kok kayaknya elo musuhin tuh cewek sih ?”
“Ah cuman perasaan elo aja kali,” sangkal Gara, pandangannya mengikuti gadis itu yang sudah kembali ke tempat duduknya. “Gue baik-baik kok sama dia.”
“Tapi yang gue liat selama ini nggak kayak gitu, boy, apalagi liat lo tadi yang sempet perang mulut sama tuh cewek,”
“Masa’ sih ?” Gara menautkan alisnya, pandangannya masih terus mengikuti Gia yang sekarang sedang mengobrol santai dengan cowok didepannya yang tadi sempat membuat Gara jengkel setengah mati karena kehadirannya yang tiba-tiba dan sifat sok tahunya.
“Cowok disebelahnya itu siapa ? lo tau ?” Gara menoleh menatap sahabatnya yang sedari tadi mengocehkan tentang cewek asing yang baru beberapa hari ini menjadi teman sekelas mereka.
“Gue nggak tau, kalo lo penasaran mending lo tanya langsung ke dia tanyanya jangan ke gue karena gue bukan bapaknya yang selalu ngurusi dia,” nada bicara Gara mulai meninggi, hal itu jelas membuat Danny bengong.
“Biasa aja dong kalo ngomong,” canda Danny. “Lo cemburu ya, boy ? ngaku aja deh kalo lo naksir sama tuh cewek...”
“Nggak lah man, kayak nggak ada cewek lain yang lebih cakep aja.” Bantah Gara cepat.
“Oya ? ckck... berarti gue yang salah dong karena udah nuduh lo naksir sama Gia ?”
“Iya lo emang salah, SALAH TOTAL, makanya dipikir dulu kalo mau ngomong. Jangan asal ngablak aja, iya kalo semua tebakan lo bener, kalo salah kayak gini gimana ? ini cuman gosip nggak bermutu yang keluar dari mulut lo, sampai anak-anak denger soal ini dan mereka nanggepinya serius, lo bakalan gue bunuh.” Celoteh Gara setengah bercanda setengah serius, tetapi Danny sempat bergidik juga mendengarnya karena ia sangat mengenal sifat Gara. Gara adalah tipe orang yang selalu serius dengan kata-katanya dan ia lebih mementingkan gengsinya daripada menarik ucapannya lagi.
“Hehehe... sori-sori gue cuman bercanda, boy, beneran deh, swear,” ujar Danny sambil terkekeh, kedua jari tangannya membentuk huruf ‘V’. “Tapi kalo semakin gue liat-liat, muka si Gia rada-rada familier gitu. Mirip sama seseorang,”
“Maksud lo ?” Gara kali ini benar-benar terkejut mendengar omongan Danny yang sedari tadi emang sudah ngelantur nggak jelas. Danny mengedikkan bahunya sambil menatap wajah Gara dengan polos. “Wah makin nggak jelas nih anak, kayaknya otaknya udah beneran kegeser gara-gara kemaren baru ditolak mentah-mentah sama Janny, cewek kelas 3 IPA 1 yang terkenal karena kecantikannya dan juga kepinterannya yang menjadi nilai ‘plus’ buat Janny,” batin Gara sambil geleng-geleng kepala.
“Gia mirip seseorang. Masa’ sih ? gue pas pertama kali ngelihat tuh cewek juga ngerasa kayak gitu. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah tuh cewek mirip sama siapa ? arghhh... bisa gila gue mikirin tuh cewek terus, sial !!!” gerutu Gara hanya dalam hati.
♥♥♥
Jika kau dihadapkan diantara dua pilihan yang tentunya akan mempengaruhi kehidupanmu di masa mendatang dan yang pasti ini bukan sembarang pilihan, ini adalah pilihan tersulit yang sering dipertanyakan orang-orang disekelilingmu. Ya bisa jadi ini pilihan yang sudah pasaran, tetapi jangan dianggap remeh kedua pilihan tersebut karena seperti yang tertulis diatas bahwa pilihan itu kelak juga akan menentukan, pilihan itu akan ikut andil pada takdir hidupmu yang akan berakhir bahagia atau justru sebaliknya.
Kebahagiaan dan kekayaan
Aku yakin kau tidak akan dapat memilih salah satu dari dua kata diatas. Bukan apa-apa, tapi memang inilah prinsip hidup dan kau tau prinsip hidup itu adalah pilihan hidup yang harus dijalani seseorang suka ataupun tidak suka harus menerimanya dengan ikhlas karena itu sudah menjadi pilihannya. Disini sebenarnya kebahagiaan maupun kekayaan adalah dua faktor yang saling mendukung satu sama lain, dalam artian jika tidak berlebihan. Orang tidak akan bisa hidup bahagia tanpa adanya harta kekayaan dan sebaliknya orang yang mempunyai harta kekayaan, dengan artian hidupnya selalu terjamin, juga akan merasa bahagia. Maka dari itu, kedua-duanya harus seimbang. Bisa kau bayangkan jika keduanya tidak seimbang ? ya sudah bisa ditebak, hidupmu akan selalu dipenuhi kesulitan dan masalah-masalah.
Angga berkonsentrasi untuk memecahkan soal-soal hitungan Kimia dihadapannya. Yep! Satu menit ia berhasil mengalihkan perhatiannya pada soal-soal terkutuk itu, tetapi tak lama kemudian pikirannya tak fokus lagi.
“Ck,” decaknya kesal sambil mengacak-acak rambutnya yang ikal kecoklatan. “Kenapa sih gue ? konsentrasi dong, mana nih tugas buat besok. ” gerutunya sambil geleng-geleng kepala. Lalu sebuah kejadian melintasi benaknya membuatnya semakin kesal karena bayangan itu yang sedari tadi berhasil memecahkan seluruh konsentrasinya.
“Gia...” gumamnya tanpa sadar. “Gila kenapa gue jadi mikirin tuh cewek terus ya, perasaan gue ada yang aneh waktu pertama kali ngelihat dia. Jangan-jangan...” belum sempat ucapannya selesai terdengar bunyi deritan pintu kamarnya yang terbuka, lalu tubuh tinggi Gara masuk. wajah cowok itu terlihat lelah, tapi kelelahan itu berubah saat menyadari sepasang mata hitam adiknya terarah padanya.
“Lo kenapa, Ga ? keliatan suntuk banget,” tebakan Gara langsung tepat sasaran membuat Angga bungkam sejenak.
“Nggak apa-apa, lagi setres aja mikirin tugas.”
“Tumben ? biasanya kan lo paling seneng kalo ada tugas.” Seru Gara tak percaya karena ia merupakan satu-satunya saksi hidup betapa bertanggung jawabnya adiknya itu dengan tugas yang diembannya, sangat berbeda jauh dengannya.
“Nggak tau juga, akhir-akhir ini gue sering kelelahan. Emang kakak udah ngerjain tugas Kimia ?”
“Udah dong,” sahut Gara bangga. Angga menaikkan sebelah alisnya nampak tak yakin dengan jawaban gamblang itu. “Jadi lo percaya ?” Angga menggeleng cepat. “Bagus. Sejak kapan sih gue mau ngerjain tugas yang nggak mutu kayak gitu ? masih banyak kerjaan lain yang lebih penting dan menantang daripada ngerjain satu soal Kimia yang cuman bisa bikin otak tambah ruwet. Tapi kalo lo butuh bantuan, gue juga bisa bantuin lo nyelesein tugas itu.”
“Kakak beneran bisa ?”
Gara mengangguk-angguk dengan tampang polos sambil menyembunyikan cengiran lebar di bibirnya. “Ya kalo bantuan buat dapetin nilai ‘nol’ sih gue bisa.”
Angga hanya bisa maklum dengan sifat kakaknya itu, sudah terlalu sering ia berbuat seperti itu. semena-mena. Mungkin itu kata yang cocok untuk menggambarkan sifat Gara. Gara sering menjadi sasaran emosi guru-guru karena ulahnya sendiri, bahkan dia juga sering kena skors karena ketahuan ngerokok di area sekolah, terlibat tawuran (dalam artian lain, peran Gara disini adalah ikut tawuran membantu sekolah lain karena yang pasti sekolahnya adalah contoh sekolah baik-baik yang siswa-siswanya tak pernah terlibat dalam kasus tawuran, kecuali Gara dan anak buahnya ‘Danny’ tentu saja) atau tak bosan-bosannya membuat ulah di kelas sehingga membuat guru yang sedang mengajar menjadi kewalahan dan akhir-akhirnya uring-uringan, hal itu jelas bukan hanya Gara saja yang kena imbasnya melainkan satu kelas pun juga menjadi korban.
Tak heran jika kedua orang tuanya begitu geram melihat kelakuan Gara yang semakin hari bukannya semakin baik melainkan justru sebaliknya. Tetapi kesalahan yang sebenarnya tidak terletak padanya. Kurang perhatian dan kasih sayang itulah yang mengakibatkan mengapa sifat Gara menjadi seperti itu, tak mau tahu, biang onar, pencipta huru-hara karena itu semata-mata membuatnya merasa sedikit terhibur dengan hidupnya yang begitu kesepian dan membosankan. Dengan menciptakan satu kerusuhan baru yang nantinya akan mengundang kerusuhan-kerusuhan lain ditambah lagi bentakan dan berbagai macam bentuk teriakan, ancaman dan ceramahan dari orang-orang disekitarnya yang pada akhirnya membuat kepuasan tersendiri didalam hatinya.
Angga dan Gara memang terlahir di dunia ini dengan kemiripan yang dianugerahkan Tuhan, mungkin dengan maksud dan tujuan tertentu. Untuk dijadikan pembanding ? mungkin, lewat keduanya yang meskipun serupa, tetapi perbedaan sangat terbentang lebar-lebar. Angga yang meskipun lebih lembut dan sering terlihat lemah daripada Gara, tetapi sifatnya itu mencerminkan bahwa dia adalah seseorang yang dapat diandalkan, dipercaya dan bertanggung jawab. Angga lebih bisa mengendalikan diri saat sedang terpuruk, dia lebih terlihat baik-baik saja dan itu membuat orang-orang disekitarnya lebih menghargainya dan tentunya menyayanginya. Berbeda dengan Gara, cowok yang satu itu meskipun wajahnya terkadang sangat cuek dan tenang, tetapi justru itulah yang wajib diwaspadai darinya. Selain tukang pembuat keributan, dia juga tipikal orang yang merasa hidup ini hanyalah suatu kesia-siaan belaka, ya dengan kata lain orang yang kecewa akan hidupnya dan lebih memilih mati jika dirasa hidup sudah tidak mendukungnya lagi. Tetapi jika harus mati konsekuensi utamanya adalah dosa-dosa yang pernah diperbuatnya semasa hidup yang sama sekali belum ditebusnya membuat satu pemikiran lain yang akan muncul, yaitu neraka mana yang mau menerima kita sesuai perbuatan-perbuatan yang pernah kita lakukan di dunia, padahal jika mengharapkan kemurahan malaikat Ridwan untuk membukakan pintu surganya untuk kita kok rasanya jadi telalu mengkhayal. Dan yang pasti itu sangat tidak mungkin.
Meskipun predikat kita dibilang ancur, ya setidaknya kita juga memikirkan kehidupan kita di akhirat nanti. Bukankah itu yang menjadikan semua makhluk di bumi ini berlomba-lomba untuk berbuat baik ? meskipun tidak sedikit juga dari mereka yang melenceng dari kodrat yang seharusnya di jalaninya sehingga setara dengan yang lain. Jika di dunia ini yang ada hanya manusia-manusia bobrok yang tak berbudi, buat apa Tuhan mengiming-imingi kita dengan dua pilihan antara surga dan neraka ? okelah kalau semua manusia di dunia ini bobrok, peradaban di bumi ini hancur, sudah dipastikan tempat transit terakhir kita adalah neraka dan itulah yang mengakibatkan ledakan populasi di neraka, sedangkan surga ? sepi, mungkin yang menempati adalah orang-orang utusan terdahulu yang belum pernah kita temui atau kita kenal. Bagaimana mungkin kita kenalan dengan orang-orang yang sudah jadi penghuni kekal di alam kubur ?
Intinya semua perbuatan yang dilakukan Gara hanyalah untuk mencari sensasi, perhatian dan pengakuan. Pengakuan bahwa anak-anak badung dan urakan seperti mereka itu masih ada dan selamanya akan tetap seperti itu. Mereka hanya butuh perhatian yang lebih ekstra mengingat keputusasaan mereka dalam menjalani kehidupannya. Mereka butuh dimengerti dan pengertian itu hanya bisa diberikan oleh orang-orang tertentu disekitar mereka.
♥♥♥
Gara menyalakan rokok dan menghisapnya perlahan. Namun tiba-tiba seseorang menarik paksa rokok itu dari mulutnya dan membuangnya begitu saja. Tentu saja Gara tak terima, ia menatap sosok itu dengan mata berkilat marah. “Mau lo apa ?”
“Lo tau kan kalo ngerokok itu nggak baik untuk...” belum sempat Gia menyelesaikan kalimatnya, Gara sudah memotongnya.
“Ah basi, dongeng lama.” Ia buru-buru mengambil satu batang rokok lagi beserta korek api dari saku celana abu-abunya, kemudian menyulut rokok itu dan menghisapnya dengan santai tanpa mempedulikan sepasang mata yang sedari tadi memelototinya. Tanpa disangka Gia melakukan hal yang sama, gadis manis itu mengambil sebatang dari saku Gara kemudian segera menyalakannya dengan api dan yang paling membuat Gara terperangah adalah cewek itu menghisapnya dengan santai pula mengikuti gayanya meskipun pada akhirnya ia terbatuk-batuk. Gara merebut rokok itu dari tangan Gia.
“Lo gila ya, lo kan cewek ?”
“Kalo cewek emang kenapa ? dilarang gitu ?” Tantang Gia membuat Gara semakin terkesima.
“Rokok nggak baik buat kesehatan,” Gara terkesiap dengan ucapannya sendiri tetapi ia buru-buru menambahkan. “Maksud gue bahaya khusunya buat kaum cewek kayak elo.”
Gia menyeringai menatap Gara yang sedikit salah tingkah, sedangkan Gara paling benci jika diperhatikan seperti itu. “Kenapa lo liat-liat ?” ketus Gara. “Naksir ?” sambungnya yang kemudian disambut oleh pukulan pelan di lengan Gara.
“Jangan ngerokok lagi, please, gue mohon. Mulai sekarang lo harus biasain hidup sehat tanpa rokok, bisa kan ?” lagi-lagi Gia merebut puntung rokok dari tangan Gara dan membuangnya.
“Apa peduli lo ?” teriak Gara mulai kesal.
“Karena gue sangat menghargai orang yang tidak menyakiti tubuhnya sendiri hanya untuk kesenangan semata. Lo tau, rokok itu memang menyenangkan tapi buntutnya yang tidak menyenangkan.”
“Tapi dengan nyakitin tubuh gue, gue jadi seneng, gue puas.”
“Lo gila !!” protes Gia. “Jangan buat rumah sakit harus nambah satu kamar lagi buat orang berpenyakitan karena rokok salah satunya elo karena terkadang gue kasihan sama bokap gue yang mesti kewalahan nyariian kamar yang masih tersisa buat pasiennya yang kebanyakan dari mereka punya masalah yang sama, jantung koroner.” Jelas Gia.
“Jadi bokap lo dokter ? pantesan anaknya cerewet banget kayak gini, ck. Bilangin ke bokap lo gue mau mesen satu kamar lagi.” Goda Gara semakin menjadi-jadi, Gia semakin kesal karena kepeduliannya selama ini hanya dianggap sebagai candaan bagi cowok sableng disebelahnya itu.
“Yang kemaren itu cowok elo ?” tanya Gara tiba-tiba. Sepertinya Gara juga terkejut saat mendengar pertanyaan lancangnya itu keluar begitu saja dari mulutnya. Tetapi lagi-lagi sifat Gara yang lebih memilih menjunjung tinggi-tinggi egonya daripada harus menarik kembali ucapannya. Mau dikemanain harga diri ini, Bro, kalau itu sempat terjadi ? bisa-bisa reputasinya sebagai orang yang paling berpengaruh di sekolah ini bisa langsung anjlok.
“Bukan. Dia ‘kakak’ gue, Alfa namanya.” dan sesungguhnya Gia tak ingin predikatnya sebagai anak angkat di keluarganya diketahui oleh orang lain, meskipun jelas-jelas orang itu tak ada sangkut pautnya dengan keluarganya.
“Oh...tapi kalo si Alfa itu kakak elo kok muka kalian berdua nggak ada mirip-miripnya sama sekali ? Ah, jangan-jangan si Alfa itu anak selingkuhan bokap lo atau lebih parahnya dia anak pungut. Oh, atau jangan-jangan lo sendiri lagi yang anak pungut ?” terka Gara dengan wajah serius. Gia tertegun mendengar ‘rahasianya’ yang hampir saja ketahuan.
“Sok tau lo,” semburnya galak, kemudian segera meninggalkan Gara yang termenung sendirian disebuah gedung belakang sekolah yang tak terpakai lagi.
Tiba-tiba rasa kesepian dan kehilangan itu muncul lagi membuat batin Gara semakin tersiksa, ia mengambil kotak rokok beserta koreknya dari saku celananya dan menyulutnya kembali, tetapi hanya satu hisapan yang dirasakan Gara karena ia teringat ucapan Gia.
“Jangan ngerokok lagi, please, gue mohon. Mulai sekarang lo harus biasain hidup sehat tanpa rokok, bisa kan ?”
“Dasar cewek aneh, gara-gara elo gue jadi nggak nafsu lagi sama rokok. Lo harus ganti dengan yang lain karena gue ‘terpaksa’ harus berhenti ngerokok,” ujarnya sambil tersenyum sinis, tangan kanannya menyentil puntung rokok itu hingga terlempar kedalam saluran air. “Lo menarik juga, Gia.” Gumamnya tanpa sadar.
♥♥♥
“Ma, Angga mohon jangan pergi,” anak lelaki berusia 9 tahun itu merengek sambil mencekal tangan mamanya kuat-kuat karena mamanya tidak menanggapi rengekan itu dan anak lelaki itu mulai bosan mengharapkan pengertian dari sang mama, ia pun beralih pada papanya yang sedang merapikan dasinya. “Papa, jangan pergi lagi, disini saja nemenin aku sama kak Gara. Kita sering kesepian tanpa papa sama mama...”
Papa berhenti melakukan kegiatannya, kemudian menatap putra bungsunya dengan tegas. “Papa nggak bisa ninggalin bisnis ini, Angga, mungkin kakak kamu akan nemenin kamu main supaya kamu nggak kesepian.”
“Tapi, pa...”
“Udahlah, kamu harus bisa ngertiin kesibukan papa sama mama,” papa beranjak dari duduknya, mengambil tas kemudian menghampiri istrinya yang masih berkutat didepan meja rias. “Ayo, ma, kita berangkat. Papa nggak boleh lama-lama soalnya hari ini ada meeting perusahaan.”
“Pa...” rengek Angga lagi, air matanya mulai tumpah. Ia menangis, tubuh kecilnya bergetar hebat.
“Jangan nangis Angga !” hardik papa keras seketika membuat tangis Angga terhenti. “Papa sudah kasih uang jajan untuk sebulan, kan ? apa masih kurang ? kalo masih kurang biar papa tambah lagi, udah jangan nangis lagi,” papa merogoh saku celana panjangnya kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan. “Ini, buat kamu sama Gara.”
Angga menatap papanya tidak mengerti. Sungguh. Apa sih yang lebih diharapkan oleh seorang anak yang usianya baru saja menginjak 9 tahun selain kehadiran kedua orang tuanya disampingnya ? bagi mereka uang tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keutuhan keluarga mereka, kehangatan keluarga yang jarang sekali didapatkan dari kedua orang tua mereka sendiri. Jika sudah begini, adilkah semua ini ?
“Ayo ambil, Angga, jangan buat papa menunggu terlalu lama. Hari ini papa ada pertemuan dengan klien penting belum lagi setelah itu akan ada rapat perusahaan, papa benar-benar tidak punya banyak waktu.” Tukas papa mulai kesal. Angga hendak menerima uang itu, tetapi gerakannya terhenti saat adanya tangan lain yang mendahuluinya. Tangan itu milik seorang anak lelaki yang sangat serupa wajahnya dengan Angga, ya siapa lagi kalau bukan saudara kembarnya. Gara.
“Kita nggak butuh uang terkutuk ini, pa,” ujarnya santai sambil mengembalikan uangnya kepada papa. “Asal papa dan mama tau, selama ini kita cuman hidup berdua, aku dan Angga, Angga dan aku, apa itu tidak terlalu membosankan tanpa kehadiran orang tua di tengah-tengah kita ? aku tak habis pikir dengan jalan pikiran orang-orang dewasa, kenapa semuanya harus dibeli dengan uang ? apa kalian pernah sekali saja memikirkan kehidupan ANAK-ANAK KALIAN daripada bisnis-bisnis sialan itu ?”
“Gara, kamu tidak boleh bilang seperti itu kepada papamu !” seru mama, mendengar itu Gara hanya tersenyum sinis.
“Papa nggak mau tau, pokoknya ini uang jajan kalian. Papa sama mama pergi dulu,” ujar papa keras kepala lalu segera beranjak dari tempat itu disusul oleh sang mama, tiba-tiba langkah keduanya terhenti saat mendengar suatu benda yang robek. Papa semakin geram melihat ulah Gara yang dengan santainya merobek uang kertas itu menjadi dua bagian, kemudian dilemparkannya keatas sehingga sobekan uang-uang tersebut memenuhi ruangan.
(PLAK) papa menampar wajah Gara seperti kesetanan. Belum puas menampar Gara, papa memukul kaki Gara dengan tali sabuknya, tetapi ajaibnya Gara sama sekali tidak menangis. Ia malah terlihat sangat santai dan kedua belah bibirnya masih terus menyunggingkan senyum mengejek.
“Ayo, pa, jangan berhenti. Terus pukulin Gara, kalo perlu sampai Gara mati sekalian biar kalian seneng.” ujarnya setenang mungkin meskipun terdengar dari nada suaranya yang sedikit bergetar karena berusaha menahan rasa sakit pada pipi dan kakinya.
“Kamu masih tidak tau, bagaimana sulitnya mencari uang. Papa sama mama sampai rela kerja siang dan malam demi hidup kalian.” Suara papa semakin melengking karena sudah tidak tahan memendam emosinya terlalu lama.
“Apa kalian juga tau, bagaimana perasaan kita berdua saat kalian meninggalkan kita begitu aja ? bagaimana perasaan kita saat melihat teman-teman yang selalu diantar kedua orang tuanya pergi ke sekolah ? bagaimana perasaan kita menghadapi ejekan teman-teman yang ngatain bahwa kita adalah ‘anak terlantar yang tak pernah diurus orang tuanya’ ? bagaimana kita berusaha mati-matian untuk mendapatkan sedikit saja simpati dan kasih sayang dari kalian ?!” bentak Gara, setelah itu tak ada satupun yang berani bersuara termasuk kedua orang tuanya.
Gara bangun dengan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Mimpi-mimpi buruk di masa lalunya muncul kembali membuatnya semakin tertekan dan KECEWA kepada hidup. Ia mencoba mengatur nafasnya kembali, tetapi ia tak sanggup. Kalau sudah begini Gara benar-benar butuh sesuatu yang dapat meredam dan menetralkan kembali pikirannya yang sempat kacau balau seperti ini. Sempat diliriknya sekilas jam di dinding yang masih saja menunjukkan pukul satu pagi.
Sebentar saja sudah terlihat Gara duduk-duduk santai diatas balkon kamarnya sambil mengenakan jaket kulitnya yang super tebal karena ia merasa udara malam ini tak mau bersahabat dengannya ditambah lagi karena sedari tadi sore gerimis yang tak kunjung berhenti hingga sekarang. Kepulan asap rokok keluar dari mulut dan hidungnya secara teratur dan ini terjadi untuk yang kesekian kalinya setelah menghabiskan lima batang rokok hanya dalam waktu satu jam, mungkin itu dikarenakan kegundahan hatinya sejak mimpi buruk di masa lalunya kembali hadir. Ia sampai melupakan komitmennya siang tadi ‘bahwa ia akan berhenti merokok’ dan sialnya ia baru menyadari bahwa komitmennya itu bukan berasal dari hatinya melainkan dari cewek baru-aneh-cerewet-yang kebetulan-sekelas-dengannya-dan yang lebih parahnya-dia sangat menarik. “Sial ! kenapa cewek itu selalu ada di pikiran gue ?” dengusnya.
“Kak,” sapa suara lemah di belakangnya, Gara langsung menoleh saat mendapati kepala adiknya yang mengintip dari balik pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon.
“Ngapain lo ngintip disitu ? duduklah kemari...” perintah Gara sambil menepuk telapak tangan kanannya bermaksud menyuruh Angga duduk disebelahnya. Angga menggeleng sambil sesekali terlihat ia sedang menahan nafas lalu terbatuk-batuk hebat sampai—jika Gara tak salah liat—saking hebatnya batuk itu, kedua mata adiknya berair seperti sedang menangis.
“Kak, bisa tolong matiin rokoknya ? gue nggak tahan sama baunya, kepala gue langsung pusing.”
“Kenapa sih, Ga ? tingkah lo aneh banget hari ini, nggak seperti...” ucapan Gara terputus saat kedua matanya melihat sesuatu yang benar-benar tak disangkanya. Ia tertegun saat melihat cairan kental yang warnanya sangat menyala keluar dari hidung Angga. Gara menajamkan penglihatannya lagi saat cairan itu keluar semakin banyak dan menetes ke lantai. Meskipun hari masih gelap dan penerangan disekitarnya tak cukup mendukung, tapi Gara yakin cairan itu adalah DARAH.
“Lo kenapa, Ga ? sakit ?” Angga masih membisu, dengan cepat ia menyeka darahnya dengan bajunya. “Ga, jawab gue !! lo sakit, hah ?” Gara semakin tak sabar melihat adiknya yang tak kunjung menjawab pertannyaannya. Lalu kepala Angga mendongak, kedua mata itu menatap mata Gara dengan penuh kesedihan.
“Leukimia.” Ujarnya nyaris tak terdengar.
“Apa ? lo bercanda, kan ? nggak mungkin, ini nggak mungkin !!!” teriak Gara kehilangan kendali. “Sejak kapan ?”
“Udah lama, gue nggak tau tepatnya kapan, tapi dari diagnosis dokter gue positif kena kanker darah dan itu...” Angga terdiam sejenak berusaha menetralkan perasaannya yang mulai digelayuti rasa takut. “Itu udah parah banget, stadium akhir.”
“APAAA !? mama sama papa udah tau tentang ini ?” Angga menggeleng, Gara melanjutkan ucapannya. “Kenapa, Ga, kenapa lo nggak kasih tau mereka ? apa perlu gue yang ngomong sama mereka ?” tanya Gara, tetapi Angga hanya diam memandang dalam-dalam kedua mata hitam milik kakaknya seperti berusaha untuk berkata ‘Jangan beritahu mereka, kak, karena itu percuma.’
♥♥♥
Gia menghembuskan nafasnya perlahan. Hari ini benar-benar menguji kesabarannya, bahkan tenaganya sempat terkuras karena perdebatan siang tadi dengan kedua ‘orang tuanya’. Perdebatan tanpa mula yang jelas dan tentunya tanpa akhir yang jelas pula. Baik mama-papanya dan Gia sama-sama masih mempertahankan ego masing-masing, Gia yang merengek-rengek memaksa agar kedua ‘orang tuanya’ memberi tahu sedikit saja mengenai siapa orang tua biologisnya sedangkan mama-papa tetap pada prinsipnya. Bergeming layaknya sepasang patung yang masa bodoh pada orang-orang disekitarnya. Aarrgghh ! menyebalkan. Gia gondok setengah mati kepada mereka berdua, belum lagi sifat jahil kakaknya yang tumben-tumbenan lagi kumat. Dengan santai, kedua kakinya dinaikkan keatas kursi, berpura-pura mendengarkan lagu melalui earphone-nya padahal Gia tahu persis bahwa earphone-nya tak mengeluarkan bunyi apapun karena itu hanyalah kedok untuk ‘nguping’ pembicaraannya dengan mama-papanya, selain itu yang membuat Gia ingin sekali mencakar wajah tampan kakak angkatnya yaitu karena wajahnya yang dipasang se-innocent mungkin yang sesekali nyengir lebar saat Gia dibentak oleh papa.
Akhir-akhir ini Gia juga sering uring-uringan, masalahnya ? hanya sepele, karena dan hanya karena dirinya dicuekin berat sama Angga. Bukan apa-apa sih, tapi perasaan Gia tidak enak dengan cowok itu. sifatnya sangat bertolak belakang dengan Gara, menurut Gia, Gara lebih welcome meskipun titlenya masih tetap sebagai cowok sok ganteng dan sok cool yang suka menindas orang-orang bodoh yang mau saja ditindas olehnya yang hobinya bikin orang-orang disekitarnya mendadak terkena serangan jantung masal yang terkadang membuat perut Gia menjadi mual dan tak segan-segan untuk memuntahi cowok brengsek itu. Tapi bagaimanapun juga Gia masih tahu norma, tata krama, adat, sopan santun dan lain sebagainya, jadi itu semua urung dilakukannya.
Kembali lagi pada keanehan sifat Angga terhadap Gia. Cowok itu seolah-olah menganggap Gia layaknya makhluk yang tak terlihat, supercuek (melebihi Gara), dan tatapan matanya menyiratkan kesinisan. Gia sempat berpikir, apa sebelumnya dia pernah berbuat salah terhadap cowok aneh itu ? sepertinya tidak, kenal saja baru beberapa minggu ini. Tetapi cowok itu seperti sudah mengenalnya sejak lama, entah ini cuman perasaan Gia saja atau memang kenyataannya seperti itu. Dan satu lagi, setiap kali Gia memandang saudara kembar identik itu, entah Gara ataupun Angga, Gia merasa dirinya pernah melihat kedua sosok itu. Familier, ya kira-kira seperti itulah dan parahnya lagi Gia tak mau menduga-duga sesuatu yang bukan-bukan. Pasalnya mungkin saja ini suatu kebetulan dan mungkin juga wajah mereka berdua yang kelewat pasaran, iya kan ?
♥♥♥
Seorang anak lelaki berusia 16 tahun mengobrak-abrik meja kerja sang papa, tentu perbuatan yang dilakukannya secara diam-diam ini sama sekali tidak diketahui oleh papanya ataupun penghuni rumah yang lain. Dengan santai ia mengeluarkan berkas-berkas yang terdiri atas kertas-kertas berharga dari salah satu laci meja tersebut. Mata kecilnya terpaku pada satu titik dan untuk beberapa saat masih terkunci disana.
Kedua tangannya mengeluarkan benda yang menarik perhatiannya. Lama ia memandangi satu-persatu wajah yang terpatri diatas foto yang sudah sedikit menguning itu. Disana terdapat tiga wajah mungil yang sangat menggemaskan, foto tiga orang bayi mungil dan diatas foto itu terdapat tulisan yang ia duga sebagai tulisan tangan sang mama.
Wajah pertama (Anggada), seorang bayi mungil yang sedang tertidur pulas di ranjangnya. Lalu wajah kedua (Anggara), seorang bayi yang masih merah menangis merontah-rontah diatas ranjangnya tepatnya disebelah kanan Angga. “Ck. kak Gara, emang dari kecil udah banyak tingkah,” decak Angga penuh kekaguman melihat tingkah kakaknya yang menggemaskan.
Dan wajah terakhir yang begitu sama serupa dengan kedua wajah sebelumnya, seorang bayi kecil yang tak bernama dan kemungkinan Angga duga bahwa bayi itu adalah perempuan karena dapat terlihat jelas meskipun bayi itu masih terbilang sangat kecil dan tak ada perbedaan yang menonjol dari ketiganya hanya saja wajah yang terakhir ini sangat cantik. Tentu dia perempuan.
“Mungkinkah dia ? kenapa begitu mirip ? gue, kak Gara dan...” belum sempat Angga merealisasi semua yang ada didalam benaknya, terutama tentang seulas kenangan yang sempat bermain-main didalam tempurung kepalanya tadi, mendadak terdengar teriakan nyaring disekitarnya yang membuatnya kembali tersadar.
“Aauuuww...!!!” jerit Gia dengan suara nyaring sehingga membuat Angga yang sedang berlutut didepannya terjengkang saking kagetnya. Tubuh Angga menegang saat memperhatikan wajah cewek didepannya itu yang saat ini sedang meringis kesakitan sembari mengipasi luka di lutut kirinya. “Pelan-pelan dong, perih tau.” Protesnya tanpa melihat raut muka Angga yang hanya terpusat padanya, sedetik kemudian, Gia yang mulai menyadari bahwa dirinya sedang diawasi sontak mendelik menatap Angga dengan keningnya yang berkerut-kerut.
“Ga ? Angga, helooo...” Gia mengibaskan kedua telapak tangannya ke wajah Angga. Lagi-lagi sikap Angga sangat mencurigakan. Hal ini membuat pikiran Gia melayang-layang membayangkan sesuatu yang tidak-tidak. Sial, Angga menyukainya. Benarkah ? tidak mungkin !!!
“Aduh bawel lo, masih pagi juga udah teriak-teriak. Lo kira gue budek apa ?”
“So, kalo lo nggak budek kenapa waktu gue panggilin lo nggak nyahut ? bengong sambil ngelihatin muka gue, emangnya ada yang aneh sama muka gue ? dari dulu gue emang cakep jadi wajar aja kalo lo sampai bengong gitu sambil ngelihatin gue. Oh, atau jangan-jangan lo mulai naksir gue ya ?” todong Gia dengan pertanyaan yang bertubi-tubi membuat Angga semakin kesal dan bersumpah serapah di dalam hati bahwa ia tak akan mau lagi menolong cewek bawel ini sekalipun ia nyungsep di got depan sekolah kek, keplindes helikopter kek (mulai ngelantur nih pikiran Angga. Lha emang dia kira helikopter beroperasi di darat apa ?). Masih untung Angga mau nolong dia sewaktu jatuh terguling-guling dari tangga tadi. Meskipun dari awal Angga memang sedikit nggak sreg sama Gia, tetapi setidaknya ia masih punya hati nurani. Eh, si cewek-bawel-plus-narsis-yang nyangka-Angga-naksir-dirinya malah bikin ribut pagi-pagi buta begini, nggak bilang ‘terima kasih’ pula. What the...?
“Sekali aja ya, Ga, lo baik-baik sama cewek bawel ini. Kalo nggak kuping lho bisa soak deket-deket sama dia terus.” Angga memaki-maki kotololan dirinya sendiri dalam hati.
“Masih bagusan bajaj daripada muka lo. Udah ditolong, nggak bilang makasih malah ngefitnah orang.” ketus Angga.
“Fitnah ? maksud lo ?”
“Menurut lo ?” Angga balas bertanya dengan muka polos. Polos yang dipaksakan, tentu saja. “Lo nuduh gue naksir sama elo, itu fitnah, kalo beneran dunia pasti udah kiamat.”
“Gia, tanggal lahir lo berapa sih ?” tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur bahkan tanpa disadari oleh Angga. Gia menatapnya heran, tetapi kemudian senyumnya mengembang lebar.
“Tanggal 25 Mei, dua bulan lagi jangan lupa kadonya ya. Gue tunggu,”
“25 Mei ??? itu kan seperti tanggal ultah gue sama kak Gara. Apa ini cuman kebetulan aja ?” batin Angga.
“Aauuuww ! aduh... udah-udah perih nih kaki gue.” Gerutu Gia.
“Makanya, kalo jalan liat-liat. Pagi-pagi udah ngelamun, nyungsep kan jadinya,” gerutu Angga sambil berlalu keluar dari ruang UKS meninggalkan Gia yang bahkan belum sempat mengucapkan ‘terima kasih’ kepadanya.
“Nggak kakak nggak adik sama-sama juteknya. Yang satu kelewat gila karena udah nganggep dirinya seperti Dewa. Yang benar aja, Dewa ? mana ada Dewa setengil itu ? Dewa kematian, mungkin, kalo itu gue lebih setuju lagi. Sinting. Yang satu lagi kayak mayat hidup, udah kurus kering, pucet, hobinya marah-marah nggak jelas, bikin bete aja. Badmood gue. Kenapa sih tuh mayat hidup hobi banget nyolotin gue ? apa salah gue sih ? Hell, gue nggak merasa tuh.” Dumel Gia sambil meniup-niup lukanya yang masih terasa nyeri.
Sementara itu, beratus-ratus meter jarak antara ruang UKS sekolah dengan gedung tua yang berada di lantai tiga, yang merupakan wilayah kekuasaan para senior tertinggi yang telah mengabdikan dirinya hampir tiga tahun di sekolah ini, juga merupakan tempat yang jarang sekali dikunjungi siswa-siswi kelas satu maupun kelas dua karena menyadari akan kerawanan daerah itu. Para junior biasa menyebut daerah itu dengan sebutan ‘Black Line’. Tak terkecuali saat ini, entah karena dasar apa dan bekal keberanian dari mana sehingga membuat seorang anak lelaki jangkung kurus nekad menjejakkan kakinya disana. Ia menyadari ini merupakan kesalahan terfatal yang dibuatnya karena sudah berani menginjak batas hierarki para senior. Tetapi jika mengingat bahwa sang kakak yang juga mempunyai singgasana yang sama tingginya dengan para senior atau bahkan lebih tinggi yang membuatnya mengesampingkan kata-kata ‘Black Line’ yang sudah dikarang mati-matian oleh para junior bahkan termasuk kata-kata paling keramat yang sudah diwariskan secara turun-temurun disetiap angkatan.
“Kenapa pikiran gue jadi kacau kayak gini ? cuman gara-gara cewek bawel itu, mood gue jadi ilang. Kenapa sih setiap ada dia didekat gue, perasaan gue mendadak jadi aneh ? gue tau, ini bukan karena gue naksir sama tuh cewek. SAMA SEKALI BUKAN. Perasaan ini lebih lembut, tenang dan penuh rahasia,” ucapnya lirih. “Kenapa kalo gue mandang mata dia bayangan itu tiba-tiba muncul di benak gue ? tiga bayi kembar itu, mungkinkah ?” dengan perlahan dikeluarkannya selembar foto usang dari saku celana panjangnya. Ia mengusap ujung foto itu, lagi-lagi, hanya dengan satu sentuhan diatas foto yang sudah berumur itupun membuat perasaannya menjadi tenang.
“Anggara, Anggada dan mungkinkah...” kedua tangannya mendadak gemetar membuat foto dalam genggamannya itu terjatuh. Buru-buru ia memungutnya kembali sambil berusaha menutupi rasa gugupnya, tetapi ketika ia memungut foto yang sedang dalam posisi terbalik itu. Sesaat ia menjadi tertegun saat menyadari adanya tulisan lain dibaliknya.
Maafkan mama-papa sayang, bukan maksud kami memisahkanmu dengan kedua saudara kembarmu, tetapi memang ini yang harus kami lakukan agar kelak tidak terjadi kesalahpahaman diantara kalian bertiga. Anggara, Anggada dan A...
“Tuhan, katakan ini tidak nyata. Katakan ini hanyalah mimpi buruk dan akan hilang saat aku terbangun nanti. Ayo bangun-bangun !!!” Angga mencubiti tangannya dan seraya meringis kesakitan. “Ini bukan mimpi. Tuhan, kenapa jadi seperti ini ?! tidak mungkin, dia...” butiran-butiran kristal meluncur dari kedua matanya yang indah, turun melewati kedua belah pipinya, melalui dagunya dan bermuara di dasar hatinya yang sarat akan kerapuhan.
♥♥♥
Hari demi hari berlalu begitu cepat. Siang berganti malam, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti dengan tahun, musim pun tak mau ketinggalan, dari kemarau menuju ke musim penghujan begitulah seterusnya siklus alam memang sudah ditakdirkan oleh Sang Maha Pencipta untuk saling memperbaruhi.
Gara dan Gia. Nama itu selalu disebut-sebut oleh hampir seluruh siswa-siswi SMU Persada. Mereka tak akan berani berasumsi seperti itu jika tidak ada bukti yang benar-benar jelas bahwa keduanya memang ‘ada apa-apa’ dalam tanda kutip. Tahu kan maksudnya ? ya benar mereka digosipkan sedang menjalin hubungan yang bisa dibilang hubungan itu lebih dari sekedar pertemanan.
Tentu saja Angga semakin kelabakan mendengar ‘gosip’ yang entah sungguhan atau hanya sekedar bualan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tetapi Angga juga curiga melihat perubahan drastis dari sifat dan kelakuan kakaknya itu, Gara yang biasanya hobi bikin orang jantungan sekarang menjelma menjadi Gara yang ‘agak pendiam’, meskipun judulnya masih ‘agak pendiam’ tetapi terkadang sifat lamanya juga masih muncul. Gara yang perokok berat sekarang menjadi seseorang yang ‘anti rokok’, kalo yang satu ini Angga tidak bisa menduga-duga karena sebelumnya ia sempat melarang Gara untuk tidak merokok. Apakah cuman gara-gara larangan Angga waktu itu sehingga membuat Gara menghentikan kebiasaannya merokok ? ataukah ada penyebab lain ? dan yang paling mencolok dari perubahan sikap Gara adalah sekarang cowok itu menjadi lebih kalem dan periang, tentu saja bertolak belakang dengan sifat Gara yang cuek, masa bodoh dan suka marah-marah seperti dulu.
Angga sangat bersyukur dengan perubahan itu. Setidaknya meskipun sedikit, tetapi bermanfaat, tentu saja. Sebenarnya Angga lebih bersyukur lagi jika perubahan kakaknya itu bukan karena Gara ‘ada apa-apa’ dengan Gia melainkan murni karena kesadaran dirinya dan jika itu dikarenakan oleh satu makhluk yang bernama Gia, Angga tidak akan tinggal diam karena jika itu sampai terjadi sama saja ia turut andil memelihara aib keluarganya sendiri.
“Apa bener kakak lagi pacaran sama Gia ?” tanya Angga setelah tidak tahan lagi karena semua murid di sekolahnya selalu menanyakan kebenaran ini pada Angga, bukan pada pelakunya sendiri. Gara ataupun Gia.
“Menurut lo ? emang keliatannya kayak gitu ya ?” balas Gara, Angga menaikkan sebelah alisnya. “Wah nih orang ditanya malah balik nanya.” Batin Angga.
“Aku nggak tau, makanya aku tanya ke kakak. Bosen tau dikuntit terus sama anak-anak.”
“Jadi lho nyesel dan bosen nih jadi adik gue ? terima ajalah kakak lo yang emang terkenal ini, ya selalu gak jauh-jauhlah dari gosip,” Gara mengerling nakal, Angga pura-pura muntah. “Tapi kalo beneran pacaran gue seneng banget, Ga, tuh cewek menarik, apa adanya dan gue suka yang seperti itu.”
JEGGGLLLAARR bagaikan petir yang menghantam kepala Angga disiang bolong. Ia menatap kakaknya tak percaya, entah kenapa sekarang ia malah berharap keinginan kakaknya itu tak jadi nyata. “Kakak, bener-bener sayang ya sama Gia ?”
“Masih dalam proses sih, yang jelas saat ini gue tertarik sama dia.” Jelas Gara singkat, padat dan jelas.
“Jangan kak, aku mohon kakak nggak boleh suka atau bahkan jadian sama tuh cewek.”
“Emang kenapa ? lo jealous ya ?”
“Bukan, masalahnya nggak segampang itu, kak, ini akan menjadi masalah yang besar.”
“Kenapa ? Masalah apa ?” tanya Gara geram. “Jawab gue jangan diem aja, Ga !” Gara semakin gusar melihat adiknya yang masih bergeming.
“Karena... karena kita sodara,”
“Apa ? siapa ? Gia maksud lo ? nggak mungkin.”
“Mungkin kak, dan kenyataannya emang begitu. Aku, kakak dan Gia, kita bertiga sodara kembar.”
♥♥♥
Flash back on : 16 tahun yang lalu, Rumah Sakit Bhakti Permai...
“Lia, kamu tolong rawat dia dengan baik ya.” Ucap Sarah berulang kali kepada sahabatnya, sesekali pandangan matanya masih terarah pada seorang bayi perempuan yang sangat mungil.
“Pasti Sar, aku akan jagain dia dengan baik. Kamu nggak perlu khawatir, kamu fokusin ngerawat dua jagoanmu, Gara dan Angga, saja.” Ujar Lia sambil tersenyum penuh pengertian.
“Iya aku tau, tapi aku masih nggak tega. Aku...”
“Ingat, risiko yang akan terjadi jika kamu merawat ketiga kembar ini. Mereka berbeda jenis kelamin, Sar, kembar emas. Mereka nggak mungkin hidup bersama karena nanti pasti terjadi sesuatu yang tak diingakan.” Potong Lia cepat bermaksud mengingatkan sahabatnya.
Mereka bertiga Dewa Anggara, Bima Anggada, Anggia Anastashia Putri memang terlahir sama serupa, kembar identik. Mereka ‘kembar emas’. Disaat seorang ibu melahirkan bayi kembar yang berbeda jenis kelamin dalam artian laki-laki dan perempuan, maka keduanya harus dipisahkan. Hal ini sesuai dengan cerita lama, cerita para leluhur terutama mereka-mereka yang memang masih keturunan Jawa akan mempercayai kebenaran cerita itu. Jika mereka disatukan kelak akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan, misalnya menyukai saudaranya sendiri yang jelas-jelas sangat melanggar aturan yang tidak semestinya terjadi. Hal itulah yang ditakuti oleh Sarah dan Johan, suaminya.
“Kalian boleh mengunjungi kami jika kalian merindukannya. Atau kami akan selalu berkunjung ke rumah kalian, bagaimanapun juga Gia tetap anak kalian. Dia mewarisi darah kalian dan nantinya Gia dan kedua jagoanmu, Gara dan Angga, juga harus tau mengenai rahasia ini.” tutur Lia bijaksana. Air mata Sarah sudah tidak bisa dibendung lagi begitu juga dengan Lia yang tetap berusaha meyakinkan Sarah bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Flash back off...
Masalah yang satu belum terselesaikan, kini giliran masalah lain yang melanda. Sarah dan Johan memang sudah menceritakan rahasia itu kepada kedua putra kembarnya dan mereka juga sudah meminta Lia, sahabatnya yang merawat Gia, untuk berterus terang kepada Gia mengenai orang tua kandungnya. Tentu saja hal seperti ini sangatlah tidak mudah dijalani, awalnya kedua putra kembarnya memang sangat terpukul dengan berita ini. Namun pada akhirnya mereka mau menerima alasan orang tuanya. Tetapi tidak semudah itu bagi Lia untuk menjelaskannya kepada Gia, gadis itu jelas lebih terpukul dan tidak terima karena dia merasa sebagai pihak yang tidak diingkan oleh orang tua kandungnya. Gia sangat kecewa, marah, sedih dan beribu-ribu perasaan lain masih bergelayut didalam hatinya. Ia masih tidak terima.
Selain itu kesehatan Angga semakin hari semakin memburuk. Hal itu terbukti akhir-akhir ini dia sering mendadak pingsan dan terkadang disertai dengan keluarnya darah dari hidungnya. Rambutnya semakin menipis hampir mendekati botak, tubuhnya semakin kurus dan melemah. Kini Angga hanya bisa terbaring lemas di ranjang Rumah Sakit tanpa bisa melakukan apapun, tentunya saat ini dia sedang bertarung memperjuangkan hidup dan matinya yang bahkan sudah dapat diprediksi oleh Dokter yang menanganinya. Kedua orang tuanya sangat syok mengetahui hal ini, pasalnya mereka tidak pernah tahu jika anaknya yang terlihat baik-baik saja ternyata tidak sesuai dengan apa yang terlihat dari luar. Mereka sangat menyesal.
“Maafkan mama, sayang, mama...” ucapan mama terpotong oleh kata-kata yang dilontarkan Gara.
“Percuma ma, kalo mama menyesalnya baru sekarang. Mama dan papa lihat sendiri kan, sekarang Angga udah nggak bisa ngapa-ngapain. Semuanya udah terlambat.” Dengusnya sinis.
“Papa sama mama benar-benar tidak tau, Gara, jangan memojokkan kami.” Tukas papanya tegas.
“Jelas kalian tidak tau, setiap hari aja kalian jarang berada di rumah. Toh, sekalipun ada di rumah, apa kalian pernah menengok anak kalian barang sedetik pun ? bahkan aku kira kalian sudah lupa kalo punya anak lain selain kita berdua.”
“Jaga ucapanmu, Gara, kami sangat peduli kepada kalian semua, kamu, Angga dan juga Anggia. Kami peduli kepada kalian, tolong mengertilah. Beri kami kesempatan untuk menebus semua kesalahan kami kepada kalian, bagaimanapun caranya.” Mohon mama masih dengan sesenggukan. Gara sedikit lebih tenang, ia juga tidak tega melihat orang tuanya yang tidak berdaya seperti itu. Sungguh diluar dugaan. Sekarang tidak ada lagi mama-papa yang gila kerja, mama-papa yang egois, mama-papa yang bertindak layaknya patung bernyawa, kini yang ada adalah mama-papa yang tak berdaya, mama-papa yang terlihat begitu tulus dan sangat menyesal.
“Mama sama papa nggak usah merasa bersalah seperti itu, yang terpenting sekarang kita semua berdo’a untuk kesembuhan Angga.” Ujar Gara melembut, hal ini membuat keduanya sempat tertegun, kemudian sebuah senyum muncul di wajah keduanya.
“Mama-papa dan...kakak,” sapa seseorang dari belakang. Ketiganya sama-sama menoleh ke sumber suara tersebut. Namun ketiganya langsung tertegun saat melihat seseorang yang tengah berdiri didepan pintu, orang itu sedang tersenyum tulus kepada mereka semua.
“Gia ?” ucap Gara pelan. Kedua orang tuanya langsung menghambur kearah Gia dan memeluknya erat.
“Maafin mama dan papa sayang. Kami tidak bermaksud menelantarkanmu,” ucap mama suaranya terdengar bergetar, namun begitu tulus.
“Kami tidak bermaksud pilih kasih terhadapmu, kami hanya...”
“Pa-ma, Gia mengerti. Gia sama sekali nggak marah sama kalian, memang waktu itu Gia sempat kecewa, tetapi sekarang Gia mulai menyadari posisi kalian waktu itu yang sangatlah tidak mudah sewaktu akan melepas Gia. Gia tau kalian sangat menyayangi Gia, menyayangi kita semua,” Gia mengusap air mata harunya, kemudian menguraikan pelukan mama dan papanya dan beralih kepada Gara.
“Kak, semuanya nggak mungkin terjadi karena kita adalah sodara. Rasa sayang yang kita miliki hanya sebatas persaudaraan, tidak lebih.” Bisiknya pelan sambil memeluk Gara. Gara balas memeluknya dengan erat.
“Gue sayang sama elo, Gia.” Ucap Gara lirih.
“Gue juga sayang sama kakak,” Gia buru-buru menambahkan. “Sama Angga juga.”
“Gue tau, gue baru sadar kalo ternyata gue sayang sama elo. Tetapi ini semua nggak mungkin terjadi karena kita adalah sodara. Ya lo bener, mungkin rasa sayang gue ini hanya sebatas rasa sayang antara kakak terhadap adik kecilnya, tidak lebih, dan gue bertekad untuk mematikan rasa sayang gue ke elo yang bahkan sampai saat ini masih mengharap untuk lebih.” Aku Gara dalam hati meskipun sangat berat.
♥♥♥
Gara dan Gia duduk berdampingan memandang luasnya danau yang tak bertepi dihadapan mereka. Keduanya sama-sama terdiam, merenungi apa saja yang sedang bermain-main di benak mereka masing-masing. Mereka hanya berdua, melawan setiap keresahan hati yang terkadang tak berujung sama seperti hamparan air bening didepan mereka itu. Sangat menenangkan, damai dan sejuknya angin yang berhembus menerbangkan setiap memori-memori kecil yang mampu mereka ingat sekalipun.
Sudah tiga minggu berlalu sejak sepeninggalnya Angga karena penyakit yang dideritanya sudah sangat parah bahkan kabar terakhir sebelum meninggalnya Angga, Dokter memberitahukan bahwa leukosit yang seharusnya membantu melawan racun dan berfungsi sebagai kekebalan tubuh itu ternyata jumlahnya semakin banyak dan memakan eritrosit-eritrosit pada tubuh Angga. Sehingga wajar saja membuat tubuhnya yang sudah kurus semakin ringkih karena salah satu sistem pencernaannya terganggu, bukan hanya itu saja leukimia yang diduga mulai menyerangnya saat berusia 13 tahun itu membuatnya kesulitan bernafas. Bayangkan saja eritrosit yang seharusnya berfungsi sebagai pengedar sari-sari makanan ke seluruh tubuh dan mengangkut oksigen ke jantung tidak lagi berfungsi secara normal. Rusak total.
“Terkadang gue heran sama Tuhan, kenapa Dia lebih milih ngambil nyawa orang yang baik terlebih dahulu ? kenapa bukan penjahat, psikopat, pembunuh atau bahkan makhluk seperti gue yang dibiarkanNya mati duluan ?” tanya Gara yang terlihat masih terpukul akan kematian adiknya. Ia melempari batu-batu kerikil hingga menyebabkan cipratan-cipratan kecil dari air danau. Hatinya benar-benar dirundung duka yang amat mendalam. Hatinya resah.
“Orang yang baik hidupnya di dunia ini tidak pernah lama, terkadang kehidupan mereka juga dipenuhi lika-liku tidak semulus yang kita kira. Mungkin Tuhan mempunyai persepsi tersendiri mengenai takdir seseorang terutama soal kematian, mungkin karena Dia lebih sayang kepada orang-orang yang baik itu, tetapi sesungguhnya Tuhan tak pernah membedakan ciptaanNya. Semua berlaku sama, adil. Dan kenapa orang-orang jahat hidupnya lebih kekal ? mungkin karena Tuhan masih mau memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki akhlaknya di dunia ini, kembali lagi—hal itu dilakukanNya karena Dia mencintai dan peduli terhadap ciptaanNya,” Gia menghela nafas sejenak, kemudian melanjutkan. “Lo tau, mungkin Angga merupakan orang-orang yang termasuk pilihan Tuhan. Ya, cowok itu memang baik—sangat baik malah, meskipun rada nyebelin. Gue yakin pasti ada hikmah dibalik ini semua, salah satunya keluarga kita sekarang udah nyatu. Papa-mama nggak mentingin ego mereka lagi dan sering banget luangin waktu buat kita.”
“Iya lo bener, Gi, selalu ada hikmah dibalik cobaan. Tinggal bagaimana manusia itu sendiri menyikapinya dan seberapa besar keinginan manusia itu untuk berubah.”
“Ayo kita pulang, udah sore nih. Ntar mama sama papa nyariin kita.” Gia berdiri terlebih dahulu, kemudian menarik tangan kanan Gara dengan lembut.
Semburat jingga mengiringi setiap langkah keduanya. Langkah baru untuk menuju masa depan yang lebih baik daripada masa-masa pahit yang sudah berlalu sebagai bentuk pembelajaran supaya tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Keluarga baru, lingkungan baru, kepribadian baru, hal-hal kecil seperti itulah yang dapat menentukan arah hidup manusia. Tentu saja hal sepenting itu terkadang masih saja dilupakan, diremehkan dan kebanyakan masih lebih mementingkan ambisi dan ego yang terkadang malah menyesatkan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar