Demi Si Monster Matematika
Aku tak bersemangat ketika menatap kertas lecek didalam genggamanku. Kupandangi sekali lagi tetap tidak ada yang berubah disana. Nilai 50 tercetak besar-besar disudut kanan dengan tinta merah yang sangat menyala. Damn! Aku selalu sial jika harus berhadapan dengan pelajaran hitungan, terutama MATEMATIKA. Hell ! Semua mimpiku seakan lenyap, runtuh menjadi puing-puing usang yang tak bermakna sama sekali setelah menatap nilai paling bersejarah itu. sekali lagi, untuk yang kesekian kalinya aku gagal ! Gimana bisa maju kalau seperti ini terus ?
Aku menatap nanar pada sampul depan buku paket Matematikaku, disana terdapat gambar seorang ilmuwan terkenal di dunia yang juga pernah menyumbang beberapa rumus matematika di masa-masa kejayaannya lalu. Seorang ilmuwan berjidat lebar, rambut tipis yang sudah beruban dan tentu saja yang membuat seluruh penghuni alam semesta ini menjadi iri setengah mampus kepadanya, yaitu apalagi kalau bukan karena OTAKNYA YANG SUPER DUPER ENCER. Dia Albert Einstein. Tokoh favoritku sepanjang sejarah, tokoh yang sangat menginspirasiku untuk berusaha lebih mencintai Matematika, tetapi kenapa ? kenapa kecerdasannya tak menurun sedikitpun padaku ?? God—God...
“Dapet merah lagi ya, Dan ?” tanya Nikko teman sebangkuku dengan nada prihatin, aku hanya mengedikkan bahu. Kulirik kertas ulangan miliknya dan wajar jika aku langsung iri dibuatnya, nilai 90 tercetak besar-besar disana. 90, wow keren boo !!!
“Gue pengen kayak elo, Nik ? elo itu manusia kan ? makanan lo tiap harinya apa sih kok bisa pinter kayak gini ? sumpah gue envy berat sama elo.” celotehku putus asa, Nikko hanya terkekeh mendengarnya.
“Sabar mamen, gue bukan manusia super, bro, gue cuman budak Tuhan yang kecil dan tidak ada apa-apanya sama seperti lo. Udah deh, disini yang berperan itu elo, elo itu tokoh utamanya, elo kuncinya, jadi cuman elo yang bisa ngendaliin semuanya. Kalo elo mau lo pasti bisa, tapi kalo emang dasarnya elo udah ciut duluan, males, belum apa-apa udah bilang ‘gak bisa’ ya akhirnya elo jadi gak bisa beneran.” Petuah Nikko, aku cuman manggut-manggut mendengarnya. Inilah yang aku suka, seorang Dana Putra Pratama, paling senang jika dirinya dinasehati karena nasehat adalah bukan hanya sekedar ‘omongan sampah’ yang gak berguna, tetapi nasehat bagaikan obat yang khasiatnya sungguh luar biasa dan sangat bermanfaat untuk mengembalikan semangat yang sempat down.
“Anak-anak, bapak sangat kecewa melihat hasil ulangan kalian. Dari semua murid yang ada di kelas ini cuman satu orang saja yang mendapat nilai A, oleh sebab itu besok bapak akan adakan test ulang dan bapak harap nilai kalian bisa lebih baik lagi !!” teriak pak Agus dari depan kelas “Oya, khusus untuk Nikko bapak bebaskan untuk tidak mengikuti test ulang.” Semua murid langsung heboh dibuatnya, mereka sangat kagum pada sosok Nikko.
“Elo emang the best, Nik, gue bangga punya temen kayak elo,” Ujarku sambil menepuk pelan pundaknya. “Thank’s atas semua petuah elo, gue akan mengingatnya terus.” Ujarku sembarai mengacungkan ibu jariku. Nikko balas tersenyum kearahku.
“Ini kesempatan elo, Dan, elo kudu tunjukin kalo elo bisa naklukin ‘si monster’. Lo jangan mau kalah sama gue.” Ia balas menepuk pundakku bersahabat.
###
Malam harinya aku belajar seserius mungkin demi mendapat nilai yang lebih baik, demi mengalahkan ‘si monster matematika’. Rumus matematika kupelajari semua, latihan-latihan soal di buku paket ludes terjawab hingga akhirnya tanpa sadar aku tertidur pada posisi tengkurap dengan masih menggenggam pensil dan buku cetak matematika yang masih terbuka lebar didepanku.
Setelah selesai test, pak Agus langsung mengoreksi hasilnya dan tepat setelah jam istirahat pertama, hasil ulangan itu sudah dibagi-bagikan oleh ketua kelas. Aku tercenung menatap lembaran itu, memang bukan angka 50 lagi yang kudapat, melainkan 60 yang tertera disana. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari samping, aku menoleh kearahnya sekilas. Lagi-lagi Nikko mengulumkan senyumnya kepadaku.
“Jangan sedih, anggap aja ini proses. Perlahan-lahan, namun pasti kawan.” Ujarnya menenangkan.
Ya ini merupakan proses, perubahan walaupun sedikit tetapi bermakna daripada tidak berubah sama sekali. Makasih, Nikko Ardiansyah, berkat elo gue telah sedikit banyak mampu mengalahkan ‘si monster’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar